Megapolitan

Di Balik Antrean Butik Antam, Ada Jastiper Berburu Emas hingga 3 Hari Berturut-turut

Advertisement

Fenomena antrean panjang di butik resmi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tak lagi sekadar pemandangan sesaat. Dalam beberapa waktu terakhir, situasi ini justru melahirkan profesi baru di kalangan masyarakat urban: jasa titip (jastip) emas. Para penyedia jasa titip ini rela berjuang demi pesanan pelanggan, bahkan tak jarang harus mengantre hingga tiga hari berturut-turut.

Mereka bukanlah pemain besar, melainkan individu yang beroperasi dalam lingkaran sosial terdekat, seperti teman kantor, tetangga, hingga kenalan komunitas. Fenomena ini menjadi cerminan dinamika baru dalam konsumsi emas ritel, di mana keterbatasan waktu, akses, dan stok membentuk pola transaksi yang semakin kompleks.

Shila (27), warga Jakarta Timur, adalah salah satu pelaku jastip emas yang merasakan langsung geliat di Butik Emas Antam Simatupang, Jakarta Selatan. Ia mengaku mulai membuka jasa titip sejak pertengahan 2024, berawal dari membantu rekan kerjanya.

“Awalnya cuma bantu teman. Mereka bilang malas antre, capek, belum tentu dapat. Lama-lama jadi banyak yang nitip,” ujar Shila saat dihubungi Kompas.com melalui Instagram, Senin (20/4/2026).

Permintaan, menurut Shila, cenderung meningkat ketika harga emas sedang turun atau stabil. Pada kondisi tersebut, pembeli kerap memburu emas berukuran kecil, seperti 1 gram hingga 5 gram, sebagai strategi investasi bertahap. Namun, keterbatasan stok seringkali menjadi kendala.

“Enggak bisa langsung banyak. Kadang kita harus datang sampai tiga hari berturut-turut biar pesanan terpenuhi,” tuturnya. Situasi ini menjadikan aktivitas jastip bukan sekadar “titip beli”, melainkan juga menguji ketahanan fisik dan waktu para pelakunya. Mereka harus menyusun strategi, mulai dari datang lebih pagi hingga memantau pola distribusi stok di butik.

Sistem Pre-order dan DP Jadi Kunci

Dalam praktiknya, Shila menerapkan sistem pre-order (PO). Pelanggan memesan terlebih dahulu melalui WhatsApp, kemudian Shila memberikan estimasi harga sesuai kondisi pasar saat itu. Untuk mengantisipasi pembatalan sepihak, Shila mewajibkan uang muka (DP) sebagai syarat transaksi.

“DP penting, biasanya Rp 200.000 sampai Rp 1 juta tergantung gram. Kalau enggak, takutnya barang sudah dapat malah dibatalin,” katanya.

Keuntungan yang diperoleh pun tidak sebesar persepsi publik. Shila menegaskan, margin utama berasal dari biaya jasa antre, bukan selisih harga emas. “Paling ambil Rp 50.000 sampai Rp 80.000 per keping. Kalau lagi susah bisa Rp 100.000,” ujarnya. Secara keseluruhan, pendapatan bersih yang ia kantongi berkisar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per bulan saat permintaan tinggi. Namun, angka tersebut bisa merosot drastis ketika stok terbatas.

Strategi Slot dan Seleksi Pelanggan

Hal serupa dialami Kiki (25), yang mulai menjalankan jastip sejak awal 2025. Ia melihat peluang dari banyaknya orang yang ingin membeli emas, namun tidak memiliki waktu untuk mengantre.

“Kalau lagi ramai, harus datang pagi banget. Kalau siang biasanya sudah habis, terutama gram kecil,” ujar Kiki saat dihubungi, Senin.

Untuk menghindari kelebihan pesanan atau over-order, Kiki menerapkan sistem slot. Ia membatasi jumlah pesanan agar sesuai dengan peluang mendapatkan stok. “Saya buka slot, misalnya 10 order dulu. Kalau kebanyakan, nanti enggak kepegang,” kata Kiki.

Seperti Shila, Kiki juga menerapkan DP, terutama untuk pelanggan baru. Ia pernah mengalami kerugian akibat pembeli yang menghilang setelah barang berhasil didapatkan. Biaya jasa yang dipatok Kiki berkisar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per keping, dan bisa naik hingga Rp 150.000 dalam kondisi stok sangat terbatas. Namun, ia menekankan bahwa bisnis ini bukanlah jalan pintas menuju kekayaan.

“Kalau lancar bisa Rp 3 juta sampai Rp 4 juta sebulan. Tapi kalau stok susah, bisa cuma sejuta-an,” katanya.

Kepercayaan Menjadi Mata Uang Utama

Baik Shila maupun Kiki sepakat bahwa kepercayaan menjadi fondasi utama bisnis jastip. Mayoritas pelanggan mereka berasal dari orang-orang yang sudah dikenal. Lingkungan kantor dan tetangga menjadi pasar utama karena transaksi emas melibatkan nilai besar dan risiko tinggi.

“Kalau sekali salah, reputasi bisa hancur,” ujar Kiki.

