Megapolitan

Dari Teman Kantor ke Tetangga, Bisnis Jastip Emas Antam Tumbuh dari Kepercayaan

Advertisement

Fenomena jasa titip (jastip) emas Antam telah berkembang dari sekadar solusi praktis antar teman kantor menjadi sebuah rantai ekonomi yang bertumpu pada kepercayaan personal. Praktik ini kini meluas ke lingkungan tetangga dan komunitas sekitar, membentuk pasar berbasis relasi di tengah kesulitan akses terhadap butik resmi.

Kiki (25), warga Jakarta Timur, adalah salah satu pelaku jastip yang merasakan langsung bagaimana bisnis ini tumbuh dari lingkaran terdekat. Ia memulai jasa titip pada awal 2025 karena melihat banyak orang di sekitarnya kesulitan mendapatkan emas Antam di Butik Antam TB Simatupang, Jakarta Selatan.

“Banyak yang pengin beli Antam resmi, tapi mereka enggak punya waktu buat antre. Akhirnya pada nyari jastip,” kata Kiki saat dihubungi Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Bisnis Berbasis Kepercayaan

Awalnya, pelanggan Kiki terbatas pada rekan-rekan sekantor. Namun, seiring waktu, permintaan meluas hingga ke teman dekat dan tetangga. Jaringan yang terbentuk pun bukan melalui promosi besar-besaran di media sosial, melainkan murni berdasarkan kepercayaan.

Kiki menjelaskan, antrean di butik emas sering kali membeludak sejak pagi, terutama saat stok emas dengan gramasi kecil tersedia. Keterlambatan datang bisa membuat peluang mendapatkan barang menjadi sangat kecil.

“Kalau lagi ramai, kita harus datang pagi banget. Kalau siang biasanya sudah habis, terutama gram kecil,” ujarnya.

Emas dengan gramasi kecil, seperti 1 gram dan 2 gram, menjadi produk yang paling diburu karena harganya lebih terjangkau dan cocok untuk investasi bertahap. Kondisi ini menuntut para jastiper untuk sigap membaca situasi di lapangan.

Untuk mengelola pesanan secara efektif, Kiki menerapkan sistem slot, membatasi jumlah order sesuai dengan kemampuannya mendapatkan stok. “Saya biasanya buka slot. Misalnya cuma terima 10 order dulu. Kalau kebanyakan, nanti kalau stok enggak dapat malah jadi masalah,” ucapnya.

Sistem Uang Muka dan Biaya Jasa

Selain itu, Kiki juga menerapkan sistem uang muka (DP), khususnya bagi pelanggan baru. Pengalaman ditinggal pembeli setelah barang didapat membuatnya lebih selektif dalam menerima pesanan.

“Minimal Rp 300.000 sampai Rp 500.000. Itu buat komitmen, karena saya pernah barang sudah ada, customer malah hilang,” jelas Kiki.

Biaya jasa yang dipatok Kiki berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per keping, dan dapat meningkat hingga Rp 150.000 ketika stok sangat sulit didapat. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa keuntungan dari bisnis ini tidak terlalu besar dan sangat bergantung pada ketersediaan barang.

“Kalau lancar bisa Rp 3 juta sampai Rp 4 juta sebulan. Tapi kalau stok susah, ya bisa cuma sejuta-an,” katanya.

Hal yang paling dijaga oleh Kiki adalah reputasinya. Ia menyadari bahwa bisnis jastip sangat bergantung pada kepercayaan pelanggan.

Dinamika dan Potensi Distorsi Pasar

Senada dengan Kiki, Shila (27) juga memulai bisnis jastip dari lingkaran kecil, yakni teman kantor. Seiring meningkatnya permintaan, pelanggan pun meluas hingga tetangga dan kenalan.

“Awalnya saya cuma bantu teman kantor beli. Lama-lama malah banyak yang nitip,” kata Shila saat dihubungi.

Ia menyebut pesanan biasanya meningkat saat harga emas turun atau stabil, di mana banyak orang membeli emas gram kecil sebagai investasi bertahap. Namun, keterbatasan stok membuat proses pembelian tidak selalu bisa diselesaikan dalam satu hari.

“Kadang kita harus datang sampai tiga hari berturut-turut biar pesanan terpenuhi,” ujar Shila.

Dalam praktiknya, Shila menggunakan sistem pre-order (PO). Pelanggan memesan lebih dulu, kemudian ia memberikan estimasi harga sebelum meminta DP. Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi untuk menjaga kepercayaan pelanggan, mulai dari nota pembelian hingga video pengemasan barang.

