Semangat emansipasi yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini terus menemukan relevansinya di era digital. Jika dahulu perjuangan perempuan berfokus pada akses pendidikan dan kebebasan berpikir, kini tantangan justru datang dari ruang siber dalam bentuk tekanan sosial di media sosial. Platform yang semula menjadi wadah ekspresi dan konektivitas kini kerap menampilkan standar, ekspektasi, dan penilaian yang dapat memengaruhi persepsi diri perempuan, terutama di kalangan remaja.
Psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, Psikolog, menjelaskan bahwa perempuan cenderung lebih rentan terhadap tekanan di media sosial. Hal ini terutama berkaitan dengan penampilan fisik, relasi sosial, dan kebutuhan akan penerimaan diri. Konten yang menampilkan standar kecantikan, popularitas, serta gaya hidup tertentu dapat mendorong kebiasaan membandingkan diri, yang dalam jangka panjang berpotensi mengikis rasa percaya diri.
“Hal-hal seperti komentar, jumlah ‘likes’, atau bahkan tidak mendapatkan respons sesuai harapan bisa berdampak secara emosional, terutama pada remaja perempuan,” ujar Vera saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.
Validasi Diri di Ujung Jari
Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menjadikan platform tersebut sebagai sumber utama validasi diri. Respons dari orang lain, seperti komentar atau jumlah pengikut, sering kali dijadikan tolok ukur nilai diri. Akibatnya, rasa percaya diri menjadi rentan, mudah terangkat saat mendapat apresiasi namun mudah goyah ketika respons tidak sesuai harapan.
Dalam konteks ini, ketahanan mental menjadi krusial. Kemampuan untuk memahami bahwa nilai diri tidak semata ditentukan oleh penilaian orang lain merupakan kunci dalam menghadapi tekanan media sosial.
Mengenali Sinyal Bahaya
Tekanan dari media sosial tidak selalu terlihat kentara, namun beberapa tanda dapat menjadi indikator awal. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, kecemasan berlebihan terhadap respons unggahan, serta fokus yang tidak proporsional pada penampilan fisik patut diwaspadai.
Perubahan suasana hati setelah menggunakan media sosial, menarik diri dari lingkungan sosial, gangguan tidur, hingga munculnya penilaian negatif terhadap diri sendiri juga merupakan sinyal yang perlu diperhatikan. Jika tidak ditangani, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Ancaman Cyberbullying
Selain tekanan sosial, cyberbullying atau perundungan siber menjadi ancaman lain yang perlu diwaspadai. Dampak perundungan di ruang digital ini dapat signifikan, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Secara jangka pendek, korban dapat mengalami perasaan sedih, cemas, takut, dan kehilangan fokus. Sementara dalam jangka panjang, dampaknya bisa berkembang menjadi rendah diri, depresi, trauma, hingga gangguan kecemasan. Sifatnya yang terjadi di dunia maya sering kali membuat korban merasa sulit menghindar, sehingga tekanan yang dirasakan menjadi lebih intens.
Peran Orangtua dalam Fondasi Ketahanan
Ketahanan mental tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui dukungan lingkungan terdekat, terutama keluarga. Orangtua memegang peranan penting dalam membimbing anak menghadapi dinamika media sosial.
Alih-alih menerapkan kontrol yang ketat, pendekatan yang lebih efektif adalah membangun komunikasi terbuka dan melibatkan anak dalam menyusun aturan penggunaan media sosial. Contohnya, menyepakati durasi screen time, waktu bebas gawai, serta jenis konten yang aman dikonsumsi. Dengan demikian, anak tidak merasa dikontrol, melainkan dilindungi.
Menumbuhkan Resiliensi di Era Digital
Membangun ketahanan mental berarti membekali perempuan dengan kemampuan untuk tetap mengenali nilai dirinya, terlepas dari penilaian yang muncul di media sosial. Salah satu langkah penting adalah memahami bahwa apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya merupakan cuplikan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh.
Selain itu, penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap konten digital, memperkuat kepercayaan diri di luar aspek fisik, serta menjaga keseimbangan dengan aktivitas offline seperti olahraga, hobi, dan interaksi sosial secara langsung.
Pada akhirnya, perjuangan perempuan masa kini bukan lagi sekadar tentang memperoleh ruang, tetapi juga tentang bagaimana tetap kuat dan utuh dalam menghadapi berbagai tantangan di dalamnya.