Untuk menjaga kepercayaan, dokumentasi menjadi hal wajib. Nota pembelian, foto nomor seri, hingga video unboxing disiapkan untuk memastikan transparansi. Selain itu, metode cash on delivery (COD) juga menjadi pilihan utama.

Konsumen Membeli Waktu, Bukan Sekadar Emas

Dari sisi konsumen, jastip dipandang sebagai solusi praktis di tengah keterbatasan waktu. Mutia (32), karyawan swasta di Jakarta Timur, mengaku rutin membeli emas melalui jastip karena tidak memungkinkan mengantre sejak pagi.

Advertisement

“Saya kerja dari pagi sampai sore. Kalau harus antre dari subuh, enggak sanggup,” ujar Mutia saat ditemui di sebuah kafe wilayah Matraman.

Ia memahami adanya selisih harga, namun menganggapnya sebagai biaya jasa. “Kalau selisih Rp 50.000 sampai Rp 100.000 masih oke. Itu bayar waktu,” kata Mutia.

Hal serupa disampaikan Ayu (28), ibu rumah tangga di Bekasi. Ia memilih jastip karena tidak bisa meninggalkan anak untuk mengantre. “Jastipnya tetangga sendiri, jadi saya percaya,” ujar Ayu saat dihubungi, Senin.

Bagi Ayu, emas menjadi instrumen tabungan yang lebih stabil, sementara jastip menjadi cara paling realistis untuk mengaksesnya. Meski menawarkan kemudahan, praktik jastip tidak lepas dari risiko. Tisna (37) mengaku pernah kecewa saat mencoba membeli langsung di butik karena stok habis. Ia akhirnya beralih ke jastip dari grup WhatsApp warga.

“Kalau datang sendiri belum tentu dapat. Jadi sekarang lebih pilih nitip,” kata Tisna saat dihubungi, Senin.

Namun, kewaspadaan tetap dijaga. Ia hanya memilih jastiper yang dikenal dan selalu meminta transaksi COD. “Kalau online yang enggak jelas saya enggak berani,” ujarnya.

Distorsi Pasar dan Kelangkaan Semu

Pengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M. Rizal Taufikurahman, menilai fenomena jastip emas sebagai indikasi adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan distribusi.

“Fenomena ini mencerminkan adanya mismatch antara lonjakan permintaan dan keterbatasan distribusi ritel,” ujar Rizal saat dihubungi, Senin.

Menurutnya, praktik jastip pada dasarnya merupakan respons rasional dalam ekonomi. Namun, ketika mulai muncul akumulasi pembelian oleh pihak tertentu yang kemudian menjual kembali dengan tambahan biaya, kondisi tersebut berpotensi mengarah pada distorsi harga.

Rizal menjelaskan bahwa harga emas di tingkat ritel seharusnya mencerminkan kondisi fundamental pasar. Akan tetapi, dalam praktik jastip, harga bisa terdistorsi karena adanya “biaya akses” yang tidak resmi, seperti ongkos antre dan keterbatasan stok yang dimanfaatkan sebagai peluang keuntungan.

“Ketika pembelian terkonsentrasi dan dijual kembali dengan markup, harga tidak lagi sepenuhnya mencerminkan fundamental, tapi juga rente dari akses yang terbatas,” katanya.

Ia juga menyoroti potensi terbentuknya kelangkaan semu di pasar. Ketika stok di butik resmi banyak diserap oleh pelaku jastip, ketersediaan barang di mata konsumen umum menjadi terbatas. Kondisi ini dapat memicu persepsi bahwa emas sulit didapat, sehingga mendorong kenaikan harga di pasar sekunder.

Selain itu, dari sisi konsumen, pembelian melalui jastip dinilai kurang efisien. Tambahan biaya jasa, meskipun terlihat kecil, dapat menggerus potensi keuntungan dari investasi emas yang secara umum memiliki margin tipis. Rizal menilai dalam banyak kasus, keputusan membeli emas saat ini tidak sepenuhnya didasarkan pada perhitungan rasional, melainkan dorongan tren atau fear of missing out (FOMO).

“Kalau membeli dalam situasi hype, ada risiko overpaying karena keputusan tidak berbasis valuasi,” ujar Rizal.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk tetap mengedepankan strategi investasi yang disiplin, termasuk membeli melalui kanal resmi dan menghindari tambahan biaya yang tidak perlu. Menurut Rizal, fenomena jastip ini juga menjadi sinyal bahwa sistem distribusi emas ritel masih memiliki celah yang belum optimal dalam menjawab lonjakan permintaan. Selama ketimpangan tersebut masih terjadi, praktik jastip kemungkinan akan terus bertahan sebagai mekanisme alternatif di pasar.

Hingga berita ini ditayangkan, Kompas.com telah menghubungi Manager Corporate Secretary ANTAM Ardian Ganang, untuk meminta keterangan resmi terkait fenomena ini, namun belum mendapatkan respons.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2026/04/21/17540131/di-balik-antrean-butik-antam-ada-jastiper-berburu-emas-hingga-3-hari

Advertisement