Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti ketimpangan pembangunan jaringan kereta api di Indonesia, di mana Pulau Jawa masih mendominasi dibandingkan wilayah lain.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY usai memimpin rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional yang turut dihadiri perwakilan kementerian, lembaga, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/04/2026).
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa dari total sekitar 12.000 kilometer jaringan rel kereta api di Indonesia, mayoritas, yakni sekitar 10.000 kilometer, berada di Pulau Jawa. Dari jumlah tersebut, sekitar 7.000 kilometer masih beroperasi aktif, sementara sisanya tidak terpakai.
Jaringan Terbatas di Luar Jawa
Kondisi jaringan kereta api di luar Pulau Jawa masih sangat terbatas. Pulau Sumatera telah memiliki jalur rel, namun konektivitasnya belum merata. Sementara itu, Pulau Kalimantan belum memiliki jaringan kereta api sama sekali, dan Pulau Sulawesi baru memiliki sekitar 100 kilometer rel.
“Nah dengan demikian arahan Bapak Presiden untuk mengembangkan jaringan kereta di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi ini menjadi strategis,” ujar AHY.
Lebih lanjut, AHY menekankan pentingnya pengembangan ini untuk mendukung kelancaran distribusi logistik, khususnya di wilayah-wilayah yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA).
Skema Pembiayaan Multi-sumber
Pemerintah berencana mendorong pembiayaan untuk pengembangan jaringan kereta api melalui berbagai skema. Skema tersebut meliputi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta investasi dari sektor swasta dan luar negeri.
Selain itu, pengembangan infrastruktur perkeretaapian ini juga diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri perkeretaapian nasional dengan mendorong penguatan ekosistem industri dalam negeri.
Sektor Kereta Api Masih Kekurangan Investasi
AHY menilai bahwa sektor perkeretaapian di Indonesia masih mengalami kekurangan investasi atau underinvestment jika dibandingkan dengan sektor pembangunan jalan.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2026, alokasi anggaran untuk pembangunan dan perbaikan jalan nasional mencapai sekitar Rp 46 triliun. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan alokasi untuk rel kereta api yang hanya sekitar Rp 5 triliun.
“Jadi ada gap di situ,” ungkap AHY.
Ia menegaskan bahwa kereta api memiliki peran strategis yang tidak hanya vital untuk mobilitas manusia, tetapi juga untuk pergerakan logistik antar-wilayah. Selain itu, moda transportasi ini juga dinilai lebih ramah lingkungan.
AHY memaparkan bahwa sektor transportasi darat, yang didominasi oleh kendaraan pribadi, menyumbang sekitar 89 persen dari total emisi karbon di Indonesia. Sebaliknya, kereta api hanya berkontribusi kurang dari 1 persen terhadap emisi karbon.
Oleh karena itu, pengembangan sektor perkeretaapian dianggap krusial untuk menekan emisi karbon sekaligus mengurangi beban infrastruktur jalan raya.
Estimasi Kebutuhan Rp 1.200 Triliun untuk Reaktivasi
Dalam kesempatan yang sama, AHY memperkirakan bahwa pemerintah membutuhkan anggaran sekitar Rp 1.200 triliun untuk membangun dan mereaktivasi sekitar 14.000 kilometer rel kereta api dalam jangka panjang.
“Jika kita ingin menambah katakanlah tadi 14.000 kilometer ini sekian tahun ke depan, maka biayanya itu diperkirakan sekitar Rp 1.200 triliun,” ujar Ketua Umum Partai Demokrat itu.
Dengan asumsi pengembangan dilakukan selama 20 tahun hingga tahun 2045, kebutuhan anggaran per tahun diperkirakan berkisar antara Rp 60 triliun hingga Rp 65 triliun.
Namun, angka tersebut masih bersifat estimasi awal dan akan terus disempurnakan sesuai dengan kondisi geografis serta kebutuhan spesifik di masing-masing wilayah.
AHY menambahkan bahwa pengembangan jaringan kereta api merupakan bagian dari program prioritas pemerintah dalam pilar infrastruktur dan pembangunan kewilayahan, termasuk fokus pada pengembangan jaringan kereta api di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.






