BANYUWANGI, Kompas.com — Lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok, termasuk LPG non-subsidi, mulai mencekik pelaku usaha kecil di Banyuwangi, Jawa Timur. Bisnis laundry menjadi salah satu yang merasakan dampak terberat, memaksa pemiliknya menaikkan tarif di tengah anjloknya daya beli masyarakat.
Wulan Lestari, pemilik Q-ta Laundry di Jalan Kolonel Sugiyono, mengaku terpaksa menaikkan harga layanan dari Rp 7.000 menjadi Rp 8.000 per kilogram untuk pelanggan reguler. “Tidak bisa kalau tidak naik,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (30/1/2024).
Biaya Operasional Meroket
Kenaikan tarif ini, kata Wulan, adalah konsekuensi langsung dari lonjakan biaya operasional yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Ia merinci, harga parfum yang menjadi komponen penting dalam usahanya melonjak drastis hingga 80 persen. Jika sebelumnya satu jerigen parfum dibanderol sekitar Rp 400.000, kini harganya menyentuh angka Rp 800.000.
Tidak hanya parfum, harga plastik kemasan laundry pun tak luput dari kenaikan, mencapai 70 persen. Pukulan telak datang dari kenaikan harga LPG 12 kilogram, yang menjadi kebutuhan vital untuk operasional setrika uap dan pengeringan di laundry miliknya.
“Sudah naik semua. Parfum naik duluan, plastik naik, sekarang LPG. Rasanya mau pingsan,” keluh Wulan.
Dalam sepekan, Wulan menghabiskan dua hingga tiga tabung LPG 12 kilogram untuk melayani sekitar 200 kilogram cucian. Angka ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan bisnisnya pada pasokan gas.
Daya Beli Konsumen Menurun Drastis
Ironisnya, kenaikan tarif yang terpaksa dilakukan tidak serta-merta mendongkrak pendapatan. Sebaliknya, Wulan justru merasakan penurunan daya beli pelanggan yang cukup parah, diperkirakan mencapai 30 persen. Situasi ini membuat margin keuntungan usahanya semakin tergerus.
“Kalau dinaikkan lagi, pelanggan pasti komplain. Daya beli sekarang juga turun,” tuturnya.
Bertahan di Tengah Tekanan
Meski dihadapkan pada pelbagai tekanan, Wulan berkomitmen untuk mempertahankan usahanya dan belum berencana melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya. “Karyawan belum dikurangi, jangan sampai,” tegasnya.
Ia juga menyuarakan keprihatinan atas kebijakan penggunaan LPG non-subsidi yang dinilainya perlu mempertimbangkan skala usaha para pelaku bisnis kecil. “Jangan dipukul rata,” pintanya.
Wulan mengaku belum memiliki banyak opsi jika harga-harga terus merangkak naik. Untuk saat ini, ia memilih untuk bertahan menghadapi kondisi yang semakin berat.
“Kalau naik lagi, jujur saja, susah sekali. Sekarang saja sudah berat,” pungkasnya.






