Konsep “Kartini modern” tidak melulu diartikan sebagai perempuan yang aktif berkiprah di ruang publik, melainkan juga memiliki peran strategis dalam membangun kualitas generasi bangsa. Di tengah arus pemberdayaan perempuan dan perubahan zaman, perempuan dinilai tetap memegang posisi krusial dalam tatanan sosial dan keluarga.
Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Nia Elvina, M.Si, berpendapat bahwa makna Kartini modern perlu ditinjau secara lebih luas dan kontekstual. Hal ini disampaikannya saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).
Kartini Modern Berakar pada Pemikiran Bangsa
Nia Elvina menyoroti bahwa gagasan mengenai perempuan dan pembangunan bangsa sejatinya telah lama digagas oleh para pendiri bangsa. Ia merujuk pada buku “Sarinah” karya Presiden pertama RI, Soekarno, sebagai salah satu pijakan penting.
“Saya kira buku Sarinah bisa dijadikan rujukan dalam mengembangkan potensi perempuan dan pembangunan bangsa,” ujar Nia. Pemikiran tersebut dinilai masih sangat relevan untuk membingkai peran perempuan di masa kini.
[video.1]Peran Perempuan Tak Terbatas pada Ruang Publik
Menurut Nia, dalam konteks perkembangan masyarakat Indonesia, pembagian peran dalam lingkungan keluarga masih memegang peranan penting. Ia menjelaskan bahwa dalam sistem sosial, terdapat pembagian kerja yang umum terjadi antara ayah dan ibu.
Ayah cenderung lebih banyak berperan di ranah publik sebagai tulang punggung pencari nafkah. Sementara itu, ibu memiliki peran vital di ranah domestik, utamanya dalam memelihara dan membangun ikatan emosional dalam keluarga.
[img.2]
Fungsi Kasih Sayang Penopang Perkembangan Anak
Nia Elvina menekankan pentingnya fungsi afeksi atau kasih sayang dalam keluarga sebagai faktor krusial bagi tumbuh kembang anak. Ia mengutip beberapa kajian yang menunjukkan bahwa fungsi tersebut dapat mengalami penurunan jika tidak dijalankan secara optimal.
“Fungsi afeksi itu tidak atau kurang berjalan ketika perempuan sepenuhnya masuk dalam ranah publik,” jelasnya. Peran ini dianggap fundamental karena bersinggungan langsung dengan pembentukan karakter generasi penerus bangsa.
Perempuan adalah Arsitek Generasi Pemimpin
Meskipun demikian, Nia menegaskan bahwa kontribusi perempuan sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan memegang andil besar dalam melahirkan dan membentuk para pemimpin bangsa.
Peran ini tidak hanya terefleksi dari aktivitas mereka di luar rumah, tetapi juga melalui proses pendidikan dan pengasuhan di dalam lingkungan keluarga. “Perempuan amat berperan dalam menelurkan pemimpin atau pengelola bangsa yang baik,” imbuhnya.
Kartini Modern adalah Sosok Berpengetahuan Luas
Dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, Nia Elvina menggarisbawahi pentingnya perempuan memiliki bekal pengetahuan yang luas. Menurutnya, Kartini modern adalah sosok perempuan yang mampu mengembangkan diri sekaligus menjadi agen pembelajaran bagi generasi penerusnya.
Ia berpandangan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk mendorong lahirnya perempuan-perempuan yang berpendidikan tinggi. “Negara harus mampu menelurkan Kartini yang berpengetahuan luas agar bisa mendidik putra-putri bangsa dengan baik,” tegasnya.
Konsep Kartini modern, oleh karena itu, tidak semata-mata berbicara tentang kebebasan atau kesetaraan di ruang publik. Perempuan juga memiliki peran esensial dalam membangun fondasi keluarga yang kuat dan membentuk karakter generasi penerus bangsa.
Keseimbangan antara peran sosial dan peran domestik inilah yang menjadi kunci untuk memahami esensi makna Kartini di era kontemporer.






