JAKARTA, KOMPAS.com – Sekitar 363.326 anak di Indonesia dilaporkan mengalami gejala depresi, demikian data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia periode 2025–2026. Angka ini merepresentasikan 4,8 persen dari total pelajar di tanah air yang menunjukkan tren peningkatan masalah stres dan gangguan mental pada remaja dalam beberapa tahun terakhir.
Psikolog Rumah Sakit St. Elisabeth Semarang, Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si., mengaitkan peningkatan stres pada remaja dengan kompleksitas dinamika keluarga, pengaruh media sosial, dan tekanan sosial yang kian masif.
“Stres itu normal, tapi ketika terus-menerus dan tidak tertangani, bisa berkembang ke arah depresi atau bahkan psikosomatis,” jelas Probowatie saat diwawancarai Kompas.com pada Rabu (22/4/2026).
Tantangan Mental di Era Digital dan Ketidakpastian
Menurut Probowatie, faktor penyebab stres pada generasi kini jauh lebih rumit dibandingkan sebelumnya. Selain beban akademik dan ekspektasi orangtua, kehadiran internet dan praktik cyberbullying turut menambah beban emosional remaja secara signifikan.
Lebih lanjut, faktor eksternal seperti ketidakpastian politik dan ekonomi juga disebut memengaruhi kondisi batin para remaja. Di kawasan perkotaan, standar gaya hidup yang tinggi sering kali menciptakan jurang kesenjangan antara harapan dan realitas yang dialami remaja.
“Kesenjangan ini membuat stres muncul. Kadang remaja dikira ‘malas’ padahal mereka sedang kelelahan mental,” ungkapnya.
Waspadai Gejala Psikosomatis
Salah satu dampak nyata dari stres yang terpendam adalah munculnya psikosomatis. Kondisi ini ditandai dengan keluhan fisik seperti pusing, mual, atau nyeri tubuh tanpa adanya penyebab medis yang jelas.
Probowatie kerap menemukan pasien yang datang dengan keluhan fisik, namun setelah pemeriksaan ternyata bersumber dari konflik keluarga atau tekanan pribadi yang telah lama dipendam.
“Di sinilah peran keluarga sangat menentukan. Keluarga adalah sekolah paling awal. Kalau di rumah anak merasa aman dan didengar, maka ketahanan emosinya jauh lebih kuat,” kata Probowatie.
Pola Asuh: Kurangi Larangan, Perbanyak Dialog
Probowatie menyarankan agar orangtua mengubah pola asuh yang cenderung memberikan larangan tanpa penjelasan. Pola asuh yang terlalu overprotective atau menyalahkan justru berpotensi membuat remaja menarik diri.
“Jangan terlalu langsung mengatakan ‘jangan main HP’. Lebih baik tanya dulu apa yang dia rasakan, lalu diskusikan risikonya. Biarkan anak merasa punya hak bicara,” tuturnya.
Pendekatan yang seimbang antara kontrol dan kebebasan dinilai dapat membantu remaja menjadi lebih kritis dan realistis dalam menghadapi realitas, alih-alih sekadar mengikuti tren viral di media sosial.
Sebagai langkah pencegahan, orangtua diingatkan untuk lebih peka terhadap perubahan pola makan, tidur, atau perilaku anak. Komunikasi dua arah dianggap sebagai kunci utama sebelum kondisi mental berkembang menjadi depresi atau perilaku berisiko.
“Orangtua tidak selalu benar, anak juga tidak selalu salah. Kita harus belajar bersama,” ujar dia.






