Edukasi

Kisah Alumnus ITB, Shana “Kartini Masa Kini” yang Upayakan Air Bersih di Daerah 3T

Advertisement

Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini untuk hak-hak perempuan di era modern terus bergema, salah satunya melalui kiprah Shana Fatina, seorang alumnus Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2004. Ia dinilai mampu merepresentasikan perempuan yang memiliki kemampuan memimpin, ketangguhan, dan memberikan dampak positif di tengah berbagai tantangan.

Selama masa studinya di ITB, Shana aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Ia pernah terlibat dalam Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) ITB, Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), serta unit kegiatan mahasiswa seperti Apres! ITB, LFM ITB, dan ITB Student Orchestra. Jiwa kepemimpinannya mulai terasah ketika ia menjabat sebagai Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITB perempuan pertama pada periode 2008/2009.

Fokus karier Shana berpusat pada pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Salah satu kontribusinya adalah penyediaan akses air bersih di daerah-daerah tersebut. Ia meyakini bahwa kontribusi sekecil apapun akan sangat berharga jika diawali dengan kesadaran untuk berbuat lebih bagi lingkungan sekitar.

Shana dikenal sebagai Founder dan CEO dari social enterprise Komodo Water. “Tolong bantu berbuat lebih dari untuk diri sendiri, berapa pun nilainya itu, itu akan berharga sekali,” ujar Shana, dikutip dari situs ITB, Selasa (21/4/2026).

Menghadapi Keraguan dan Penolakan

Pada periode 2019-2024, Shana menjabat sebagai President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority. Ia mengungkapkan bahwa menduduki posisi strategis tidak selalu mulus. Shana pernah menghadapi keraguan bahkan penolakan, sebagian karena ia seorang perempuan.

“Banyak penolakan, banyak yang meragukan. Tapi itu justru membuat saya lebih matang untuk menunjukkan apa yang ingin kita bangun,” tuturnya. Ia mampu mengubah tantangan tersebut menjadi proses pembelajaran yang mendewasakannya dalam mengambil keputusan.

Shana menekankan pentingnya perluasan peran perempuan dalam kepemimpinan untuk menciptakan keseimbangan. “Menurut saya, posisi perempuan dalam kepemimpinan perlu semakin diperluas agar tercipta keseimbangan,” kata Shana.

Advertisement

Ia juga mengakui bahwa memiliki tim yang solid dan tujuan kerja yang jelas merupakan faktor krusial dalam setiap langkah yang diambil.

Integritas dan Lingkungan Kerja Inklusif

Dalam perjalanan kariernya, Shana menempatkan integritas sebagai nilai utama yang selalu dijaga. Baginya, integritas bukan sekadar prinsip kerja, melainkan identitas diri yang tak terpisahkan.

“Integritas itu penting karena itu adalah identitas kita. Itu tidak akan berubah sampai kapan pun,” tegas Shana.

Selain itu, Shana berpendapat bahwa bekerja sama dengan individu yang memiliki visi dan misi yang sama adalah kunci keberhasilan. “Bukan tentang seberapa besar kita mulai, tapi seberapa dalam kita mau memahami,” ujarnya.

Sumber: http://www.kompas.com/edu/read/2026/04/22/080300371/kisah-alumnus-itb-shana-kartini-masa-kini-yang-upayakan-air-bersih-di-daerah

Advertisement