Global

Ukraina Kini Pakai Robot untuk Perang, Tak Perlu Korbankan Nyawa

Advertisement

KYIV – Pemandangan tak lazim tersaji di garis depan pertempuran Ukraina. Dua tentara Rusia terlihat mengangkat tangan, menyerah tanpa perlawanan setelah diperintahkan oleh suara yang diteriakkan. Namun, penyergap mereka bukanlah prajurit manusia, melainkan robot darat dan drone yang dikendalikan dari jarak bermil-mil jauhnya. Peristiwa ini menandai era baru dalam peperangan modern.

Di bawah komando Mykola Zinkevych dari unit NC13 Brigade Serangan Terpisah Ketiga Ukraina, teknologi robotik kini mengambil alih peran paling berbahaya yang sebelumnya diemban oleh infanteri. “Posisi itu direbut tanpa satu tembakan pun,” ujar Zinkevych, dikutip dari CNN, Minggu (20/4/2026). Operasi tersebut menjadi tonggak sejarah di mana mesin sepenuhnya mengambil alih penyerbuan posisi musuh dan penangkapan tawanan, tanpa keterlibatan fisik tentara di lokasi.

Bagi Ukraina, penggunaan robot ini telah menjadi rutinitas harian untuk menyeimbangkan kekuatan melawan jumlah personel Rusia yang jauh lebih besar. Strategi ini lahir dari kesadaran pahit akan keterbatasan sumber daya manusia. “Kita tidak akan pernah memiliki lebih banyak personel dibandingkan musuh. Oleh karena itu, kita perlu mencapai keunggulan melalui teknologi,” tegas Zinkevych.

Ambisi Ukraina kini menargetkan sepertiga pasukan infanteri dapat digantikan oleh robot pada tahun ini. Hal ini sejalan dengan visi strategis Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang mengungkapkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, drone dan robot telah menjalankan lebih dari 22.000 misi. Angka ini menjadi simbol keberhasilan industri militer domestik Ukraina dan telah menyelamatkan ribuan nyawa prajurit karena robot memasuki area paling berbahaya.

Transformasi ini semakin pesat sejak pengangkatan Mykhailo Fedorov sebagai Menteri Pertahanan. Dengan latar belakang transformasi digital, Fedorov merancang cetak biru peperangan yang mengandalkan data untuk menciptakan “zona pembunuhan” sedalam 20 kilometer di sepanjang garis depan. Di zona ini, drone dan robot beroperasi tanpa henti untuk menahan setiap pergerakan musuh.

Keunggulan Mesin di Medan Tempur

Langit Ukraina telah lama dipenuhi drone udara, namun kini eksperimen beralih ke drone darat, yakni kendaraan kendali jarak jauh beroda atau berjejak. Awalnya, robot-robot ini hanya digunakan untuk evakuasi medis dan logistik. Kini, mereka telah berevolusi menjadi mesin penyerang yang mematikan.

Drone darat menawarkan keunggulan signifikan dibandingkan kendaraan militer besar. Kemampuannya sulit terdeteksi, beroperasi dalam cuaca ekstrem, dan memiliki daya tahan baterai yang luar biasa menjadi nilai tambah di medan perang. Zinkevych menceritakan sebuah robot bersenapan mesin yang mampu menahan serangan Rusia selama 45 hari hanya dengan perawatan ringan.

Visi Strategis yang Mengutamakan Nyawa

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menekankan pentingnya peran robot dalam menyelamatkan nyawa prajurit. “Ribuan nyawa prajurit berhasil diselamatkan karena robot yang memasuki area paling berbahaya,” ujarnya.

Advertisement

Ahli peperangan dari Royal United Services Institute, Robert Tollast, menilai bahwa meskipun robot mungkin belum bisa sepenuhnya mempertahankan wilayah tanpa dukungan manusia, peran mereka dalam evakuasi, pembersihan ranjau, dan pertempuran langsung telah mengubah doktrin perang modern secara fundamental.

Peran Manusia Tetap Krusial

Meskipun demikian, kehati-hatian tetap diperlukan dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) pada drone darat. Zinkevych, meskipun melihat proses yang terotomatisasi, tidak yakin bahwa teknologi otonom sepenuhnya memiliki tempat di medan perang. “Keputusan akhir harus selalu dibuat oleh manusia,” tegasnya.

“Apakah Anda akan mempercayakan senjata kepada kecerdasan buatan? Bagaimana kita bisa yakin bahwa ia mampu membedakan teman dari musuh? Bagaimana kita bisa yakin tidak akan ada kerusakan atau sesuatu yang salah?” lanjut Zinkevych, menyuarakan kekhawatiran tentang potensi kesalahan fatal yang dapat ditimbulkan oleh AI.

Namun, sebagai mantan prajurit infanteri dan komandan kelompok penyerang yang kini bertanggung jawab atas robot, Zinkevych mengaku takjub dengan kemajuan teknologi yang telah ia saksikan. “Jika saya mendengar diri saya berbicara seperti ini pada 2022, saya akan mengatakan bahwa itu adalah ucapan orang gila itu semua hanyalah fiksi ilmiah,” ujarnya.

“Nyawa manusia tak ternilai harganya, sedangkan robot tidak berdarah,” tambahnya. Oleh karena itu, ia meyakini bahwa sistem robot darat perlu dikembangkan jauh lebih cepat, dalam skala yang jauh lebih besar, dan diimplementasikan sebagai sistem global untuk digunakan di medan perang.

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2026/04/21/193000670/ukraina-kini-pakai-robot-untuk-perang-tak-perlu-korbankan-nyawa

Advertisement