Ini Kronologi Jatuhnya “Crane” di Masjidil Haram
Jatuhnya Crane di Masjidil Haram

Ini Kronologi Jatuhnya “Crane” di Masjidil Haram

HarianLampung.co.id – Berita santer megnenai korban jiwa akibat jatuhnya Crane atau alat berat yang tengah mengerjakan penyelesaian di Masjidil Haram, Mekkah terus bertambah, Jumat (11/09/2015). Kejadian bermula saat Masjidil Haram tengah diterpa hujan deras diliputi angin kencang (badai) tersebut dan tiba-tiba terdengan dentuman seperti petir yang kemudian diiringi dengan robohnya beberapa bangunan.

Menurut informasi yang dikutip HarianLampung.co.id dari Kompas.com, Sesaat setelah itu, aparat Mekkah pun datang ke lokasi. Para jemaah yang selamat pun dilaporkan sempat mendekati lokasi kejadian dan memeriksa apakah ada anggota keluarga atau rekan yang turut menjadi korban.

Tim medis pun segera melarikan para korban tewas dan korban luka ke rumah sakit-rumah sakit terdekat. Di sana, mereka mendapatkan perawatan.

Saat ini, lokasi Masjidil Haram telah disterilkan. Tak ada jemaah yang boleh beraktivitas di sana untuk sementara waktu.

87 meninggal, 184 luka

Akibat peristiwa ini, sebanyak 87 jemaah dilaporkan meninggal dan 184 orang lainnya menderita luka-luka. Sebanyak dua dari 87 korban meninggal berasal dari Indonesia. Keduanya berasal dari embarkasi Sumatera Utara dan Jawa Barat.

Tak hanya itu, lebih dari 20 jemaah asal Indonesia pun turut menjadi korban luka.

“Jemaah asal Indonesia ditangani dengan baik. Penanganan cepat sekali. Korban datang, langsung ditangani,” ujar Anwar, jemaah asal Indonesia, kepada Metro TV, Jumat.

Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah telah bergerak menuju Mekkah untuk mendampingi para korban luka asal Indonesia.

Proyek jangka panjang

Pemerintah setempat memang tengah melakukan perluasan tempat ibadah tersebut menjadi 400.000 meter persegi. Alat-alat berat proyek tersebut tampak di sekeliling masjid. Ketika rampung, Masjidil Haram yang baru diperkirakan dapat menampung 2,2 juta jemaah. Proses ini akan rampung pada 2016.

Saat ini, Masjidil Haram “hanya” mampu menampung sekitar 800.000 jemaah setiap tahunnya.

Selama musim ibadah haji, para jemaah dilaporkan memadati masjid tersebut pada hari Jumat. Waktu terpadat ialah saat shalat maghrib hingga tengah malam. Alasannya, cuaca di sana bersahabat ketika waktu tersebut.


Nuri Agustina on facebook
Nuri Agustina
Berawal dari banyaknya isu rasis yang berkembang dan saya alami dibangku sekolah, tentunya bayang-bayang akan perpecahan dikalangan masyarakat tanah air yang nota bene memiliki banyak sekali suku dan budaya seringkali menganggu jalan fikiran, hal tersebut yang mendorong saya untuk terus berkarya di kategori Nasional dengan harapan tak ada lagi isu seperti itu dan kembali membangkitkan semangat Nasionalisme.

Komentar Facebook