DEPOK, KOMPAS.com – Mentari belum sepenuhnya terbit ketika Sukati (46) memulai langkahnya menyusuri jalanan Depok Baru, Kota Depok. Dengan bakul berisi botol-botol jamu di pundak, ia berjalan dari gang ke gang, menawarkan minuman tradisional kepada pelanggan setianya. Bagi Sukati, rutinitas ini lebih dari sekadar pekerjaan; ini adalah jalan hidup yang dijalaninya dengan keteguhan sebagai seorang perempuan.
“Kalau tidak semangat, bagaimana? Harus tetap jalan. Masih ada keluarga yang harus dibantu,” ujar Sukati saat ditemui Kompas.com, Selasa (21/4/2026). Pengalaman berjualan jamu gendong telah ia jalani selama kurang lebih 10 tahun. Perempuan asal Jawa Tengah ini meneruskan tradisi keluarganya, mengikuti jejak ibunya yang juga seorang penjual jamu.
Namun, bagi Sukati, pekerjaan ini bukan sekadar warisan, melainkan wujud perjuangan. Setiap hari, aktivitasnya dimulai sejak pukul 05.00 WIB hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah jeda istirahat, ia kembali berjualan pada sore hari, dari pukul 16.00 WIB hingga menjelang malam. Di tengah padatnya aktivitas dan tuntutan fisik, penghasilan yang didapat pun tidak selalu pasti.
Perjuangan di Balik Penghasilan
Dalam sehari, Sukati bisa membawa pulang sekitar Rp 100.000. Namun, di hari-hari sepi, penghasilannya bisa menyusut hingga Rp 50.000, bahkan terkadang di bawah angka tersebut. Uang hasil jerih payahnya ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus membantu membiayai anaknya yang berada di kampung halaman.
Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, Sukati memikul tanggung jawab penuh sebagai tulang punggung keluarga. “Untuk makan sehari-hari, untuk anak juga. Yang satu juga bantu jualan,” katanya, menjelaskan peran keluarganya dalam upaya bertahan hidup.
Mandiri, Kunci Pemberdayaan Perempuan
Meskipun tidak mengenyam pendidikan tinggi, Sukati memiliki pandangan yang tegas mengenai arti menjadi perempuan. Baginya, perempuan harus mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, terutama dalam menghadapi kesulitan. “Sebagai perempuan harus berdaya. Jangan minta-minta, jangan mengemis. Walaupun susah, harus tetap usaha. Bisa dagang, bisa apa saja,” tegas Sukati.
Ia menyadari tren saat ini banyak perempuan bercita-cita bekerja di perusahaan. Namun, Sukati meyakini bahwa peluang untuk mandiri sebenarnya terbuka lebar, asalkan ada kemauan yang kuat. “Sekarang banyak yang ingin kerja di perusahaan. Padahal kalau masih kuat, sebenarnya bisa usaha sendiri,” tuturnya.
Semangat Kartini dalam Kehidupan Sehari-hari
Semangat kemandirian inilah yang ia maknai dalam peringatan Hari Kartini. Bagi Sukati, sosok Raden Ajeng Kartini bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan representasi perempuan yang berani berjuang dan pantang menyerah pada keadaan. “Hari Kartini itu ya perempuan harus kuat. Harus bisa berdiri sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?” ujar Sukati.
Di tengah hiruk-pikuk jalanan dan beban bakul yang tak ringan, Sukati terus melangkah. Setiap tetes keringat yang jatuh adalah bukti nyata bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga berdenyut kuat di jalanan kota, dalam diri perempuan sederhana yang memilih untuk tak henti berjuang.






