YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah hiruk pikuk Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, tersaji kisah perjuangan gigih seorang lansia sebatang kara yang tak kenal lelah berjualan nasi rames demi memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama untuk membayar tagihan listrik dan air. Sosok itu adalah Sumartiwi, 76 tahun, yang akrab disapa Mbah Tiwi.
Setiap harinya, di trotoar yang menjadi saksi bisu perjuangannya, Mbah Tiwi dengan cekatan menyiapkan aneka lauk pauk sederhana namun menggugah selera. Mulai dari ayam goreng, tempe goreng, hingga nasi hangat tersaji di lapak sederhananya. Meski usianya tak lagi muda dan tangannya mulai keriput, semangatnya tak pernah padam.
Kondisi lapak Mbah Tiwi terbilang sangat sederhana. Hanya berbekal sebuah gerobak tanpa meja khusus untuk memasak. Ia harus rela jongkok di samping tungku arang yang diletakkan di bawah, membolak-balikkan tempe goreng agar matang sempurna dan tidak gosong. Postur tubuhnya yang sedikit membungkuk tampak jelas saat ia berjuang memindahkan gorengan ke dalam gerobak.
Berjualan Sejak 2001, Pernah Bertahan di Tengah Gempa
Perjuangan Mbah Tiwi di lokasi ini telah berlangsung sejak tahun 2001. Ia bahkan mengenang momen ketika gempa mengguncang Yogyakarta pada tahun tersebut. “Gempa (Yogyakarta) saya pasang tenda di sini seperti orang kemah,” ujarnya dengan logat Jawa halus, saat ditemui pada Rabu (22/4/2026).
Cuaca mendung pada pagi itu tak menyurutkan semangat Mbah Tiwi. Saat terpal biru dan kuning hendak dipasang untuk melindungi dagangannya dari hujan, ia sempat tampak kebingungan. Beruntung, dua orang pembeli dengan sigap membantunya. Tak lama berselang, Mbah Tiwi pun mengenakan mantel agar tetap bisa memasak meski gerimis mulai turun.
Jarak Tempuh 4 Kilometer Ditempuh Selama Satu Jam
Rumah Mbah Tiwi berlokasi cukup jauh dari tempatnya berjualan, yakni di Kotagede. Setiap harinya, ia harus menempuh jarak sekitar 4 kilometer untuk sampai ke lokasi warungnya. Perjalanan yang memakan waktu satu jam ini ia mulai pukul 07.00 pagi dari rumahnya.
Selain mempersiapkan lauk pauk, di tengah guyuran hujan deras di Kota Yogyakarta, Mbah Tiwi juga sigap menyiapkan belasan gelas teh panas. Lokasi warungnya yang berdekatan dengan berbagai ruko membuat para karyawan toko kerap menjadi pelanggannya. “Masih kurang 15 gelas,” ucap Mbah Tiwi, menandakan kesibukannya.
Berjuang untuk Kemerdekaan Finansial
Bagi Mbah Tiwi, berjualan warung rames adalah bentuk perjuangannya untuk mandiri. Ia memilih untuk bekerja keras daripada harus meminta-minta. Di usianya yang senja, semangatnya untuk tidak menyusahkan orang lain begitu kuat. Baginya, misi terpenting dari berjualan ini adalah untuk memastikan ia dapat membayar tagihan kebutuhan pokok, seperti PDAM, PLN, serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
“Sebulan Rp 300.000 (PDAM dan listrik), kembali Rp 10.000,” ungkapnya, merinci pengeluaran rutin yang menjadi prioritasnya. Angka tersebut menjadi bukti nyata betapa Mbah Tiwi berjuang keras untuk meraih kemerdekaan finansialnya sendiri.






