Regional

Unesa Perketat Pengawasan UTBK Imbas Ada Praktik Joki, Ini Langkah-langkahnya

Advertisement

SURABAYA, Kompas.com – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperketat pengawasan pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) menyusul terungkapnya praktik joki pada Selasa (21/4/2026). Langkah-langkah baru diterapkan untuk memastikan integritas dan kejujuran dalam proses seleksi.

Pantauan di lokasi ujian, satu jam sebelum waktu pelaksanaan, peserta diwajibkan memasukkan seluruh tas dan barang bawaan ke dalam tas kresek merah. Tas tersebut kemudian diikat menggunakan kabel tis yang disediakan oleh panitia. Peserta hanya diperbolehkan membawa surat keterangan siswa aktif atau lulus, kartu peserta ujian UTBK, dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Setelah itu, peserta akan berbaris di depan lobi atau gedung lokasi ujian menunggu instruksi. Sekitar 20 menit sebelum ujian dimulai, mereka akan dipandu menuju ruangan ujian. Sebelum memasuki ruangan, peserta diminta melepas sepatu dan menjalani pemeriksaan menggunakan metal detector. Seluruh pakaian, termasuk kacamata, akan diperiksa, dan ikat pinggang wajib dilepas.

Barang bawaan yang dimasukkan ke dalam tas kresek akan dititipkan di tempat penitipan barang yang disediakan panitia di luar ruangan ujian. Setelah ujian selesai, tas kresek yang telah diberi nomor akan dikembalikan kepada peserta sebelum mereka meninggalkan gedung ujian.

Pengawasan Ketat dengan Tas Kresek Merah

Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Martadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah memperketat pengawasan UTBK. Salah satu langkahnya adalah mewajibkan peserta memasukkan tas dan barang bawaan ke dalam tas kresek merah yang diikat dengan kabel tis.

Tas kresek tersebut nantinya akan diletakkan di tempat penitipan barang di luar ruangan ujian. “Ada penemuan-penemuan unik, ketika seluruh kresek tas itu dikeluarkan dari ruangan pada saat mereka ujian, HP itu banyak yang bunyi,” ujar Martadi, Rabu (22/4/2026).

Ia menambahkan, temuan tersebut menimbulkan pertanyaan. “Ini kan aneh karena kalau orangtua atau teman pasti tahu kalau sedang ujian,” katanya.

Pemeriksaan Menyeluruh Termasuk Telinga

Selain itu, peserta yang berhijab akan diperiksa secara menyeluruh oleh panitia perempuan, termasuk bagian telinga. “Kemarin chip yang ditemukan tidak lebih dari biji kedelai dan dimasukkan ke telinga. Jadi memang kita mencegah hal-hal itu terjadi,” ungkap Martadi.

Advertisement

Untuk peserta disabilitas, pengawasan akan dilakukan dengan pendampingan satu pengawas dari panitia UTBK. “Maka kemudian, kami kan sudah memastikan dari awal kalau disabilitas tuna rungu, maka akan kita dampingi sehingga kalau ada kecurangan langsung tahu,” jelasnya.

Martadi menegaskan bahwa langkah-langkah ini diambil agar tidak mencederai nilai-nilai pendidikan. “Dan ini akan mencederai nilai-nilai pendidikan kita bahwa di pendidikan kita harus mengedepankan integritas, kejujuran itu sebagai sebuah nilai terpenting untuk pendidikan kita,” katanya.

Sanksi Tegas bagi Pengguna Jasa Joki

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa peserta yang terbukti menggunakan jasa joki akan didiskualifikasi dan diblacklist dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia seumur hidup.

“Karena ini sangat mencederai dari tujuan pendidikan kita yang mengedepankan integritas dan kejujuran. Jadi, boleh saja kita melakukan kekeliruan di dalam proses-proses keilmuan, tapi tidak boleh tidak jujur,” ucap Atip.

Tindakan tegas ini bertujuan untuk mencegah peserta melakukan perbuatan serupa di tahun-tahun mendatang. “Ya, sekarang enggak ada ditemukan dan setelah dia diterima itu, ditemukan bukti-bukti itu, maka menurut saya itu harus dikeluarkan,” pungkasnya.

Sumber: http://surabaya.kompas.com/read/2026/04/22/210207378/unesa-perketat-pengawasan-utbk-imbas-ada-praktik-joki-ini-langkah

Advertisement