BOGOR, KOMPAS.com – Di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Kartini yang setiap tahun mengingatkan pada perjuangan emansipasi wanita dan pendidikan, kisah Siti Maesaroh (49) di Bogor Utara menjadi cerminan nyata semangat juang perempuan Indonesia yang tak pernah menyerah pada nasib.
Siti Maesaroh memilih untuk melepas sebagian besar hartanya demi kesembuhan sang suami yang telah berjuang melawan stroke sejak 2016, sembari tetap menafkahi kedua anaknya. Baginya, perjuangan ini adalah caranya merefleksikan warisan tekad Raden Ajeng Kartini.
Rutinitas Siti dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Pukul 04.00 WIB, alarm dalam tubuhnya sudah berbunyi, bukan dari gawai, melainkan panggilan tugas merawat sang suami yang berusia 54 tahun. “Kalau lagi ada kegiatan mau ke rumah sakit, karena kita punya orang sakit, masak air. Masak lah sebelum solat subuh, bantuin ayah mandi juga,” ujar Siti Maesaroh saat ditemui Kompas.com di kediamannya di Bogor Utara, Selasa (21/4/2026).
Setelah memastikan suaminya terurus, perhatian Siti beralih pada kedua anaknya, Rangga (24) dan Sella (16), yang harus disiapkan sarapannya sebelum berangkat sekolah. “Ngurus yang sakit, yang sekolah, semuanya. Sudah jadi kepala keluarga,” tuturnya, menunjukkan tanggung jawab ganda yang dipikulnya.
Setiap jadwal kontrol dokter saraf untuk suaminya tercatat rapi dalam buku catatan utang warungnya. Namun, realitas ekonomi memaksa pengobatan fisioterapi harus terhenti. “Fisioterapi udah enggak ambil karena kita kepentok sama ongkos, itu seminggu dua kali, kalau ongkos enggak ada ya enggak berangkat,” jelas Siti.
Ketika rezeki memungkinkan, Siti berupaya memberikan terapi alternatif seperti akupunktur dan fisioterapi, dengan biaya yang tidak sedikit, sekitar Rp 150.000 untuk ongkos ojek daring dan jasa terapis. Pernah pula ia memanggil jasa akupunktur ke rumah seharga Rp 200.000, dengan harapan pemulihan cepat. “Ternyata belum juga, totok saraf juga kalau manggil harganya sama sudah berkali-kali. Badan sudah membaik, cuma jalan belum normal,” keluhnya.
Tak hanya terapi, asupan gizi bagi suaminya juga menjadi prioritas utama. “Yang penting saya mah sekarang prinsipnya gini, untuk dia (suami) saya utamain gizinya supaya tetap stabil daripada terapi terus tapi asupan gizi kurang, percuma,” tegas Siti.
Jual Aset Demi Kesembuhan Suami
Perjuangan Siti semakin berat mengingat suaminya telah mengalami dua kali serangan stroke, pada tahun 2016 dan 2022. Pada serangan kedua, Siti terpaksa merelakan aset berharga miliknya, termasuk tanah seluas ribuan meter persegi dan puluhan gram emas, demi pengobatan sang suami. “Habis dua kebun, tabungan udah enggak ada, simpenan emas udah ke jual habis-habisan maksudnya. Dulu punya tabungan, simpenan emas berapa puluhan gram habis pokoknya. Habis buat berobat,” ungkapnya.
Dua bidang tanah yang dijual masing-masing seluas sekitar 2.500 meter persegi. Tanah pertama menghasilkan Rp 35 juta yang sebagian dibagikan kepada keluarga suami, sementara tanah kedua terjual Rp 60 juta. “Satu tempat lagi dapet 60 juta, seperempat hektar di jual, habis dipakai buat pengobatan. Itu bagian dia (suami),” jelasnya.
Meskipun berat hati, Siti meyakini keputusan ini harus ditempuh. “Biarlah kita makan apa adanya, yang penting dia bisa jalan,” ujarnya penuh harap.
Saat ini, biaya hidup keluarga Siti Maesaroh sangat bergantung pada hasil panen kebun yang didapat empat bulan sekali, dengan pendapatan yang tak menentu. Warung kecilnya di Bogor Utara juga menjadi tumpuan, dengan harapan pelanggan akan berdatangan. “Biaya hidup per Minggu, lanjut dia, sekitar Rp 250.000 untuk mengelola bahan makan seperti sayuran, ikan, beras, dan bumbu dapur. “Harus bisa ngelola uang, tunggu yang utang pada bayar baru diputerin lagi,” jelasnya.
Nyerah Bukan Pilihan
Terinspirasi dari tekad Kartini, Siti menolak untuk menyerah pada keadaan. Keinginan untuk melihat masa depan anak-anaknya menjadi sumber kekuatannya. “Alhamdulillah enggak, alasannya saya kuat. Melihat anak-anak, ingin lihat masa depan anak-anak. Kasian juga ayah juga kan, saya memperjuangkan dia (suami) itu ngedapetinnya itu semenjak sehatnya. Insya allah enggak nyerah,” tuturnya.
Bagi Siti, semangat Kartini relevan di era modern dengan cara yang disesuaikan. “Ya kan kita berjuangnya pakai cara masing-masing, terpenting enggak nyerah, terus aja,” katanya.
Pesan Anak untuk Ibu
Rangga, putra sulung Siti, mengungkapkan rasa campur aduk melihat perjuangan ibunya. “Perjuangannya bukan hanya soal merawat, tapi bagaimana cara untuk menyembuhkan seorang kepala keluarga seperti apa gitu,” kata Rangga.
Lulusan sarjana ini kini turut menjaga warung dan aktif mencari pekerjaan, sembari rutin mendampingi kedua orang tuanya berobat. “Sehat-sehat terus buat kedua orang tua sampai maut memisahkan, tetap sehat. Maaf masih belum maksimal,” ujarnya.
Sementara itu, Sella (16) melihat sosok Kartini dalam diri ibunya. “Buat saya, mamah itu hebat kayak Kartini, dari saya kecil, ngerawat, ayah sakit. Banyak banget suka duka yang dijalanin jadi kayak ‘wah ini perempuan hebat banget, saya bisa enggak ya jadi dia’,” ucap Sella dengan suara parau.
Ia berharap kedua orang tuanya selalu sehat dan dapat menyaksikan dirinya menjadi ahli gizi. “Sehat terus ya, umurnya panjang, pokoknya sampai Sella gantiin yang mamah kasih. Bisa ngeliat saya jadi ahli gizi,” pungkasnya.






