Homey

7 Barang di Rumah yang Sebaiknya Tak Kamu Donasikan ke Lembaga Amal

Advertisement

Upaya merapikan isi rumah melalui donasi barang sebaiknya dilakukan dengan bijak. Tidak semua barang yang sudah tidak terpakai lagi layak untuk disumbangkan, karena beberapa di antaranya justru dapat membebani lembaga penerima atau bahkan membahayakan penerima manfaat.

Barang yang tak lagi digunakan tidak serta-merta bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Ada kalanya barang tersebut tidak layak untuk didonasikan karena tidak bisa dijual kembali, tidak higienis, atau bahkan berpotensi membahayakan bagi penerimanya. Oleh karena itu, memilah barang dengan cermat sebelum disumbangkan menjadi langkah krusial.

Menyumbangkan barang yang tidak layak pakai tidak hanya akan memberatkan pihak pengelola donasi, tetapi juga berpotensi menyebabkan penolakan. Penting untuk diingat bahwa setiap organisasi memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Sangat disarankan untuk menghubungi lembaga terkait terlebih dahulu sebelum mengirimkan barang.

Sebagai panduan umum, terdapat tujuh jenis barang yang umumnya tidak diinginkan oleh lembaga amal. Panduan ini dirangkum dari berbagai sumber, termasuk Real Life.

Furnitur dalam Kondisi Buruk

Meskipun goresan kecil pada meja makan mungkin masih bisa diterima, furnitur yang sudah lapuk, patah, atau rusak parah umumnya hanya akan berakhir di tempat sampah. Lembaga amal mencari barang yang masih dapat digunakan kembali atau memiliki nilai jual untuk keperluan penggalangan dana.

Furnitur yang Belum Dirakit

Barang dalam kondisi pretelan, meskipun tampak baru, sering kali enggan diterima oleh lembaga amal. Risiko hilangnya baut, instruksi pemasangan, atau peralatan khusus dapat menjadi beban tambahan bagi mereka. Apabila ingin mendonasikan barang jenis ini, pastikan sudah dirakit dengan sempurna terlebih dahulu.

Kosmetik dan Produk Perawatan Tubuh Bekas

Produk kosmetik dan perawatan tubuh yang sudah terbuka tidak akan diterima karena alasan keamanan dan kebersihan. Kecuali jika produk tersebut masih dalam keadaan tersegel dan belum kedaluwarsa, panti asuhan atau rumah singgah mungkin bersedia menerimanya.

Advertisement

Pakaian yang Robek

Pakaian dengan robekan besar atau bolong memiliki kemungkinan kecil untuk dapat dijual kembali. Jika robekan tersebut kecil dan berada di area yang mudah diperbaiki, seperti jahitan pinggir, pertimbangkan untuk menjahitnya terlebih dahulu sebelum disumbangkan agar tetap layak pakai.

Pakaian yang Bernoda

Jika sebuah pakaian memiliki noda permanen yang membuat Anda malu untuk memakainya, kemungkinan besar orang lain pun tidak akan menginginkannya. Cobalah untuk mencuci atau menghilangkan noda tersebut. Jika tetap tidak hilang, barang tersebut lebih baik dialihfungsikan menjadi kain lap di rumah.

Kasur Bekas

Kasur bekas, terutama yang telah digunakan bertahun-tahun, sering kali menyimpan masalah kesehatan. Selain tidak higienis, kasur bekas berisiko menjadi sarang kutu busuk. Proses pembersihan kasur sangat rumit dan mahal, sehingga mayoritas lembaga nirlaba akan langsung menolak donasi berupa kasur bekas.

Kaus Kaki dan Pakaian Dalam Bekas

Faktor kebersihan menjadi alasan utama mengapa kaus kaki dan pakaian dalam bekas masuk dalam daftar barang yang tidak disarankan untuk didonasikan. Namun, beberapa organisasi, terutama rumah singgah bagi tunawisma, sangat membutuhkan pakaian dalam dan kaus kaki baru yang masih dalam kemasan asli atau masih memiliki label merek.

Sumber: http://www.kompas.com/homey/read/2026/04/22/072100476/7-barang-di-rumah-yang-sebaiknya-tak-kamu-donasikan-ke-lembaga-amal

Advertisement