Hari Raya Qurban Idul Adha, Niat Puasa Arafah dan Doa 10 Dzulhijjah
niat puasa arafah

Hari Raya Qurban Idul Adha, Niat Puasa Arafah dan Doa 10 Dzulhijjah

Niat dan Doa Puasa Arafah (Idul Adha) 10 Dzulhijjah

HarianLampung.co.id – Idul Adha atau yang lebih dikenal sebagai hari raya kurban tak terasa sudah didepan mata, perjuangan ibadah haji yang dilakukan oleh saudara muslim kita akan berbuah sebuah kemenangan yang dirayakan dengan gema takbir.

Hari raya Idul Adha sendiri sebenarnya memiliki arti luas, seperti yang dikutip HarianLampung.co.id dari laman Wikipedia, Selasa (21/09/2015), Idul Adha (di Republik Indonesia, Hari Raya Haji, bahasa Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.

Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.

Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.

Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Terkadang Idul Adha disebut pula sebagai Idul Qurban atau Lebaran Haji.

Penetapan Idul Adha

Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah Haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:
“     Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah.     ”

—HR At Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Baihaqi, ad Daruquthni, Ahmad, dan al Hakim. Al Hakim berkomentar, “Hadits ini sahih, sekalipun dia berdua [Bukhari-Muslim] tidak mengeluarkannya”.

Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:
“     Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka.     ”

—HR Abu Dawud, al Baihaqi dan ad Daruquthni. Ad Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”

Hadits ini menjelaskan: Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan pada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan haji dilaksanakan untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada amir Makkah.

Makna yang selanjutnya adalah, menyadari bahwa pada hakikatnya yang memiliki puja dan pujia tak lain hanyalah Allah SWT. Makna Idul Adha yang keempat adalah menyadiri akan manusia ini yang mengibaratkan sedang hijrah ataupun sedang berpergian. Serta Idul Adha bermakna untuk menyadari kembali akan nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada seluruh hambanya.

Niat Puasa Sunah Tanggal 1 – 7 Dzulhijjah

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Latin : “NAWAITU SHAUMA SYAHRI DHILHIJJATI SUNNATAN LILLAAHI TA’AALA”

Artinya : Aku niat puasa sunnah di bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala

Niat Puasa Tarwiyah Tanggal 8 Dzulhijjah

نَوَيْتُ صَوْمَ التَّرْوِيَةَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Latin : “NAWAITU SHAUMAT TARWIYATA SUNNATAN LILLAAHI TA’AALA”

Artinya: Aku niat puasa sunnah tarwiyah karena Allah Ta’ala

Niat Puasa Arafah Tanggal 9 Dzulhijjah

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Latin : “NAWAITU SHAUMA ‘AROFATA SUNNATAN LILLAAHI TA’AALA”


Imam Bukhori on twitterImam Bukhori on facebook
Imam Bukhori
Dibesarkan dari kalangan sederhana membuat sosok Imam tumbuh menjadi seorang yang haus akan perubahan terurama disisi teknologi, terlebih dimana saat ini berada di perkembangan pesat teknologi membuat mata saya terbuka akan semua hal yang berkaitan dengan inovasi terbaru maupun membandingkan hal-hal yang berbau teknologi, tak pelak saya sebagai penulis HarianLampung.co.id lebih berfokus terhadap kategori Teknologi.

Komentar Facebook