Media Inspirasi Masa Kini
News  

Harga Emas Hari Ini, Selasa 3 Oktober 2023: Ambles Kembali

Cek Harga Emas Antam dan UBS Hari Ini di Pegadaian, Kamis, 24 Maret 2022

HarianLampung.co.id – Simak informasi terkini dari Harga Emas Hari Ini, Selasa 3 Oktober 2023: Ambles Kembali. Pada awal pekan ini, Senin (2/10/2023), harga emas di pasar spot ditutup pada level US$ 1.827,40 per troy ons, mengalami penurunan sebesar 1,13%.

Ini merupakan titik terendah sejak 8 Maret 2023 atau hampir tujuh bulan yang lalu.

Harga emas telah merosot ke level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Penurunan harga emas ini disebabkan oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan yang masih hawkish dari bank sentral Amerika Serikat (AS) di masa yang akan datang.

Tren penurunan harga emas semakin memperdalam penderitaan logam mulia ini, yang telah merosot sejak Senin pekan lalu. Dalam enam hari perdagangan terakhir, harga emas telah turun sebanyak 5,07%.

Penurunan harga emas juga masih berlanjut hari ini, Selasa (3/10/2023), pukul 08:18 WIB, dengan harga emas berada di posisi US$ 1.822,79 per troy ons, mengalami penurunan sebesar 0,25%.

Semua ini terjadi karena pasar melihat bahwa The Fed masih akan menjaga kebijakan hawkish-nya di masa yang akan datang.

Alat FedWatch Tool menunjukkan bahwa sekitar 28,8% pelaku pasar memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada bulan November mendatang.

Angka ini jauh lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang hanya mencapai 14%.

Keyakinan pasar semakin kuat setelah data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi AS masih dalam kondisi panas.

Data ISM Manufacturing PMI menunjukkan bahwa indeks mencapai angka 49 pada bulan September 2023, lebih tinggi dari angka 47,6 pada bulan Agustus dan di atas konsensus pasar sebesar 47,8.

Data ISM Manufacturing dari S&P Global juga menunjukkan bahwa indeks mencapai angka 49,8 pada bulan September, lebih tinggi dari angka 47,9 pada bulan Agustus.

Meskipun PMI Manufacturing belum mencapai tingkat ekspansi, namun angka ini terus meningkat karena permintaan yang masih tinggi.

Semua ini mengindikasikan bahwa ekonomi AS masih kuat, sehingga kemungkinan inflasi akan sulit turun.

Sejumlah pejabat The Fed juga terus mengungkapkan pandangan hawkish mereka. Gubernur The Fed Michelle Bowman, dalam pernyataannya kemarin, menyatakan bahwa ia akan mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang jika data menunjukkan bahwa inflasi melambat dengan sangat lambat.

Ekspektasi akan kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed telah membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melonjak.

Indeks dolar masih bergerak di kisaran 106, mencapai level tertinggi sejak November 2022 atau 10 bulan yang lalu.

Imbal hasil pada US Treasury melonjak hingga mencapai kisaran 4,6% dalam perdagangan kemarin. Ini merupakan posisi tertinggi sejak 16 Oktober 2007 atau dalam 16 tahun terakhir.

Penguatan dolar AS membuat harga emas semakin mahal untuk dibeli, sehingga membuatnya kurang menarik untuk investasi.

Selain itu, logam mulia ini juga tidak menawarkan imbal hasil, sehingga menjadi kurang menarik ketika imbal hasil US Treasury naik.

“Salah satu faktor yang terus menekan harga emas adalah kesadaran pasar bahwa The Fed kemungkinan akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” kata Carlo Alberto De Casa, seorang analis dari Kinesis Money, seperti yang dikutip dari Reuters.

Dengan demikian, tampaknya emas akan tetap tertekan dalam jangka pendek.

“Emas sepertinya akan tetap mengalami tekanan. Ada kemungkinan besar bahwa harga emas bisa turun hingga mencapai level US$ 1.800,” tambahnya.

Salah satu alasan lain mengapa harga emas sulit untuk naik adalah berkurangnya pembelian emas oleh bank sentral.

Seperti yang kita ketahui, bank sentral telah melakukan pembelian besar-besaran emas sepanjang Januari-Juli, namun diproyeksikan akan melambat pada bulan Agustus 2023.

Data dari bulan Juli 2023 menunjukkan bahwa bank sentral di seluruh dunia terus menambah cadangan emas mereka, dengan pembelian bersih mencapai 55 ton dalam satu bulan saja.

“Menghilangnya pembelian emas oleh bank sentral tampaknya telah membuat harga emas jatuh, terutama setelah imbal hasil US Treasury terus meningkat,” kata Marios Hadjikyriacos, seorang analis dari XM.

Temukan Artikel Viral kami di Google News