WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Amerika Serikat (AS) mengklaim telah mengidentifikasi pihak di dalam Iran yang bersedia menyepakati akhir dari konflik yang sedang berlangsung. Pernyataan ini disampaikan di tengah deteksi adanya perpecahan internal dalam rezim Iran oleh para pejabat AS.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan keyakinan pemerintahnya dalam mengetahui siapa di Iran yang akan menyetujui kesepakatan tersebut. Namun, ia memilih untuk tidak merinci identitas individu tersebut, menyerahkan kewenangan pemberian informasi lebih lanjut kepada komunitas intelijen dan Presiden AS Donald Trump.
Ketika ditanya oleh CNN mengenai pemahaman pemerintah AS terhadap pihak yang berwenang dalam pengambilan keputusan akhir, Leavitt mengonfirmasi bahwa Gedung Putih dan komunitas intelijen memiliki pemahaman yang baik. “Namun, kami ingin melihat tanggapan yang terpadu dan usulan yang terpadu,” tegasnya.
Laporan CNN mengindikasikan bahwa salah satu hambatan utama dalam negosiasi adalah ketidakpastian terkait Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, serta arahan yang telah ia berikan kepada tim negosiasi. Pejabat AS dilaporkan belum mengetahui secara pasti apakah Khamenei telah memberikan instruksi yang jelas atau apakah tim negosiasi hanya perlu menebak keinginannya.
Tidak Ada Batas Waktu untuk Perang Iran
Presiden Donald Trump pada Rabu (22/4/2026) waktu setempat menegaskan bahwa tidak ada batas waktu yang ditentukan untuk perang dengan Iran. Ia juga membantah anggapan bahwa pertimbangan politik memengaruhi pendekatannya dalam menyelesaikan konflik tersebut.
Menjawab pertanyaan mengenai kapan perang tersebut kemungkinan akan berakhir, Trump menyatakan, “Tidak ada batas waktu dan tidak ada terburu-buru.”
“Orang-orang bilang saya ingin segera menyelesaikan ini karena pemilihan paruh waktu, itu tidak benar,” ujar Trump, seperti dikutip dari CNN, Kamis (23/4/2026). Ia menambahkan bahwa pemerintahannya berupaya mendapatkan kesepakatan yang menguntungkan rakyat Amerika.
Sebelumnya, Trump pernah menyatakan bahwa perang ini akan berlangsung selama empat hingga enam minggu. Namun, kini konflik tersebut telah memasuki minggu ketujuh.
Pemerintah AS tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, bahkan ketika Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa menentukan tanggal berakhirnya. AS juga terus mendesak Teheran untuk mengajukan proposal yang terpadu guna menghidupkan kembali proses negosiasi.






