Regional

Remaja 16 Tahun Jadi Calon Jemaah Haji Termuda dari Malang, Gantikan Sang Ayah

Advertisement

MALANG, KOMPAS.com – Haidar Fatta Rizqy Santoso, seorang remaja berusia 16 tahun, akan menjadi calon jemaah haji termuda dari Kota Malang pada tahun 2026. Keberangkatannya ke Tanah Suci bukan sekadar ibadah, melainkan juga untuk mengemban amanah mendiang ayahnya, Dwi Santosa.

Remaja yang akrab disapa Atta ini akan menggantikan posisi ayahnya yang semula terdaftar dalam kloter 11 calon jemaah haji Kota Malang. Kesempatan ini datang tak lama setelah sang ayah berpulang.

Ibunda Atta, May Syaroh Buchori, menceritakan bahwa surat panggilan haji baru diterima keluarganya sekitar satu minggu setelah kepergian suaminya. “Suami saya meninggal tanggal 25 Agustus (2025), kira-kira awal September sudah dapat surat panggilan berangkat haji,” ujar May Syaroh kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

Di tengah masa berduka, keluarga dihadapkan pada keputusan penting untuk mengurus pelimpahan porsi haji dari almarhum Dwi Santosa kepada putra keduanya. Proses ini berjalan lancar, bahkan menjelang batas akhir pelunasan tahap kedua.

“Kayak sama Allah itu dibukakan jalannya, semuanya terasa mudah. Habis foto, malam atau besok paginya namanya sudah berubah menjadi Ata,” tutur May Syaroh.

Aturan Baru Membuka Peluang

Keberangkatan Atta juga dimungkinkan berkat perubahan aturan mengenai usia minimal jemaah haji. Sebelumnya, batas usia minimal adalah 17 tahun, namun kini telah diturunkan menjadi 13 tahun. Kebijakan ini membuat Atta, yang baru berusia 16 tahun, memenuhi syarat untuk berangkat pada tahun yang sama.

“Dulu kan minimal 17 tahun, tapi ternyata ada aturan baru bisa 13 tahun. Jadi Alhamdulillah langsung bisa berangkat,” ungkap May Syaroh.

Wujudkan Pesan Terakhir Ayah

Bagi Atta, perjalanan ini memiliki makna mendalam. Ia tak hanya akan menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga berupaya mewujudkan pesan terakhir sang ayah. Sejak kecil, Dwi Santosa telah menanamkan nilai kemandirian dan tanggung jawab kepada Atta sebagai anak laki-laki satu-satunya.

Advertisement

“Ayah selalu bilang, kalau Ayah sudah tidak ada, saya harus bisa mengurus semuanya. Harus mandiri di rumah termasuk menggantikan ketika ada panggilan berangkat haji,” kenang Atta.

Pesan tersebut menjadi pegangan hidup Atta. Meski usianya masih muda, ia mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual. Selama sebulan terakhir, Atta rutin berolahraga dan memperdalam ilmu agama yang telah diperolehnya di pondok pesantren.

“Kalau sore lari-lari, sekitar lima kilometer di kawasan pondok. Kalau soal spiritual dan lain-lain, sudah diajarkan di pondok itu akan menjadi bekal saya,” jelasnya.

Setibanya di Tanah Suci, Atta berencana untuk membadalkan umrah bagi almarhum ayahnya sebagai bentuk bakti dan hadiah terakhir. “Pastinya senang bisa berangkat haji, ini kan impian semua orang. Nanti saya juga akan badalkan umroh sebagai kado untuk ayah,” ucapnya mantap.

Jawaban Doa di Tengah Kehilangan

Keluarga Atta sebenarnya telah mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji sejak tahun 2011. Namun, rencana mereka sempat tertunda akibat pandemi COVID-19. Setelah penantian bertahun-tahun, keberangkatan Atta dan ibunya ini menjadi jawaban atas doa yang dipanjatkan, meskipun harus diiringi dengan kehilangan sosok ayah.

“Sangat tidak menyangka, meskipun ayah telah berpulang. Kami sekeluarga tidak akan melupakan sosok ayah. Semoga ayah ditempatkan di tempat terbaik-Nya,” pungkas Atta.

Sumber: http://surabaya.kompas.com/read/2026/04/21/183054878/remaja-16-tahun-jadi-calon-jemaah-haji-termuda-dari-malang-gantikan-sang

Advertisement