Money

Perundingan AS-Iran Dibuka, Harga Minyak Turun

Advertisement

Harga minyak mentah dunia mengalami pelemahan pada akhir perdagangan Selasa (21/4/2026) waktu setempat, berbalik dari penguatan tajam sehari sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah harapan bahwa perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran akan segera membuka kembali pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip data CNBC, harga minyak mentah Brent tercatat turun 95 sen atau sekitar 1 persen menjadi 94,53 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Mei melemah 1,54 dollar AS atau 1,72 persen, berakhir di level 88,07 dollar AS per barrel. Kontrak Juni yang lebih aktif juga terpantau turun 1,09 dollar AS atau 1,3 persen, ditutup pada posisi 86,37 dollar AS per barrel.

Pelemahan harga minyak ini merupakan koreksi setelah sehari sebelumnya mengalami lonjakan signifikan. Brent sempat menguat 5,6 persen, sementara WTI melesat 6,9 persen. Kenaikan harga tersebut dipicu oleh penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran dan penyitaan kapal kargo Iran oleh AS, sebagai bagian dari sanksi terhadap pelabuhan negara tersebut.

Analisis Pasar dan Potensi Negosiasi

Analis dari Citi, dalam catatan mereka, menilai bahwa pasar kini mencermati peluang perpanjangan gencatan senjata atau kesepakatan yang lebih luas antara AS dan Iran. “Kami masih cenderung melihat adanya penandatanganan nota kesepahaman dan/atau perpanjangan gencatan senjata pekan ini, yang berpotensi berkembang menjadi kesepakatan yang lebih luas,” tulis para analis tersebut.

Meskipun demikian, Citi juga mengingatkan adanya potensi risiko jika negosiasi tidak berjalan mulus. “Namun demikian, kami tetap bersiap untuk beralih ke skenario gangguan yang lebih berkepanjangan jika negosiasi pekan ini gagal,” tambah mereka.

Sikap Iran dalam Perundingan

Seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi bahwa negaranya masih mempertimbangkan partisipasi dalam pembicaraan damai di Pakistan, sejalan dengan upaya Islamabad untuk mengakhiri blokade yang diterapkan AS. Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menilai pelanggaran gencatan senjata oleh AS menjadi hambatan dalam proses negosiasi.

“Iran tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman,” ujar Araqchi, menegaskan sikap Teheran dalam setiap dialog yang akan dilakukan.

Advertisement

Dampak Gangguan Pasokan

Saat ini, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur krusial yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia, masih terbatas. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap pasokan energi global.

Analis Citi memproyeksikan jika gangguan di selat tersebut berlangsung selama satu bulan, total kehilangan pasokan minyak bisa mencapai sekitar 1,3 miliar barrel. Dalam skenario terburuk tersebut, harga minyak berpotensi mendekati 110 dollar AS per barrel pada kuartal II 2026.

Lebih lanjut, Kuwait dilaporkan telah menetapkan kondisi force majeure untuk pengiriman minyak akibat blokade di Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak yang dipicu oleh gangguan pasokan ini juga mulai menekan permintaan global. Analis dari Societe Generale menyebutkan bahwa permintaan minyak global telah mengalami penurunan sekitar 3 persen sejauh ini.

Proyeksi Pemulihan Pasokan

Analis Citi kembali memperingatkan bahwa risiko akan semakin besar jika normalisasi pasokan minyak tertunda lebih lama. Mereka memproyeksikan bahwa pemulihan penuh pasokan energi global diperkirakan baru dapat terjadi pada akhir tahun 2026. “Risikonya cenderung mengarah pada kerugian yang lebih besar jika normalisasi semakin tertunda,” tulis mereka dalam analisisnya.

Sumber: http://money.kompas.com/read/2026/04/22/080900426/perundingan-as-iran-dibuka-harga-minyak-turun

Advertisement