JAKARTA, KOMPAS.com — Transformasi digital kian mengukuhkan posisinya sebagai mesin pertumbuhan utama bagi industri perbankan nasional. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membuktikan tren ini dengan mencatatkan kinerja solid pada kuartal I 2026, tidak hanya dari sisi laba, tetapi juga akselerasi signifikan dalam penguatan ekosistem digitalnya.
Di tengah gejolak global yang dipicu ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan internasional, Bank Mandiri berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 16,6 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Di balik capaian laba tersebut, digitalisasi memainkan peran krusial dalam memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan efisiensi operasional bank. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menegaskan bahwa penguatan kapabilitas digital telah bertransformasi dari sekadar kanal layanan menjadi infrastruktur vital untuk menjangkau seluruh lapisan ekonomi nasional.
“Seluruh kapabilitas digital Bank Mandiri sejatinya merupakan sarana untuk Bank Mandiri dapat menjangkau nasabah dengan efektif dan efisien secara operasional, bahkan hingga ke pulau-pulau terluar, mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang inklusif,” ujar Novita dalam acara public expose Kuartal I 2026 di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Akselerasi Pengguna dan Transaksi Digital
Penguatan digital Bank Mandiri tercermin jelas dari lonjakan pengguna dan volume transaksi pada platform utamanya. Aplikasi Livin’ by Mandiri kini telah menggaet sekitar 39 juta pengguna terdaftar, sebuah pertumbuhan 27 persen YoY.
Pertumbuhan ini tidak hanya didorong oleh akuisisi pengguna baru yang masif, tetapi juga oleh peningkatan intensitas penggunaan. Bank Mandiri mencatat rata-rata akuisisi sekitar 27.000 pengguna baru setiap hari, menandakan penetrasi digital banking yang terus berkembang pesat.
Dari sisi aktivitas, frekuensi transaksi di Livin’ juga mengalami peningkatan signifikan, tumbuh 13 persen YoY menjadi 1,24 miliar transaksi. Angka ini mengindikasikan perubahan perilaku nasabah yang semakin mengandalkan layanan digital untuk berbagai kebutuhan finansial, dari transaksi harian hingga layanan yang lebih kompleks.
Untuk memperkuat pengalaman pengguna, Bank Mandiri juga meluncurkan Livin’ Call, layanan call center bebas pulsa yang terintegrasi langsung di dalam aplikasi. Layanan ini beroperasi 24 jam sehari dan dapat diakses tanpa biaya tambahan, bahkan dari luar negeri, sehingga semakin memperluas aksesibilitas bagi nasabah.
Digitalisasi Segmen Bisnis dan UMKM
Transformasi digital Bank Mandiri tidak hanya menyasar segmen individu, tetapi juga merambah segmen bisnis melalui platform Kopra by Mandiri. Hingga kuartal I 2026, platform ini telah melayani sekitar 335.000 pengguna terdaftar, tumbuh 27 persen YoY.
Menariknya, sekitar 85 persen dari pengguna Kopra adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi telah menjangkau sektor usaha kecil yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional.
Frekuensi transaksi Kopra juga meningkat 13 persen YoY menjadi 395 juta transaksi. Peningkatan ini mengindikasikan pelaku usaha semakin mengandalkan solusi digital untuk mengelola arus kas, pembayaran, hingga integrasi sistem bisnis secara lebih efisien.
Selain Kopra, Bank Mandiri juga mengembangkan Livin’ Merchant sebagai platform digitalisasi bagi pelaku usaha. Hingga Maret 2026, platform ini digunakan oleh 3,3 juta merchant, tumbuh 28 persen YoY. Yang patut dicatat, sebanyak 63 persen merchant berasal dari kawasan non-urban, menegaskan bahwa digitalisasi Bank Mandiri tidak hanya terkonsentrasi di kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah yang lebih luas.
Ekspansi ini memperlihatkan peran digitalisasi dalam mempercepat inklusi keuangan, terutama bagi pelaku usaha di daerah yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses terhadap layanan perbankan.
Dampak Terhadap Efisiensi Operasional
Selain mendorong pertumbuhan bisnis, digitalisasi juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan efisiensi operasional Bank Mandiri. Hal ini tercermin dari perbaikan rasio biaya terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang turun ke level 58,0 persen, atau membaik 3,48 persen YoY.
