Leicester City resmi terdegradasi ke League One, kasta ketiga sepak bola Inggris, setelah hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Hull City pada pekan ke-44 EFL Championship 2025-2026. Hasil ini memastikan The Foxes tidak beranjak dari peringkat ke-23 dengan 42 poin, terpaut tujuh poin dari zona aman yang ditempati Blackburn Rovers di posisi ke-21. Degradasi ini terjadi secara beruntun, menyusul terlemparnya Leicester dari Premier League pada musim sebelumnya.
Kondisi ini terasa ironis mengingat tepat satu dekade lalu, Leicester City secara mengejutkan berhasil menjuarai Premier League 2015-2016 di bawah asuhan Claudio Ranieri. Kini, klub dengan sejarah 142 tahun itu harus merasakan pahitnya bermain di kasta ketiga untuk kali kedua sepanjang sejarah mereka.
Performa Inkonsisten Jadi Akar Masalah
Pelatih Leicester City, Gary Rowett, mengungkapkan rasa frustrasi mendalam atas kegagalan timnya musim ini. Ia menilai performa tim saat pertandingan krusial melawan Hull City jauh di bawah ekspektasi, padahal kemenangan sangat dibutuhkan untuk menjaga asa bertahan di Championship.
“Ini sangat membuat frustrasi. Jika saya melihat jalannya pertandingan terlebih dahulu, dalam beberapa hal ini cukup menggambarkan situasinya. Kami tidak mampu mengimbangi urgensi atau pentingnya pertandingan, meskipun kami masih menciptakan beberapa momen bagus di mana seharusnya kami mencetak gol,” kata Rowett.
Rowett menyoroti buruknya penyelesaian akhir sebagai salah satu kendala utama Leicester dalam mencetak gol, meskipun timnya mampu mendominasi pertandingan dan menciptakan banyak peluang. “Kami terlihat seperti tim yang mau berjuang dan menciptakan banyak peluang tetapi tidak mampu memanfaatkannya. Saya sangat frustrasi dengan pertandingan ini,” tandasnya.
Namun, Rowett menolak menyalahkan hasil satu pertandingan sebagai penyebab utama degradasi. Ia menegaskan bahwa masalah ini telah membayangi tim sejak awal musim, yang ditandai dengan penampilan yang buruk secara keseluruhan. “Gambaran besarnya adalah Anda tidak terdegradasi hanya karena tiga atau empat pertandingan, tetapi karena satu musim penuh. Kami telah melewatkan banyak peluang, tetapi itu bukan keseluruhan cerita. Kami hanya mencatatkan lima clean sheet sepanjang musim, jadi ini bukan hanya tentang para penyerang. Kami juga kebobolan gol-gol yang buruk, dan Anda bisa melihatnya lagi malam ini,” tegasnya.
Degradasi yang Sulit Diterima
Pundit sepak bola Inggris, Andy Hinchcliffe, menyatakan kekecewaannya atas terdegradasinya Leicester City. Ia menyebut bahwa kenyataan ini sangat disayangkan, terutama mengingat status Leicester yang sepuluh tahun lalu menjadi tim terkuat di Inggris.
“Jika Anda melihat kembali klub-klub yang terdegradasi sebelumnya, saya tidak dapat menemukan klub lain yang memiliki kualitas dan pengalaman seperti yang dimiliki Leicester,” kata Hinchcliffe dikutip dari Sky Sports.
Bagi Hinchcliffe, yang juga merupakan legenda Everton, degradasi Leicester ke League One sulit untuk diterima. Ia menambahkan bahwa The Foxes sebenarnya difavoritkan untuk menjadi juara Championship musim ini dan kembali promosi ke Premier League.
“Ini adalah tim yang diunggulkan untuk memenangkan gelar Championship. Terdegradasi ke League One adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Musim yang tak seorang pun duga. Semua orang di pihak pemain Leicester perlu introspeksi diri secara mendalam karena ini tidak dapat diterima,” pungkasnya.






