Di tengah ketidakpastian yang menyelimuti Iran dan kemungkinan berakhirnya gencatan senjata, warga Teheran mencoba menikmati momen kedamaian terakhir yang ada. Sebagian besar dari mereka pesimistis terhadap prospek perdamaian dan yakin bahwa perang dengan Amerika Serikat akan kembali pecah.
Mobina Rasoulian, seorang mahasiswi berusia 19 tahun, mengaku memanfaatkan hampir dua minggu masa gencatan senjata yang dimulai pada 8 April lalu sebagai “napas lega” dari ketegangan yang mendominasi Iran. “Saya keluar tanpa merasa stres, saya berkeliling, pergi ke kafe, restoran, dan ke sana kemari,” ungkap Mobina, mengutip laporan AFP, Selasa (21/4/2026).
Senada dengan Mobina, Babak Samiei, seorang insinyur berusia 49 tahun, berusaha kembali ke rutinitas normalnya. “Selama 40 hari perang, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya saat dalam perjalanan pulang dari kelas yoga.
Pesimisme Terhadap Kesepakatan Damai
Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama. Samiei mengungkapkan kekhawatirannya mengenai prospek perdamaian, terutama dengan semakin dekatnya akhir gencatan senjata dan ketidakpastian mengenai rencana putaran kedua pembicaraan di Pakistan. Meski sempat berharap gencatan senjata akan diperpanjang, ia memperkirakan pertempuran akan kembali terjadi.
“Saya rasa pada akhirnya, tidak akan ada kesepakatan yang tercapai. Kemungkinan besar, perang akan terjadi lagi,” jelasnya. Pernyataan ini muncul di tengah informasi bahwa Presiden AS Donald Trump bersikeras pembicaraan akan dilanjutkan, namun gencatan senjata dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4/2026) malam waktu Washington, sementara Iran belum mengirimkan delegasi ke Islamabad. Amerika Serikat dan Israel diketahui memulai perang pada 28 Februari dengan serangkaian serangan besar-besaran terhadap Iran.
Dua Wajah Kontras di Teheran
Suasana di Teheran menunjukkan dua wajah yang kontras. Di lingkungan utara yang lebih kaya, yang sempat kosong selama pertempuran karena penduduk mengungsi, teras-teras kafe kini kembali dipenuhi oleh kaum muda. Keberadaan wanita tanpa jilbab di area yang lebih terpengaruh budaya Barat ini menjadi pemandangan umum.
Berbeda dengan pusat kota, di mana kehancuran akibat pengeboman selama lebih dari sebulan tak terhindarkan. Bangunan-bangunan yang hancur menjulang di atas jalanan. Di area ini, para pendukung pemerintah kerap berkumpul untuk menyuarakan penentangan terhadap kampanye AS-Israel. Kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari konflik dan pemadaman internet yang ketat oleh pemerintah juga dirasakan oleh banyak warga.
Harapan Pemulihan Akses Internet
Kondisi ekonomi menjadi perhatian utama. Laleh, seorang guru bahasa Inggris berusia 27 tahun di Isfahan, menantikan pemulihan akses internet agar dapat kembali mengajar murid-muridnya. “Saya sedang menunggu internet terhubung kembali untuk melihat apakah saya bisa mulai bekerja lagi,” katanya.
“Banyak (siswa) menelepon dan mengatakan bahwa mereka tidak punya uang atau pikiran mereka terlalu sibuk untuk belajar bahasa Inggris dan membatalkan kelas mereka,” sambungnya. Ia menambahkan bahwa banyak perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kondisi inflasi yang buruk membuat sebagian orang beralih profesi menjadi penyedia layanan transportasi daring atau pedagang kaki lima.
“Sekarang internet dimatikan, semua orang kehilangan pekerjaan,” keluh Farah Saghi, seorang wiraswasta.

![[POPULER GLOBAL] 4 Skenario jika Perundingan AS-Iran Gagal | Kapal Terkait Iran Disergap [POPULER GLOBAL] 4 Skenario jika Perundingan AS-Iran Gagal | Kapal Terkait Iran Disergap](https://www.harianlampung.co.id/wp-content/uploads/2026/04/69da27f2c5b78-3-768x512.jpg)




