Abdul Azis (45), seorang guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1 Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, setiap hari menempuh perjalanan sejauh enam kilometer dengan sepeda lipat pinjaman sambil membonceng putri sulungnya, Azalea (11). Perjalanan ini harus dilalui dengan penuh kewaspadaan, berbagi jalan dengan truk kontainer besar, demi mengantarkan sang putri ke sekolah yang sama dengannya.
Sepeda lipat berwarna merah yang kusam itu menjadi satu-satunya alat transportasi Azis sejak November 2025, setelah sepeda motor kesayangannya hilang dicuri. Ironisnya, peristiwa kehilangan itu terjadi bertepatan dengan kebahagiaan keluarga menyambut kelahiran anak kedua.
“Awalnya saya ada kendaraan motor tua, tapi ya di bulan November motor saya hilang. Pas berbarengan dengan diberikannya rezeki pada saya yaitu anak yang kedua,” ucap Azis kepada Kompas.com di tempat mengajarnya, Rabu (22/4/2026).
Setiap pagi, Azis berangkat dari rumah kontrakannya di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, sekira pukul 05.30 WIB. Jalan di depan rumahnya yang sempit hanya cukup untuk satu sepeda motor. Ia harus menempuh sekitar enam kilometer menuju sekolahnya di Kamal Muara, Jakarta Utara. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 30 menit, melewati pasar, jalan raya, hingga tanjakan yang kerap memaksanya turun dan menuntun sepeda.
“Kadang anak saya juga bilang, ‘Abi hati-hati awas ada mobil besar, minggir dikit.’ Bahkan kadang kami turun dari sepeda untuk menghindari mobil besar, jadi kami ambil jalan trotoar,” kata Azis, menggambarkan ketegangan saat berkendara.
Meskipun rasa lelah dan khawatir tersenggol kendaraan besar selalu membayangi, Azis tetap tegar. Sang putri pun tak pernah mengeluh, bahkan menikmati perjalanan bersepeda bersama ayahnya.
Opsi menggunakan angkutan umum terintegrasi JakLingko secara gratis sebenarnya tersedia. Namun, rute yang terlalu memutar dan tidak efisien membuat Azis memilih untuk tetap bersepeda.
“Bayangkan kalau dari tempat saya tinggal saja kita harus ke Menceng dulu, kemudian dari Menceng kita ke arah Jalan Benda. Dari Jalan Benda kita kemudian baru naik yang ke arah Dadap-Kamal. Itu pun kita tidak sampai di sekolah, hanya sampai di Bundaran Kamal, lalu jalan 15 menit, total 1 jam lah,” jelas Azis mengenai alternatif transportasi yang dinilainya tidak praktis.
Gaji Jauh di Bawah UMR
Perjuangan Azis tak berhenti di jalan. Selama hampir sembilan tahun mengabdi sejak 2017, kondisi ekonominya masih jauh dari sejahtera. Penghasilannya yang kini mencapai Rp 2.000.000 per bulan, jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta, terasa sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Kalau untuk uang segitu ya Rp 2 juta, mengingat kebutuhan di Jakarta, itu jelas kurang, sangat-sangat kurang,” tutur Azis.
Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat penghasilannya cepat habis. Terlebih, ia kini memiliki bayi berusia tujuh bulan yang membutuhkan berbagai kebutuhan tambahan.
“Jangankan untuk kebutuhan tambahan, yang sifatnya untuk kebutuhan sehari-hari saja kurang, seperti makanan pokok atau minyak, sayur. Apalagi sekarang saya dikaruniai seorang anak yang baru usia 7 bulan. Susunya belum, pampersnya, dan lain sebagainya,” keluh Azis.
Untuk menutupi kebutuhan keluarga, Azis mencari penghasilan tambahan setelah selesai mengajar pukul 13.30 WIB. Ia melatih ekstrakurikuler hadroh di sekolah lain dan mengajar mengaji keliling di sejumlah majelis taklim.
“Kalau untuk kegiatan ekskul ini ada yang dikasih Rp 50 ribu sekali pertemuan, kadang juga bisa lebih. Kadang di hari-hari libur juga saya mesti ambil untuk menutupi kekurangan ekonomi, kalau enggak gitu enggak cukup,” ujarnya.
Tetap Bertahan Demi Cita-cita Mulia
Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, semangat Azis untuk tetap menjadi guru tak pernah padam. Cita-citanya menjadi pendidik telah tumbuh sejak SMA. Bahkan, sebelum meraih gelar sarjana, ia telah mengabdikan diri lebih dari 10 tahun mengajar mengaji secara sukarela di musala dan majelis taklim.
Bagi Azis, menjadi guru memberikan kebahagiaan batin yang tak ternilai. Ia juga terus memotivasi murid-muridnya agar tidak ragu menjadi guru di masa depan.
“Walaupun barangkali guru itu mempunyai banyak keluh kesah, tapi jadi seorang guru itu sangat-sangat menyenangkan. Saya bisa berbagi ilmu kepada anak-anak bangsa, ini tugas yang mulia buat saya,” ujarnya penuh keyakinan.
Di balik ketegarannya, Azis menyimpan harapan besar agar kesejahteraan guru, khususnya guru honorer, lebih diperhatikan. Ia berharap pemerintah, mulai dari gubernur hingga presiden, memberikan perhatian serius terhadap nasib mereka.
“Harapan saya, tolong agar semua guru yang ada di negara kita ini tolong untuk disejahterakan, diprioritaskan. Bapak Presiden sudah lihat nasib para guru honorer yang ada di Indonesia kekurangan ekonomi. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja harus gali lubang tutup lubang, tolong diperhatikan,” tutupnya dengan penuh harap.






