Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini untuk emansipasi perempuan terus bergema di era digital, meski kini tantangannya bertransformasi menjadi lebih halus namun tak kalah kompleks. Jika Kartini dahulu memperjuangkan hak atas pendidikan dan kebebasan berpikir, perempuan masa kini bergulat dengan tekanan yang muncul dari ruang media sosial, yang secara signifikan membentuk persepsi diri, terutama bagi remaja yang sedang dalam fase pencarian identitas.
Psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, Psikolog, menyoroti kerentanan perempuan terhadap tekanan media sosial. Menurutnya, ekspektasi sosial yang lebih besar terhadap perempuan, terkait penampilan, relasi pertemanan, dan penerimaan sosial, diperkuat oleh konten masif media sosial yang menampilkan standar kecantikan, popularitas, dan gaya hidup ideal. Hal ini seringkali menciptakan dorongan bagi perempuan muda untuk berusaha “menyamai” citra yang mereka lihat di layar.
“Dinamika pertemanan pada anak perempuan juga cenderung lebih sensitif. Hal-hal seperti komentar atau bahkan tidak mendapatkan ‘likes’ sesuai harapan bisa terasa sangat berdampak secara emosional,” ujar Vera saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Validasi Eksternal dan Rapuhnya Harga Diri
Penggunaan media sosial yang berlebihan berpotensi menjadikan platform tersebut sebagai tolok ukur utama bagi anak dalam menilai diri sendiri. Respons positif berupa “likes”, komentar, atau jumlah pengikut menjadi sumber validasi eksternal yang krusial. Dalam kondisi seperti ini, rasa percaya diri menjadi rapuh, bergantung pada penerimaan digital. Anak bisa merasa berharga saat mendapat respons positif, namun sebaliknya, merasa tidak cukup baik ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan.
Fenomena ini menggarisbawahi pergeseran perjuangan perempuan masa kini. Bukan lagi sekadar soal akses, melainkan bagaimana menjaga nilai diri di tengah arus penilaian publik yang konstan di ranah digital.
Tanda-tanda Tekanan Psikologis dari Media Sosial
Tekanan dari media sosial tidak selalu kentara, namun beberapa indikator dapat dikenali sejak dini. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, fokus berlebihan pada penampilan, serta kecemasan ketika unggahan tidak mendapat respons yang diharapkan, adalah beberapa tanda awal yang patut diwaspadai.
Selain itu, perubahan suasana hati yang drastis setelah menggunakan media sosial, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial nyata, gangguan pola tidur, hingga munculnya komentar negatif terhadap diri sendiri, juga merupakan sinyal peringatan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berujung pada masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Dampak Nyata Cyberbullying
Salah satu bentuk tekanan yang paling merusak di media sosial adalah cyberbullying. Berbeda dengan perundungan di dunia nyata, cyberbullying terjadi dalam ruang digital yang sulit dihindari oleh korban. Dalam jangka pendek, dampak yang dirasakan meliputi kesedihan, ketakutan, kecemasan, dan penurunan konsentrasi.
Sementara itu, dalam jangka panjang, cyberbullying dapat memicu rendah diri, depresi, trauma, hingga gangguan kecemasan. “Karena terjadi di ruang digital, anak sering merasa tidak punya tempat untuk bersembunyi. Ini yang membuat dampaknya bisa terasa lebih berat,” jelas Vera.
Peran Orangtua: Transformasi dari Kontrol ke Kolaborasi
Menghadapi tantangan ini, peran orangtua menjadi sangat vital. Namun, pendekatan yang bersifat terlalu membatasi justru berpotensi membuat anak semakin tertutup. Vera menyarankan agar orangtua beralih dari sekadar melarang menjadi mitra dalam menyusun aturan penggunaan media sosial bersama anak.
Contohnya, menyepakati durasi waktu penggunaan gawai, waktu bebas dari perangkat elektronik, hingga jenis konten yang aman untuk dikonsumsi. Melalui komunikasi yang terbuka, anak akan lebih memahami bahwa batasan yang ada bertujuan sebagai bentuk perlindungan, bukan semata-mata kontrol.
Membangun Ketahanan Mental di Era Digital
Perjuangan Kartini masa kini juga mencakup upaya membangun ketahanan mental di tengah derasnya arus informasi digital. Anak perlu dibekali pemahaman bahwa apa yang ditampilkan di media sosial seringkali hanyalah “potongan terbaik” dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh.
Selain itu, penting untuk membantu anak mengenali nilai diri mereka di luar aspek penampilan fisik, serta melatih kemampuan berpikir kritis terhadap konten digital yang mereka konsumsi. Aktivitas offline seperti olahraga, menekuni hobi, dan interaksi sosial secara langsung juga memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan emosi anak.
Pada akhirnya, rumah diharapkan dapat menjadi ruang paling aman bagi anak untuk kembali, tempat di mana mereka dapat diterima tanpa syarat, di tengah dunia digital yang dipenuhi dengan berbagai bentuk penilaian.






