BEKASI, KOMPAS.com – Di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Kartini yang kerap identik dengan kebaya dan seremoni, Mutiara Rizka Ahmad menemukan makna pahlawan emansipasi dalam kesehariannya. Baginya, semangat Kartini terwujud dalam ruang-ruang sederhana, tempat ia mendengar, merangkul, dan menguatkan anak-anak yang membutuhkan perlindungan.
Sebagai Komisioner Bidang Kesehatan di Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi, Mutiara kerap dihadapkan pada kompleksitas persoalan yang dihadapi anak-anak. Mulai dari kasus kekerasan, pelecehan seksual, hingga pendampingan intensif bagi anak berkebutuhan khusus.
Di antara kesibukannya sebagai ibu dari dua anak, Mutiara tetap teguh mendedikasikan diri pada kegiatan sosial. Ia memperjuangkan hak-hak anak yang seringkali luput dari perhatian. “Menjadi perempuan bukan lagi soal seberapa kuat kita bertahan. Tetapi seberapa dalam kita mampu merasakan, memahami, dan peduli dengan kondisi yang sekitar,” ujar Mutiara kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Perjalanan Mutiara sebagai tenaga kesehatan telah membawanya menyaksikan beragam kisah kehidupan. Ia melihat bagaimana harapan mampu bertahan di tengah keterbatasan, bagaimana luka perlahan memulih, dan bagaimana cinta tumbuh dalam keheningan.
Empati yang Tumbuh dari Kehidupan Anak
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam dirinya adalah saat ia bertemu dengan anak-anak dengan Down Syndrome dalam sebuah kegiatan komunitas. Di balik senyum tulus dan keceriaan mereka, Mutiara menangkap kegelisahan yang tersembunyi di hati para orang tua. Ia melihat tatapan penuh harap yang tak terucap, serta senyum yang menyembunyikan kecemasan akan masa depan anak-anak mereka yang lahir dengan keterbatasan.
“Ini yang membuat saya ingin terus dekat dengan anak-anak,” ucapnya.
Dalam ruang-ruang sederhana itulah, Mutiara menemukan esensi empati yang sesungguhnya. Ia menyadari bahwa kehadiran, sekecil apa pun, dapat menjadi jangkar bagi mereka yang sedang berjuang.
Bagi Mutiara, kegiatan edukasi dan pendampingan yang ia jalankan bukan sekadar program kerja. Ia melihatnya sebagai panggilan nurani untuk menciptakan ruang aman bagi anak-anak dan keluarga yang membutuhkan bantuan.
Ia mengamati langsung bagaimana setiap anak tumbuh dengan keunikan masing-masing, dan bagaimana para orang tua menunjukkan cinta yang luar biasa meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
“Dari mereka, saya belajar tentang ketulusan. Tentang kesabaran yang tidak banyak bicara, tetapi terus bekerja dalam diam,” ujarnya.
Peran Ganda sebagai Ibu dan Pejuang Anak
Di tengah kesibukannya, Mutiara mengakui pentingnya kemampuan membagi waktu. Ia harus menyeimbangkan peran sebagai ibu bagi anak-anaknya di rumah dengan dedikasinya memperjuangkan hak anak-anak lain di luar sana.
“Saya mungkin tidak mampu mengubah dunia dalam satu langkah besar. Tetapi saya ingin membuat dunia seseorang menjadi lebih hangat,” katanya.
Mutiara meyakini bahwa menjadi perempuan yang bermakna tidak memerlukan kesempurnaan. Semuanya berawal dari keberanian untuk peduli dan hadir bagi sesama.
Momentum Hari Kartini menjadi pengingat baginya untuk terus melangkah dan mengambil peran, sekecil apa pun itu. Ia berharap semakin banyak perempuan yang berani terlibat dalam ruang-ruang sosial dan membawa perubahan positif.
“Karena pada akhirnya, menjadi perempuan adalah tentang menjadi cahaya-cahaya yang mungkin tidak selalu besar, tetapi cukup untuk menerangi sekitar,” tutur Mutiara.






