Pemerintah Indonesia mengidentifikasi kebutuhan dana sebesar Rp 65 triliun per tahun untuk mewujudkan pembangunan dan reaktivasi jaringan rel kereta api skala nasional, terutama di luar Pulau Jawa yang dinilai masih tertinggal.
Kebutuhan dana besar ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur perkeretaapian untuk pemerataan ekonomi dan konektivitas antarwilayah.
Kesenjangan Jaringan Rel Kereta Api
Saat ini, disparitas jaringan rel kereta api antar pulau di Indonesia sangat mencolok. Pulau Jawa telah memiliki jaringan rel sepanjang 10.000 kilometer, sementara pulau-pulau lain masih sangat terbatas.
- Pulau Sumatera memiliki jaringan rel, namun konektivitasnya belum optimal.
- Pulau Kalimantan belum memiliki jaringan rel kereta api sama sekali.
- Pulau Sulawesi baru memiliki sekitar 100 kilometer rel kereta api.
Kesenjangan ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk memprioritaskan pembangunan dan reaktivasi jalur kereta api di ketiga pulau tersebut.
“Arahan Bapak Presiden untuk mengembangkan jaringan kereta di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi ini menjadi strategis,” ujar AHY, mengutip pernyataan sebelumnya yang dimuat oleh Kompas.com pada Rabu (23/4/2026).
Estimasi Biaya dan Proyeksi
AHY merinci bahwa reaktivasi jalur kereta api sepanjang 14.000 kilometer yang ditargetkan selesai dalam kurun waktu 20 tahun, membutuhkan pendanaan tahunan sekitar Rp 65 triliun.
“Jika kita ingin menambah katakanlah tadi 14.000 kilometer ini sekian tahun ke depan, maka biayanya itu diperkirakan sekitar Rp 1.200 triliun,” ungkap AHY. Ia menambahkan bahwa angka ini masih bersifat perkiraan awal dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik di setiap wilayah.
Peran Strategis Kereta Api
Pembangunan jaringan rel kereta api di luar Pulau Jawa dinilai krusial untuk mendorong pemerataan perekonomian nasional. Salah satu manfaat utamanya adalah kelancaran distribusi logistik dari daerah-daerah kaya sumber daya alam (SDA) ke berbagai penjuru negeri.
Selain itu, penggunaan kereta api untuk angkutan barang diprediksi dapat menekan biaya logistik secara signifikan.
AHY mencontohkan potensi pengembangan di wilayah barat Indonesia. “Misalnya untuk ruas dari Aceh ke Sumatera Utara, khususnya dari Banda Aceh ke Besitang. Itu juga sedang dihitung lebih lanjut lagi,” katanya.
Lebih lanjut, ketersediaan jaringan kereta api juga akan memberikan kemudahan dan kenyamanan transportasi bagi masyarakat. Langkah strategis pemerintah ini diharapkan mendapat dukungan penuh untuk mewujudkan konektivitas yang lebih merata di seluruh Indonesia.






