Global

AS-Iran Perlu Berunding dengan Tenang, Trump Disebut Terlalu Bertele-tele

Advertisement

Amerika Serikat dan Iran sebaiknya mengesampingkan kebisingan media dan melakukan negosiasi secara tenang untuk mencapai kesepakatan. Pernyataan publik dan unggahan media sosial Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai berpotensi merusak upaya perundingan dengan Teheran.

Jasmine El-Gamal, mantan penasihat Timur Tengah di Departemen Pertahanan AS, berpendapat bahwa Iran sebenarnya siap untuk duduk dan membahas berbagai persoalan. Namun, Presiden Trump dinilainya terlalu banyak bertele-tele dalam pernyataannya.

“Pihak Iran ingin duduk dan mulai membicarakan berbagai masalah, sementara Presiden (Trump) terus bertele-tele,” ujar El-Gamal kepada CNN, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan bahwa Trump seolah berusaha menciptakan narasi bahwa Iran telah menyerah dan tunduk sebelum negosiasi dimulai. “Presiden (Trump) mencoba membuat seolah-olah Iran telah menyerah dan tunduk bahkan sebelum mereka sampai ke meja perundingan,” sambungnya.

Komentar El-Gamal ini muncul setelah serangkaian unggahan Presiden Trump di media sosial yang dilaporkan merugikan perundingan. El-Gamal meyakini, aktivitas daring presiden tersebut lebih merupakan pertunjukan superioritas di depan umum yang tidak mencerminkan realitas di lapangan antara kedua negara.

“Masalahnya tetap sama, yaitu kedua pihak masih sangat jauh berbeda pendapat di meja perundingan, dan masing-masing pihak harus membuat konsesi tertentu,” jelas El-Gamal.

Menurutnya, cara terbaik untuk mencapai kesepakatan adalah dengan bernegosiasi secara tenang dan terhindar dari sorotan media. “Dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan bernegosiasi secara tenang, jauh dari sorotan media, dan mencapai kesepakatan kerangka kerja,” ujarnya.

AS dan Iran Masih Menunggu

Sementara itu, Washington dan Teheran masih belum menunjukkan kepastian mengenai kelanjutan negosiasi putaran kedua. Pakistan sendiri telah menyatakan kesiapan untuk menjadi tuan rumah perundingan di tingkat tertinggi yang rencananya diselenggarakan pada Rabu (22/4/2026).

Advertisement

Namun, Gedung Putih masih bungkam mengenai kapan Wakil Presiden AS, JD Vance, akan bertolak dari Washington. Vance direncanakan akan terbang bersama utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, serta menantu Presiden Trump, Jared Kushner.

Rencana pertemuan ini sangat bergantung pada kesediaan Iran untuk kembali ke meja perundingan. Stasiun televisi Pemerintah Iran pada Selasa (21/4/2026) melaporkan bahwa belum ada delegasi dari Teheran yang berangkat ke Pakistan untuk bernegosiasi dengan AS.

“Sejauh ini, belum ada delegasi dari Iran yang berangkat ke Islamabad, Pakistan; baik itu delegasi utama maupun delegasi tambahan, primer maupun sekunder,” kata stasiun televisi pemerintah, sekaligus menepis laporan yang menyatakan sebaliknya.

Stasiun televisi tersebut mengutip pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, yang menyatakan bahwa kehadiran Iran di meja perundingan bergantung pada perubahan sikap dan posisi Amerika Serikat. Laporan Al Jazeera pada Selasa (21/4/2026) menyebutkan, para pejabat Pakistan mengonfirmasi tidak ada tim delegasi tingkat tinggi di lapangan, namun staf pendukung telah tiba beberapa hari terakhir.

Kendala utama tampaknya terletak pada prasyarat Iran untuk mengakhiri blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2026/04/21/184000370/as-iran-perlu-berunding-dengan-tenang-trump-disebut-terlalu-bertele

Advertisement