BANGKALAN, KOMPAS.com — Insiden dugaan keracunan makanan menyelimuti SMPN 1 Blega, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Dua siswa dan satu guru dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan pada Senin (20/4/2026). Salah satu siswa dan guru bahkan terpaksa dirujuk ke puskesmas setempat untuk mendapatkan penanganan medis.
“Itu kejadiannya kemarin hari Senin,” kata Kepala Satuan Tugas MBG Bangkalan, Bambang Budi Mustika, kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Makanan Diduga Tak Layak Konsumsi
Peristiwa ini bermula ketika sekolah menerima distribusi MBG dari SPPG Blega, yang bekerja sama dengan Yayasan Manunggal Kartika Jaya, sekitar pukul 10.00 WIB. Makanan tersebut kemudian dibagikan kepada para siswa.
Seorang guru yang bertugas memeriksa kelayakan makanan sebelum dibagikan mengaku sempat mencicipi salah satu menu. Ia mendapati sayuran yang disajikan, yakni tumis jagung dan buncis, menunjukkan perubahan warna yang mencurigakan.
“Menurut keterangan dari sekolah, sayuran itu juga sudah agak berlendir serta terlihat tidak segar,” ujar Bambang, mengutip laporan dari pihak sekolah.
Selain sayuran, lauk berupa nugget juga diduga dalam kondisi yang tidak segar atau basi.
Guru Muntah, Siswa Mengalami Mual
Setelah mencicipi makanan tersebut, guru yang bersangkutan dilaporkan mengalami keringat dingin dan muntah-muntah. Menyadari potensi bahaya, pihak sekolah segera mengimbau seluruh siswa untuk tidak mengonsumsi menu MBG yang dibagikan.
“Namun ternyata ada dua siswa yang sudah makan. Dua siswa itu mengalami mual namun tidak sampai muntah,” jelas Bambang.
Kondisi salah satu siswa kemudian dilaporkan memburuk. Bersama guru yang juga terdampak, siswa tersebut segera dirujuk ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
“Diduga mengalami keracunan. Namun kami belum tahu penyebabnya apa,” katanya.
Setelah menjalani perawatan, guru yang sempat dirujuk dilaporkan telah diperbolehkan pulang. Sementara itu, satu siswa masih dalam pantauan tim medis.
“Siswa masih dirawat. Nunggu observasi dokter jaga, insya Allah hari ini bisa pulang,” ujarnya.
Investigasi dan Pengujian Laboratorium
Menyikapi insiden ini, tim kesehatan dari puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat langsung bergerak melakukan penyelidikan epidemiologi. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi akar penyebab keracunan tersebut.
Selain itu, sampel makanan MBG yang diduga menjadi pemicu keracunan telah dikumpulkan dan diserahkan kepada Dinas Kesehatan untuk dilakukan pengujian laboratorium.
Moh Amir, perwakilan dari Yayasan Manunggal Kartika Jaya selaku mitra SPPG Blega, menyatakan bahwa program MBG menjangkau total 2.892 penerima manfaat. Ia mengonfirmasi bahwa insiden dugaan keracunan hanya terjadi di SMPN 1 Blega.
“Kami langsung lakukan penarikan di sekolah itu saja. Karena di sekolah lain alhamdulillah aman,” ujarnya.
Amir menambahkan, operasional dapur sementara dihentikan sambil menunggu hasil uji laboratorium keluar.
“Sembari menunggu hasil, dapur masih belum beroperasi lagi,” katanya.
Ke depannya, pihak yayasan berkomitmen untuk memperketat pengawasan terhadap proses pengolahan makanan agar sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
“Kita akan lebih berhati-hati dan wajib sesuai melakukan SOP sesuai standar,” pungkasnya.






