Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, sebuah langkah yang mengejutkan mengingat retorika kerasnya beberapa jam sebelumnya. Keputusan ini diambil atas permintaan mediator Pakistan untuk memberi waktu lebih bagi Teheran mengajukan proposal mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
“Oleh karena itu, saya telah menginstruksikan militer kita untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara,” ujar Trump dalam unggahan di media sosial pada Selasa (21/4/2026), seperti dikutip Al Jazeera.
Pernyataan Trump, yang tidak menyebutkan batas waktu spesifik, mengindikasikan perpanjangan gencatan senjata yang bersifat tanpa batas dari pihak AS. Iran sendiri belum memberikan tanggapan langsung, dengan kantor berita semi-resmi Tasnim menyatakan bahwa posisi Teheran akan diumumkan secara resmi nantinya.
Perubahan Haluan Mendadak di Tengah Ketegangan
Perpanjangan gencatan senjata ini menandai perubahan haluan yang mendadak dari Gedung Putih. Hanya beberapa jam sebelum pengumuman tersebut, Trump justru menyatakan penentangannya terhadap perpanjangan gencatan senjata dan memperingatkan Iran bahwa waktu hampir habis sebelum AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastrukturnya.
Perubahan sikap mendadak ini terjadi di tengah kecaman pejabat Iran terhadap blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan di Teheran. Tindakan ini menimbulkan keraguan mengenai partisipasi Iran dalam pembicaraan kesepakatan yang dijadwalkan pada Rabu (22/4/2026).
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif kemudian menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Trump atas persetujuan perpanjangan gencatan senjata. Ia menegaskan bahwa Islamabad akan terus mendorong penyelesaian konflik melalui negosiasi.
“Saya sangat berharap kedua belah pihak akan terus mematuhi gencatan senjata dan mampu menyimpulkan ‘Kesepakatan Perdamaian’ yang komprehensif selama putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan di Islamabad untuk mengakhiri konflik secara permanen,” kata Sharif dalam sebuah unggahan di X.
Meskipun demikian, blokade terhadap pelabuhan Iran masih terus berlanjut. Hal ini menimbulkan ketidakpastian apakah perpanjangan gencatan senjata ini akan cukup untuk menarik Iran ke meja perundingan di Islamabad.
Iran Sebut Blokade Pelabuhan Pelanggaran Gencatan Senjata
Sebelumnya pada Selasa (21/4/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menyebut blokade pelabuhan Iran sebagai tindakan perang dan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang ada.
“Iran tahu bagaimana menetralisir pembatasan, bagaimana membela kepentingannya, dan bagaimana melawan intimidasi,” tulis Araghchi.
Meskipun Iran secara terbuka menolak ancaman AS dan pengepungan angkatan lautnya, Trump mengisyaratkan bahwa perbedaan pendapat di dalam kepemimpinan di Teheran memperlambat upaya diplomatik.
“Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu,” tulis presiden AS.
Konteks Perang dan Perubahan Kepemimpinan Iran
Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, sejumlah pejabat tinggi Iran telah tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba, yang belum tampil di depan publik sejak terpilih sebagai pemimpin tertinggi bulan lalu.
Koresponden Al Jazeera, Ali Hashem, melaporkan dari Teheran bahwa pernyataan Trump mengenai keretakan dalam kepemimpinan Iran kemungkinan besar adalah sebuah “kesalahpahaman”.
“Iran memiliki kepemimpinan yang sangat bersatu sejak pembunuhan mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei,” kata Hashem. Ia menambahkan, “Mengapa? Karena pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, dan lingkaran di sekitarnya adalah sebuah tim yang telah bekerja sama selama 15 tahun terakhir. Anggota tim saat ini berada di pusat-pusat pengambilan keputusan di Teheran.”
Pengamat Sebut Perpanjangan Gencatan Senjata untuk Menutupi Rasa Malu
Barbara Slavin, seorang peneliti terkemuka di lembaga think tank Stimson Center, berpendapat bahwa pernyataan Trump yang memperpanjang gencatan senjata merupakan upaya untuk menutupi rasa malu akibat negosiasi yang gagal. Ia menyoroti kesediaan Trump untuk mengirim Wakil Presiden JD Vance bernegosiasi dengan Iran di Pakistan, namun Teheran tampaknya tidak siap untuk hadir.
“Perang ini tidak berjalan sesuai harapannya sejak awal, dan Iran telah menemukan pengaruh baru dalam kendalinya atas Selat Hormuz,” kata Slavin. Ia menambahkan, “AS harus melepaskan tuntutan maksimalisnya dan menawarkan Iran semacam isyarat bahwa AS serius dalam mencari solusi.”
Respons Iran dan Pembatalan Kunjungan
Dilansir dari CNN pada Rabu (22/4/2026), seorang penasihat senior Iran menyatakan bahwa perpanjangan gencatan senjata tersebut tidak berarti apa-apa dan Teheran harus merespons secara militer. Sementara itu, utusan Iran untuk PBB meyakini bahwa pembicaraan akan terjadi jika AS mengakhiri blokade tersebut.
Menyusul pengumuman Trump, kunjungan Wakil Presiden JD Vance ke Islamabad untuk memimpin pembicaraan dengan Iran juga dibatalkan.






