Prestasi Membanggakan Untuk Indonesia Dari Tatang Koswara
Prestasi Membanggakan Untuk Indonesia Dari Tatang Koswara

Prestasi Membanggakan Untuk Indonesia Dari Tatang Koswara

Harianlampung.co.id – Prestasi Membanggakan Untuk Indonesia Dari Tatang Koswara. Pengalaman seorang Penembak jitu (Sniper) sepertinya sangat serius, dengan mengolah fisik yang kuat serta pengelihatan yang tajam. Kisah tersebut yang dialami mantan penembak jitu dari Indonesia Tatang Koswara, yang kabar terbarunya wafat setelah menghadiri acara Hitam Putih 03 Maret 2015 kemarin.

Dalam kehidupan militer beliau sangat memanfaatkan pelajaran yang dipelajari dari kampung yang semuanya berhubungan dengan mental, fisik, serta latihan alam. Tidak dilupakan juga ketika beliau masih mempelajari teknik berenang maupun menembak untuk kelangsungan dalam pekerjaanya di kemiliteran.

Alhasil selama beliau mempelajari pelatihan tersebut ditunjuk dalam program Mobile Training Teams (MTT) bersama tujuh rekannya yang dipimpin Green Berets asal Amerika Serikat pada tahun 1997 – 1975. Pada tahun tersebut Indonesia juga mempersiapkan dan melatih 4 kesatuan Kopassus (AF), Marinir (AL), Paslhas (AU) serta Brimob (Polri) untuk menjadi pasukan antiteror bahkan sniper.

Pelatihan yang dilakukan oleh kapten Conway membawa Tatang Koswara beserta tujuh rekan lainnya untuk belajar menembak jarak jauh sekitar 300, 600, dan 900 meter, selain itu berrtempur melawan penyusup, sniper, kamuflase serta pencari jejak yang harus dimiliki oleh beliau beserta rekannya. Kemampuan yang diberikan tersebut ternyata tidak sia – sia.

Perjalanan tersebut membawa Tatang Koswara menjadi pengawal pribadi Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdiktif) dibawah pimpinan Kolonel Edi Sudrajat. Tatang Koswara juga mendapatkan senjata “Bolt-action Rifle of the Century” yang memiliki keakuratan 900 meter. Ini dia tugas rahasia yang diberikan kepada Tatang Koswara beserta rekannya yang kutip dari Kompas.com,

Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang dan Ginting). Pertama, melumpuhkan empat kekuatan musuh, yaitu sniper, komandan, pemegang radio, dan anggota pembawa senjata otomatis. Kedua, menjadi intelijen. Intinya masuk ke jantung pertahanan, melihat kondisi medan, dan melaporkannya ke atasan yang menyusun strategi perang. Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jatuhnya korban. “Lawan kita itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya kemampuan gerilya yang hebat, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban,” ujarnya. Dan akhirnya kemenangan yang diraih oleh Tatang Koswara beserta rekannya, dan Prestasi tersebeut telah membanggakan Indonesia.


Activian Grapiter on facebook
Activian Grapiter
Sebagai seorang penggiat seni tentunya dituntun memiliki gaya berfikir luas dan terbuka, hal tersebut coba saya aplikasikan kedalam hidup dimana kemandirian dari seorang penggiat seni juga menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan bukan hanya dari sisi kesenian, hal tersebut yang membuat saya tertarik untuk terus berinovasi bersama ide yang saya miliki untuk mengembangkan dalam dunia sastra khususnya menulis.

Komentar Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *