7 Mitos Misteri Gunung Lawu dan Pantangannya
7 Mitos Misteri Gunung Lawu dan Pantangannya

7 Mitos Misteri Gunung Lawu dan Pantangannya

HarianLampung.co.id – Kebakaran yang melanda kawasan hutan gunung lawu memang bisa dikatakan menjadi bagian yang hampir terjadi disetiap tahun terlebih dimusim kemarau, namun tahun ini kebakaran rupanya turut menelan korban jiwa dimana 7 orang pendaki dinyatakan meninggal dunia.

Kisah misteri keangkeran gunung lawu memang sering dikait-kaitkan dengan beberapa peristiwa yang terjadi disekitara gunung tertinggi kelima di pulau jawa tersebut.

Lantaas apa saja mitos mistis maupun pantangan dari Gunung Lawu itu sendiri.

7 Mitos Misteri Gunung Lawu dan Pantangannya

1. Peristirahatan Brawijaya V

Gunung kelima tertinggi di Pulau Jawa itu merupakan peristirahatan terakhir raja Majapahit penghabisan yakni Prabu Brawijaya V. Namun anehnya tak satupun ditemukan jasad sang prabu. Dia disinyalir menghilang bersama raganya alias moksa. Sang prabu ditemani abdi dalemnya yang setia yakni Kyai Jalak. Sama seperti tuannya, Kyai Jalak juga bermoksa dan menjelma menjadi burung Jalak sesuai namanya. Namun Jalak jelmaan kyai bukan berwarna hitam melainkan gading. Tak semua pendaki bisa bertemu dengan Jalak ini.

2. Kyai Jalak

Kyai yang menjelma sebagai jalak gading ini dipercaya memberikan petunjuk bagi pendaki untuk sampai ke puncak. Namun bagi pendaki yang dikehendaki oleh Jalak Lawu ini. Sebaliknya, jika pendaki itu tak memiliki hati bersih, Jalak Lawu tidak akan muncul. Pendaki biasanya tidak akan sampai puncak sebab tak memiliki restu dari Kyai Jalak.

3.Terjadi seperti perkataan

Gunung Lawu seolah memiliki nyawa yang bisa mendengar setiap kata-katamu. Apa pun yang kamu keluhkan biasanya terwujud. Jika kamu mengatakan kelelahan mendaki Lawu, kamu benar-benar dibuat lelah. Jika kamu mengatakan sangat dingin, kamu bisa dibikin kedinginan.

4. Pasar Setan

Pasar Setan ternyata tidak hanya terdapat di Gunung Merapi. Pasar mistis ini juga diyakini ada di Gunung Lawu. Pasar ini tak terlihat dengan mata biasa namun terdengar keramaian. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendengarnya. Jika kamu mendengar suara ‘arep tuku apa mas/mbak?’ (mau beli apa mas/mbak), sebaiknya kamu membuang uangmu, berapa pun nilainya. Lalu petiklah daun seperti sedang berbelanja. Jika ini tak dilakukan, konon kamu bakal menghadapi masalah di Lawu.

5.Kupu-kupu hitam dan bulatan biru

Kupu-kupu hitam dengan bulatan biru di sayapnya. Kalau kamu melihat kupu-kupu ini pertanda kamu diterima baik di gunung tersebut. Bahkan beberapa orang mempercayai ketemu berkah setelah pulang mendaki. Namun jangan sampai menangkap, mengusir, mengganggu, bahkan membunuh si kupu-kupu, ya. Penunggu Lawu bisa murka sama kamu!

6.Pantangan busana hijau

Pantangan lain yakni dilarang memakai busana berwarna hijau daun. Hijau merupakan busana ratu Pantai Selatan yakni Kanjeng Ratu Kidul yang tak sembarangan dipakai di Jawa.

7. Rombongan jumlah ganjil

Anda yang hendak mendaki Gunung Lawu, diimbau jangan pernah mendaki Gunung Lawu dengan rombongan berjumlah ganjil. Konon hal itu bisa mendatangkan kesialan

Baca Juga: Korban Kebakaran Gunung Lawu


Nuri Agustina on facebook
Nuri Agustina
Berawal dari banyaknya isu rasis yang berkembang dan saya alami dibangku sekolah, tentunya bayang-bayang akan perpecahan dikalangan masyarakat tanah air yang nota bene memiliki banyak sekali suku dan budaya seringkali menganggu jalan fikiran, hal tersebut yang mendorong saya untuk terus berkarya di kategori Nasional dengan harapan tak ada lagi isu seperti itu dan kembali membangkitkan semangat Nasionalisme.

Komentar Facebook