Penurunan BOPO ini mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas bisnis tidak dibarengi dengan kenaikan biaya yang sepadan. Dengan kata lain, Bank Mandiri berhasil meningkatkan produktivitasnya melalui optimalisasi kanal digital.
Digitalisasi memungkinkan bank untuk mengurangi ketergantungan pada layanan fisik, mempercepat proses transaksi, serta menekan biaya operasional dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, transformasi digital bukan hanya sekadar strategi pertumbuhan, melainkan juga strategi efisiensi.
Memperluas Jangkauan Layanan ke Seluruh Indonesia
Salah satu dampak paling signifikan dari digitalisasi adalah kemampuan Bank Mandiri dalam menjangkau nasabah di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil. Dengan platform digital, layanan perbankan tidak lagi bergantung pada keberadaan kantor cabang.
Nasabah dapat mengakses berbagai layanan keuangan secara langsung melalui perangkat mobile, sehingga mengurangi hambatan geografis. Hal ini menjadi krusial dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, di mana distribusi layanan keuangan seringkali menghadapi tantangan infrastruktur.
Melalui Livin’, Kopra, dan Livin’ Merchant, Bank Mandiri berhasil membangun ekosistem digital yang terintegrasi, mencakup segmen individu, bisnis, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.
Integrasi Digital dalam Ekosistem Ekonomi
Transformasi digital Bank Mandiri juga tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan berbagai ekosistem ekonomi nasional. Hal ini terlihat dari dukungan terhadap program-program pemerintah yang memanfaatkan infrastruktur digital untuk meningkatkan efektivitas penyaluran.
Sebagai contoh, dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekitar 6.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah menggunakan layanan Virtual Account Bank Mandiri. Penggunaan sistem digital ini memperkuat tata kelola keuangan yang lebih transparan dan akuntabel.
Integrasi digital juga mendukung penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga kuartal I 2026, penyaluran KUR Bank Mandiri mencapai Rp 11 triliun dan menjangkau lebih dari 87.000 pelaku UMKM. Dengan dukungan platform digital, proses penyaluran menjadi lebih cepat dan efisien.
Fondasi Pertumbuhan Jangka Panjang
Penguatan digital tidak hanya berdampak pada kinerja jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang Bank Mandiri. Dengan basis pengguna yang terus meningkat dan ekosistem digital yang semakin luas, Bank Mandiri memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai produk dan layanan baru yang lebih inovatif.
Selain itu, digitalisasi membuka ruang bagi bank untuk mengoptimalkan data nasabah dalam pengembangan layanan yang lebih personal dan relevan. Peningkatan penetrasi digital di segmen UMKM juga menunjukkan potensi besar dalam memperluas basis nasabah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Menjaga Keseimbangan Antara Ekspansi dan Kualitas
Meskipun agresif dalam digitalisasi, Bank Mandiri tetap menjaga kualitas bisnisnya. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross yang terjaga di level 0,98 persen, jauh di bawah rata-rata industri sebesar 2,17 persen.
Kualitas aset yang baik ini didukung oleh pencadangan yang memadai, dengan NPL coverage ratio mencapai 245 persen. Ini menunjukkan bahwa ekspansi digital yang dilakukan tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian.
Kombinasi antara pertumbuhan digital, efisiensi operasional, dan manajemen risiko yang disiplin menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kinerja Bank Mandiri.
Digitalisasi Sebagai Pilar Inklusi Keuangan
Secara keseluruhan, transformasi digital Bank Mandiri menunjukkan bahwa digitalisasi telah berkembang menjadi pilar utama dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Dengan menjangkau jutaan pengguna individu, ratusan ribu pelaku usaha, serta jutaan merchant, Bank Mandiri memainkan peran penting dalam memperluas akses layanan keuangan.
Langkah ini sejalan dengan upaya memperkuat struktur ekonomi nasional yang lebih merata dan inklusif, di mana teknologi menjadi enabler utama dalam menjembatani kesenjangan akses.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, digitalisasi memberikan Bank Mandiri fleksibilitas dan daya tahan untuk terus bertumbuh, sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional.






