JAKARTA, KOMPAS.com – Puluhan ton sampah yang mengendap di Saluran Penghubung (PHB) Jalan Moh. Mansyur, Tambora, Jakarta Barat, berhasil diangkut petugas gabungan bersama warga. Sebanyak 42,5 ton sampah diangkat dari saluran yang membentang sepanjang kurang lebih 85 meter kubik di depan Pasar Mitra, Jembatan Lima.
Kegiatan pengangkutan sampah ini merupakan bagian dari kerja bakti terpadu yang bertujuan untuk menormalisasi aliran air di kawasan tersebut. Camat Tambora, Pangestu Aji, menyatakan bahwa aksi bersih-bersih ini merupakan inisiatif untuk mengembalikan fungsi saluran yang sempat tertutup sampah dan menimbulkan bau tak sedap.
“Kegiatan ini merupakan kerja bakti terpadu bersama masyarakat sekitar. Di lokasi, bersama UPS (unit penanganan sampah) Badan Air se-Jakarta Barat turun bersama membersihkan sampah yang mengendap di saluran kurang lebih 85 meter kubik dan 42,5 ton,” ujar Pangestu kepada Kompas.com di lokasi, Selasa (21/4/2026) sore.
Sebanyak 130 personel dari UPS Badan Air dan 35 orang perwakilan masyarakat dikerahkan untuk membersihkan saluran air. Untuk mempercepat proses pengangkutan, petugas mengerahkan tiga unit typer kecil, satu unit armada amrol, dan sebuah mobil pikap.
Kepala UPS Badan Air Jakarta Barat, Dadang Cahya Rusdiana, membenarkan kondisi tumpukan limbah di lokasi tersebut tergolong parah. “Kondisinya memang saat ini PHB di depan Pasar Mitra di Tambora ini banyak sampah dan juga sedimen,” kata Dadang ditemui terpisah di lokasi, Selasa.
Ia mengungkapkan, tersumbatnya saluran air ini tidak lepas dari kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Limbah yang mengendap didominasi oleh sampah darat yang sengaja dibuang ke saluran air.
“Sampah-sampah ini asal dari darat. Banyak mungkin warga yang masih buang sampah ke kali, buang sampah ke PHB,” ucapnya.
Selain masyarakat umum, Dadang menyoroti aktivitas pasar di sekitar lokasi yang menjadi kontributor terbesar penumpukan sampah. “Kalau kita lihat kondisinya setiap hari dari mulai siang, sore sampai malam, sampahnya memang juga sampah dari pedagang-pedagang yang ada di atas PHB tersebut,” kata Dadang.
Setelah permukaan air bersih dari sampah, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat akan melanjutkan pengerukan sedimen lumpur. Untuk mencegah sampah kembali menyumbat saluran, pihak SDA berencana menutup bagian saluran yang masih terbuka.
“Setelah ini nanti bersih, maka terhadap tempat-tempat yang masih terbuka akan kami lakukan penutupan dengan menggunakan bar screen. Jadi sampah tidak masuk ke dalam kolong PHB ini,” jelas Dadang.
Dadang memastikan bahwa pembersihan di kawasan tersebut akan dilakukan secara rutin, setidaknya satu hingga dua kali dalam sebulan. Di sisi lain, Pangestu berharap penataan kawasan pasar dapat diiringi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa krisis sampah di Jakarta dan sekitarnya dapat semakin parah jika tidak diimbangi dengan upaya pengurangan sampah dari sumbernya. “Diharapkan ke depannya selain penataan di kawasan ini, masyarakat ikut serta sama-sama melakukan pengawasan dan menjaga lingkungan, baik sampah, saluran air, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat dalam rangka Jaga Jakarta,” tutup Pangestu.






