Lifestyle

Kuat Bukan Berarti Harus Sendiri, Refleksi Perempuan Tangguh Masa Kini

Advertisement

Di tengah tuntutan peran ganda yang kian kompleks, banyak perempuan masa kini mendapati diri mereka harus menyeimbangkan karier, rumah tangga, dan pengembangan diri. Namun, di balik upaya keras tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah ketangguhan identik dengan berjuang sendirian?

Pengalaman Alfina Rahmatia, seorang perempuan berusia 30 tahun yang tengah menempuh studi doktoral di Turki, menawarkan perspektif yang berbeda. Baginya, ketangguhan bukan berarti harus menanggung segala beban seorang diri.

Saat ini, Alfina aktif menjalankan berbagai peran secara bersamaan: sebagai ibu, mahasiswi doktoral, peneliti, serta terlibat dalam kegiatan organisasi. Perjalanan ini, menurutnya, berakar dari pola asuh yang menekankan kemandirian sejak usia dini.

Mandiri Sejak Dini, Bekal Menghadapi Dunia

Sejak kecil, Alfina dibiasakan untuk mengambil keputusan sendiri. Orang tuanya memberikan ruang kebebasan yang cukup, namun selalu dibarengi dengan penanaman nilai tanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil.

Titik balik penting dalam pembentukan kemandiriannya terjadi saat ia harus melanjutkan pendidikan ke jenjang pesantren di luar pulau setelah lulus sekolah dasar. Jauh dari keluarga, Alfina belajar untuk mengurus segala kebutuhan dirinya sendiri dan menghadapi berbagai tantangan tanpa bergantung pada orang tua.

“Di sana saya belajar mandiri. Kepribadian saya banyak terbentuk sejak masa itu,” ujar Alfina saat dihubungi Kompas.com belum lama ini. Kemandirian yang terasah sejak belia ini kemudian menjadi bekal berharga dalam berbagai fase kehidupannya, termasuk saat ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

Ketika Kemandirian Berubah Menjadi Beban

Namun, di balik kekuatan yang ia miliki, Alfina mulai menyadari adanya sisi lain dari kemandirian yang sempat luput dari pemahamannya. Kebiasaannya untuk selalu mandiri membuatnya merasa bahwa ia harus mampu menyelesaikan semua masalah seorang diri.

Dalam menghadapi masa-masa sulit, ia cenderung memendam perasaannya dan enggan membuka diri, bahkan kepada orang tuanya sendiri. “Tiap orang pasti punya momen jatuh. Waktu itu, saya merasa semua bisa dilakukan sendiri,” ungkapnya.

Kondisi tersebut justru berujung pada beban yang terasa semakin berat. Hingga akhirnya, ia mendapatkan sebuah saran berharga untuk mulai membuka diri dan tidak menanggung segalanya sendirian. Dari pengalaman inilah, Alfina mulai memahami bahwa ketangguhan tidak serta-merta berarti menutup diri dari uluran tangan bantuan orang lain.

Belajar Memahami Peran Sebagai Anak

Pengalaman tersebut menjadi sebuah titik balik yang signifikan dalam hidup Alfina. Ia menyadari bahwa hubungan antara anak dan orang tua bukanlah sebuah relasi satu arah. Jika selama ini ia melihat orang tuanya sebagai pihak yang belajar untuk membesarkan anak, kini ia memahami bahwa dirinya pun perlu belajar untuk menjadi seorang anak, termasuk belajar untuk bersikap terbuka dan menaruh kepercayaan pada orang tua.

Advertisement

“Saya belajar bahwa bukan hanya orangtua yang belajar menjadi orangtua, tapi saya juga belajar menjadi anak,” katanya. Kesadaran ini membantunya menemukan keseimbangan yang lebih baik antara menjaga kemandirian dan bersikap terbuka kepada orang lain.

Kuat Bukan Berarti Harus Sendiri

Dalam menghadapi berbagai tekanan dan kegagalan, nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya tetap menjadi pegangan kuat. Salah satu nasihat yang selalu ia ingat adalah pentingnya melibatkan Tuhan dalam setiap proses kehidupan.

“Sholat, mengaji, berdzikir, dan bersyukur. Itu yang selalu diingatkan,” tuturnya. Nilai-nilai spiritual ini membantunya menemukan ketenangan batin, sekaligus mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berjuang sendirian.

Kini, sebagai perempuan yang menjalankan berbagai peran, Alfina memandang ketangguhan dari sudut pandang yang lebih komprehensif. Baginya, menjadi kuat bukan berarti menutup diri, melainkan mampu mengenali kapan saatnya untuk berdiri tegak sendiri dan kapan waktu yang tepat untuk bersandar pada orang lain.

Refleksi Perempuan Masa Kini: Kekuatan dalam Dukungan

Pengalaman Alfina ini dapat menjadi sebuah refleksi bagi banyak perempuan di masa kini. Tuntutan untuk selalu terlihat kuat sering kali membuat perempuan merasa terbebani untuk menyelesaikan segala sesuatu tanpa bantuan.

Padahal, memiliki dukungan yang memadai, baik dari keluarga, pasangan, maupun lingkungan sekitar, justru menjadi elemen krusial dalam proses pertumbuhan diri. Ketangguhan tidak hanya diukur dari kemampuan untuk bertahan, tetapi juga dari keberanian untuk mengakui keterbatasan diri dan membuka diri terhadap bantuan.

Di tengah berbagai peran yang dijalani, Alfina menekankan bahwa menjadi perempuan adalah sebuah anugerah yang patut dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa syukur. “Berbahagialah menjadi perempuan. Sibukkan diri dengan ilmu dan amal baik,” pungkasnya.

Sumber: http://lifestyle.kompas.com/read/2026/04/22/160500820/kuat-bukan-berarti-harus-sendiri-refleksi-perempuan-tangguh-masa-kini

Advertisement