“Kalau enggak ada bukti, orang juga enggak percaya,” katanya.

Analisis Pengamat Ekonomi

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman, menilai fenomena jastip emas sebagai indikasi adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan distribusi ritel.

“Fenomena ini mencerminkan adanya mismatch antara lonjakan permintaan dan keterbatasan distribusi ritel,” ujar Rizal saat dihubungi.

Advertisement

Menurutnya, praktik jastip pada dasarnya merupakan respons pasar yang wajar. Namun, ketika pembelian terkonsentrasi dan dijual kembali dengan markup, kondisi tersebut dapat memicu distorsi harga. Rizal menjelaskan bahwa harga emas tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental, melainkan juga dipengaruhi oleh akses terhadap barang yang terbatas.

Ia juga menyoroti potensi munculnya kelangkaan semu. Ketika stok di butik diserap oleh pelaku jastip, ketersediaan di pasar terlihat menipis, sehingga mendorong persepsi bahwa emas sulit didapat.

“Ketika stok diserap pelaku jastip, pasar terlihat kosong dan memicu persepsi scarcity,” kata Rizal.

Dari sisi konsumen, ia menilai pembelian melalui jastip cenderung kurang efisien. Tambahan biaya jasa dapat menggerus potensi keuntungan dari investasi emas yang margin-nya relatif kecil.

“Dalam banyak kasus, keputusan pembelian didorong oleh FOMO, bukan valuasi, sehingga risiko overpaying menjadi tinggi,” ujar Rizal. Ia menyarankan masyarakat untuk tetap membeli melalui kanal resmi dan menghindari premi tambahan yang tidak perlu.

Konsumen Memilih Kepraktisan dan Rasa Aman

Di sisi lain, konsumen memiliki alasan kuat memilih jastip. Bagi sebagian orang, waktu menjadi faktor utama. Mutia (32), karyawan swasta di Jakarta Timur, mengaku rutin membeli emas melalui jasa titip karena tidak memungkinkan untuk mengantre.

“Saya kerja dari pagi sampai sore. Kalau harus antre dari subuh, saya enggak sanggup,” ujar Mutia saat ditemui di sebuah kafe di Matraman.

Ia biasanya membeli emas 1 gram hingga 2 gram, dan sesekali 5 gram jika memiliki dana lebih. Meski menyadari harga lebih mahal, ia menganggap selisih tersebut sebagai biaya jasa.

“Kalau selisih Rp 50.000 sampai Rp 100.000 saya masih oke. Itu bayar jasa orang antre,” kata Mutia.

Hal serupa disampaikan Ayu (28), ibu rumah tangga di Bekasi. Ia memilih jastip karena tidak bisa meninggalkan anak untuk mengantre di butik.

“Jastipnya tetangga sendiri, jadi saya percaya,” ujar Ayu saat dihubungi.

Ayu biasanya membeli emas 1 gram sebagai tabungan bertahap, karena menurutnya emas lebih stabil dibanding menyimpan uang tunai. “Pelan-pelan saja. Kalau ada uang lebih baru nambah,” katanya.

Sementara itu, Tisna (37) mengaku beralih ke jastip setelah beberapa kali gagal mendapatkan stok saat membeli langsung di butik.

“Pernah saya antre panjang, tapi pas giliran malah habis. Akhirnya saya cari jastip saja,” ujarnya.

Ia kini lebih memilih transaksi melalui COD agar bisa memastikan kondisi barang secara langsung.

Adapun Nadya (30), pelaku UMKM, menilai jastip sebagai solusi praktis di tengah kesibukan usaha. Ia tidak memiliki waktu untuk mengantre seharian di butik.

“Saya enggak bisa ninggalin jualan cuma buat antre,” kata Nadya saat dihubungi.

Namun, ia tetap berhati-hati dalam memilih jastiper, terutama setelah hampir tertipu oleh penawaran harga murah tanpa bukti jelas. “Kalau terlalu murah justru curiga. Saya pasti minta nota sama bukti,” ujar dia.

Kompas.com sudah menghubungi Manager Corporate Secretary ANTAM Ardian Ganang, untuk meminta keterangan resmi terkait fenomena ini, namun hingga berita ini ditayangkan belum mendapatkan respons.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2026/04/21/19021831/dari-teman-kantor-ke-tetangga-bisnis-jastip-emas-antam-tumbuh-dari

Advertisement