Regional

Kisah Suryani, Bidan Pelosok Aceh 15 Tahun Tetap Mengabdi meski Gaji Minim dan Hadapi Banjir

Advertisement

Langkahan, Aceh Utara – Di tengah keterbatasan dan minimnya honor, Suryani (40) telah mengabdikan diri sebagai bidan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, selama 15 tahun. Wilayah yang berjarak sekitar 2,5 jam dari Kota Lhokseumawe ini adalah satu-satunya desa di pedalaman yang dilayaninya, dan ia adalah satu-satunya tenaga medis berstatus bidan di sana.

Sejak tahun 2011, ibu dua anak ini mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk membantu persalinan ibu-ibu di daerah terpencil tersebut. Berlatar belakang pendidikan dan kehidupan di pedalaman, Suryani memiliki tekad kuat untuk menyalurkan ilmunya demi kesehatan reproduksi wanita hingga proses persalinan.

“Saya dari 2011 sampai 2025 berstatus tenaga sukarela di Puskesmas Langkahan, sekaligus bidan desa di Geudumbak. Honornya tidak menentu, tergantung kebaikan hati kepala puskesmas,” ujar Suryani kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026). Istri dari Zahari Mukhtar ini kemudian menjelaskan bahwa pada 5 Februari 2026, statusnya berubah menjadi Pegawai dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu Kabupaten Aceh Utara dengan honor Rp 200.000 per bulan.

Tugasnya mencakup pelayanan kesehatan ibu dan anak di beberapa desa pedalaman, meliputi Desa Gedumbak, Buket Linteung, Rumoh Rayeuk, dan Leubok Pusaka, yang semuanya berada di Kecamatan Langkahan. Desa-desa ini berbatasan langsung dengan hutan dan merupakan salah satu wilayah paling parah terdampak banjir pada 26 November 2025.

“Intinya, kalau mau jadi bidan harus ikhlas dan tulus melayani. Soal rezeki itu urusan Allah SWT. Saya menambah penghasilan dengan layanan kesehatan dan obat secara mandiri,” katanya, menekankan dedikasinya yang melampaui imbalan materi.

Tantangan Keseharian di Pelosok

Selama 15 tahun pengabdiannya, Suryani telah melewati berbagai kesulitan. Akses sinyal yang terbatas dan kondisi jalan yang buruk menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, hal tersebut tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk tetap siaga saat waktu persalinan tiba, tanpa memandang lokasi maupun waktu.

Pengalaman paling menantang ia hadapi saat banjir melanda pada November 2025. Di tengah kondisi darurat, Suryani tetap sigap membantu persalinan seorang ibu di tenda pengungsian. Pasien tersebut, Fatimah, warga Desa Buket Rayeuk, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, terpaksa dievakuasi ke tenda pengungsian di Unit 5, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, setelah rumahnya hancur akibat banjir.

Advertisement

“Banjir mulai 26 November 2025. Pasien Fatimah dibawa setelah diselamatkan warga dari pohon sawit ke lokasi pengungsian saya pada 27 November 2025. Syukurnya lahiran normal pada 28 November 2026. Padahal, rumah saya hancur, tetapi tugas kita bantu pasien, wajib kita bantu,” ungkapnya dengan nada haru namun tetap tegar.

Meskipun dilanda kesedihan atas musibah yang menimpanya, Suryani memilih untuk mengesampingkan rasa pilu demi tugas kemanusiaan. “Berkat pertolongan Allah SWT, pasiennya selamat,” ujarnya penuh syukur.

Harapan dari Negara

Kini, Suryani dan keluarganya menempati hunian sementara (huntara) sebagai penyintas banjir. Ia menceritakan pengalamannya baru-baru ini membantu persalinan di huntara. “Baru pekan lalu saya bantu lahiran di huntara. Bidan tidak kenal waktu dan tanggal merah. Kapan waktunya tiba, siap berangkat dan bantu semaksimal mungkin,” katanya.

Menyikapi pengabdiannya yang tak kenal lelah, Suryani menyampaikan harapannya kepada negara. “Semoga bidan ini diangkat menjadi PPPK Penuh Waktu sehingga bisa lebih sejahtera. Soal pelayanan, lihatlah, jangan ragukan pelayanan kami untuk masyarakat di pelosok negeri,” pungkasnya, menyuarakan aspirasi para tenaga medis di daerah terpencil.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2026/04/21/184115578/kisah-suryani-bidan-pelosok-aceh-15-tahun-tetap-mengabdi-meski-gaji-minim

Advertisement