Sains

Puncak Hujan Meteor Lyrid 22-23 April 2026, Bisakah Diamati di Indonesia?

Advertisement

Fenomena langit malam yang dinanti, hujan meteor Lyrid, diprediksi akan mencapai puncaknya pada Rabu (22/4/2026) hingga Kamis (23/4/2026) dini hari. Hujan meteor yang aktif setiap tahun antara 16 hingga 25 April ini, pada tahun 2026 diperkirakan akan menampilkan intensitas 15 hingga 20 meteor per jam, sebagaimana dilaporkan oleh Space. Meteor Lyrid dikenal dengan sorotannya yang terang, meninggalkan jejak ekor panjang, dan melaju cepat saat memasuki atmosfer Bumi.

Bagi masyarakat Indonesia, kabar baik datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pakar Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, memastikan bahwa fenomena ini dapat disaksikan dari Tanah Air. Waktu terbaik untuk mengamati puncak hujan meteor Lyrid adalah pada Kamis (23/4/2026) dini hari, menjelang matahari terbit.

“Hujan meteor Lyrids bisa diamati dari Indonesia pada dini hari malam Kamis, 23 April 2026 sampai sebelum matahari terbit,” jelas Thomas Djamaluddin, seperti dikutip dari Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Thomas menambahkan bahwa fenomena spektakuler ini dapat dinikmati secara langsung menggunakan mata telanjang, tanpa memerlukan alat bantu khusus seperti teleskop. Justru, penggunaan teleskop disarankan untuk dihindari.

“Pengamatan cukup dengan mata tanpa alat. Kalau menggunakan teleskop, medan pandangnya jadi sempit, sulit mengikuti arah meteor,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan pengalaman pengamatan yang optimal, beberapa tips sederhana disarankan. Pertama, periksa prakiraan cuaca setempat untuk memastikan langit cerah. Kedua, carilah lokasi yang minim gangguan cahaya, jauh dari keramaian bangunan tinggi maupun lampu jalan.

Advertisement

“Biarkan mata menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan tetap sabar, karena meteor dapat muncul secara tak terduga di bagian langit mana pun,” imbuh Thomas.

Asal-usul Hujan Meteor Lyrid

Secara ilmiah, hujan meteor Lyrid terjadi ketika Bumi melintasi jalur yang dipenuhi oleh debu antariksa atau serpihan kecil dari sebuah komet. Fenomena ini terjadi secara rutin setiap tahun karena Bumi secara konsisten melewati area tersebut dalam orbitnya mengelilingi Matahari.

Meteor Lyrid sendiri berasal dari pecahan kecil Komet Thatcher, sebuah komet periode panjang yang membutuhkan waktu sekitar 415,5 tahun untuk sekali mengorbit Matahari. Komet ini terakhir kali melintas dekat Matahari pada tahun 1861.

Ketika serpihan Komet Thatcher ini memasuki atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menyebabkan mereka terbakar, menciptakan kilatan cahaya yang kita kenal sebagai “meteor jatuh”. Karena jumlah serpihan yang cukup banyak, fenomena ini terlihat seperti “hujan meteor” dari permukaan Bumi.

Sumber: http://www.kompas.com/sains/read/2026/04/22/132114523/puncak-hujan-meteor-lyrid-22-23-april-2026-bisakah-diamati-di-indonesia

Advertisement