Lifestyle

Momentum Hari Kartini, Saatnya Ibu Kenali Proteksi Listrik di Rumah

Advertisement

Di tengah kesibukan rutinitas harian, seorang ibu kerap menjadi garda terdepan dalam memastikan kenyamanan dan keamanan rumah tangga. Mulai dari menyiapkan sarapan, memastikan bekal anak, hingga menjaga kebersihan hunian, peran ibu tak tergantikan. Namun, di balik kenyamanan yang dihadirkan oleh berbagai peralatan listrik di rumah modern, tersimpan satu aspek krusial yang sering terabaikan: keamanan sistem kelistrikan.

Perayaan Hari Kartini tahun ini menjadi momentum yang tepat bagi para ibu untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya kebocoran arus listrik di rumah. Lebih dari sekadar kiprah di ruang publik, peran perempuan dalam menjaga kualitas hidup keluarga di ranah domestik memiliki nilai strategis yang tak ternilai.

Risiko Tersembunyi di Balik Kenyamanan Listrik

Berbeda dengan korsleting yang sering kali disertai percikan api atau padamnya listrik secara tiba-tiba, kebocoran arus listrik cenderung sulit dideteksi secara kasat mata. Fenomena ini dapat terjadi akibat kerusakan pada instalasi atau peralatan listrik, kelembapan, atau penurunan kualitas isolasi.

Dalam kondisi tertentu, arus bocor dapat merambat ke permukaan logam peralatan rumah tangga. Kontak langsung dengan permukaan tersebut dapat berujung pada risiko sengatan listrik, terutama bagi anak-anak yang memiliki mobilitas tinggi dan cenderung menyentuh berbagai benda di sekitarnya.

Hanum Lily Rahma (30), seorang ibu sekaligus kreator konten, nyaris kehilangan nyawa akibat insiden tersebut. Pada Oktober 2025, saat hendak memandikan anaknya, tubuh bagian kanannya tiba-tiba kaku tak bisa digerakkan ketika memegang selang hand shower. Pengalaman mengerikan itu diceritakan kembali dalam pemberitaan Kompas.id, Senin (13/4/2026).

“Pandangannya gelap. Ia pun merasa maut begitu dekat.”

Dengan sisa tenaga, Hanum berjuang menggunakan sisi kiri tubuhnya untuk berpegangan pada kusen pintu hingga akhirnya berhasil terlepas dari aliran listrik. Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa sengatan tersebut berasal dari arus bocor yang ternyata juga mengalir pada shower di dua kamar mandi lainnya di rumahnya. Ancaman ini sama sekali tidak terdeteksi sebelumnya.

Pengalaman serupa juga dialami Anne Permata. Melalui video yang diunggah di akun TikTok @annepermata pada Jumat (3/10/2025), Anne menceritakan bagaimana plafon rumahnya yang bocor saat hujan deras memicu korsleting pada kipas angin yang baru saja dipasang.

“Enggak bikin kebakaran saja sudah bersyukur karena ternyata saat musim hujan, risiko korsleting listrik dan arus bocor itu meningkat,” ujar Anne dalam unggahan videonya.

Kedua kejadian ini menjadi semakin mengejutkan mengingat rumah Hanum dan Anne telah dilengkapi dengan miniature circuit breaker (MCB), alat pengaman listrik yang umum terpasang di sebagian besar rumah di Indonesia. Namun, kenyataannya, MCB tidak mampu mendeteksi kebocoran arus listrik seperti yang mereka alami.

MCB Saja Tidak Cukup?

Banyak yang meyakini bahwa MCB yang terpasang di rumah sudah memadai untuk melindungi seluruh sistem kelistrikan. Padahal, fungsi utama MCB adalah memutus aliran listrik ketika terjadi beban berlebih atau hubungan arus pendek (korsleting).

MCB tidak dirancang untuk mendeteksi kebocoran arus dalam skala kecil yang tetap berpotensi membahayakan manusia. Dikutip dari laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kamis (2/10/2025), hasil pengukuran arus sisa terhadap 1.000 instalasi oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian ESDM pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 7 persen instalasi rumah tangga masuk kategori rawan dan 9 persen masuk kategori sangat rawan. Kondisi ini berisiko memicu kebakaran.

Data dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkar) Provinsi DKI Jakarta juga mengindikasikan hal serupa. Dari 1.656 kebakaran yang terjadi pada tahun 2025, sebanyak 1.017 kasus atau 61,41 persen diduga disebabkan oleh arus listrik. Angka ini konsisten dengan tahun sebelumnya, di mana 61,12 persen dari total 1.969 kejadian kebakaran diduga dipicu oleh arus listrik.

Data kebakaran periode 2024-2025 secara konsisten menunjukkan bahwa bangunan rumah menjadi objek yang paling sering terbakar.

Advertisement

Lindungi Rumah dari Kebocoran Arus Listrik dengan GPAS

Untuk mengantisipasi risiko kebocoran arus listrik, pemasangan perangkat ground fault protection atau yang lebih dikenal sebagai gawai proteksi arus (GPAS) menjadi pelindung tambahan yang sangat direkomendasikan bersama MCB.

Menurut laman gatrik.esdm.go.id, perangkat ini bekerja dengan cara mendeteksi selisih arus yang mengindikasikan adanya kebocoran listrik. Jika terdeteksi kebocoran, GPAS akan secara otomatis memutus aliran listrik dalam hitungan detik.

Mekanisme ini efektif meminimalkan risiko sengatan listrik sebelum menimbulkan dampak yang lebih serius. Sederhananya, jika MCB berfungsi melindungi instalasi dan peralatan dari kerusakan akibat beban berlebih, GPAS dirancang khusus untuk melindungi manusia dari bahaya sengatan akibat arus bocor.

Dalam konteks rumah tangga modern yang dipenuhi beragam peralatan elektronik, keberadaan proteksi tambahan seperti GPAS menjadi semakin relevan. Hal ini terutama penting bagi keluarga dengan anak kecil atau lansia yang lebih rentan terhadap dampak sengatan listrik.

Penting untuk diingat bahwa pemasangan GPAS harus dilakukan oleh teknisi atau instalatur listrik bersertifikat untuk memastikan fungsinya optimal sesuai standar keselamatan.

Jenis-jenis GPAS yang Tersedia

Di pasaran, GPAS tersedia dalam beberapa jenis:

  • Residual Current Circuit Breaker (RCCB): Berfungsi khusus untuk mendeteksi dan memutus arus bocor.
  • Residual Current Circuit Breaker with Overcurrent Protection (RCBO): Merupakan kombinasi antara RCCB dan MCB dalam satu perangkat. Fungsinya melindungi dari arus bocor, serta beban berlebih dan korsleting.

RCBO menjadi solusi yang dipilih oleh Hanum dan Anne karena perlindungan yang lebih komprehensif setelah mengalami sendiri kejadian arus bocor di rumah mereka.

Perempuan dan Literasi Keamanan Rumah Tangga

Kesadaran akan keamanan rumah tangga kini tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab teknisi atau kepala keluarga semata. Ibu memegang peranan penting dalam hal ini dengan memahami risiko arus bocor dan cara penanggulangannya.

Momentum Hari Kartini dapat menjadi pengingat bahwa perempuan masa kini, dengan akses informasi yang luas, mampu mengambil keputusan krusial demi keselamatan keluarganya. Sebagai pengelola rumah tangga, ibu memiliki peran strategis dalam memastikan instalasi listrik diperiksa secara berkala.

Langkah-langkah sederhana seperti tidak menumpuk banyak colokan pada satu titik, memastikan kabel tidak terjepit atau terkelupas, serta berkonsultasi dengan teknisi listrik bersertifikat saat melakukan renovasi, merupakan bagian dari upaya pencegahan. Termasuk pula pemasangan proteksi tambahan seperti GPAS demi kenyamanan dan keamanan seluruh anggota keluarga.

Perlu disadari, rumah yang nyaman tidak hanya berasal dari desain interior dan kelengkapan peralatan. Rasa nyaman sejati juga lahir dari rasa aman. Ketenangan saat anak bermain di ruang keluarga atau saat seluruh anggota keluarga beristirahat di malam hari tanpa kekhawatiran akan risiko arus bocor.

Pemasangan sistem proteksi tambahan seperti GPAS bukanlah sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk keselamatan. Semangat Kartini hari ini bukan hanya tentang perempuan yang harus dilindungi, melainkan juga perempuan yang aktif melindungi. Kepekaan terhadap risiko di rumah dan keberanian dalam mengambil langkah nyata, seperti yang ditunjukkan Hanum dan Anne, mencerminkan peran ibu yang sesungguhnya: tidak hanya merawat, tetapi juga memastikan rumah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang keluarga.

Sumber: http://lifestyle.kompas.com/read/2026/04/21/184052720/momentum-hari-kartini-saatnya-ibu-kenali-proteksi-listrik-di-rumah

Advertisement