Global

Diplomasi Lego: Saat Mainan Menjadi Senjata Perang Narasi

Advertisement

Di tengah lanskap geopolitik yang kian kompleks, medan perang tidak lagi hanya terbatas pada wilayah fisik, melainkan telah merambah ke ranah digital. Fenomena menarik muncul melalui video animasi kecerdasan buatan (AI) bergaya Lego yang diproduksi oleh kelompok pro-Iran, Explosive Media (atau Akhbar Enfejari). Video-video ini secara satir menggambarkan kekalahan Amerika Serikat (AS) dalam konflik dengan Iran, dan telah menyebar cepat hingga mencapai jutaan penayangan, membuktikan bahwa ini bukan sekadar hiburan, melainkan manifestasi strategi propaganda digital yang canggih.

Pemilihan estetika Lego dalam kampanye ini bukanlah kebetulan. Merek mainan global yang identik dengan kepolosan dan kreativitas ini dipilih karena dianggap sebagai “bahasa dunia” yang dapat dipahami lintas budaya. “Mr. Explosive”, perwakilan Explosive Media, mengungkapkan bahwa Lego dipilih karena kemampuannya menembus batas budaya. Ketika pesan politik dikemas dalam visual yang menggemaskan, “filter kritis” audiens secara psikologis menurun, sebuah fenomena yang dikenal sebagai lowering cognitive resistance. Propaganda yang biasanya memicu penolakan, kini terasa seperti hiburan yang renyah.

Efek satir yang tercipta secara simbolis “mengecilkan” martabat lawan dan membuat pesan propaganda terasa lebih tajam. Kemajuan teknologi AI turut memungkinkan produksi animasi berkualitas tinggi dilakukan dengan cepat, guna merespons peristiwa geopolitik secara real-time.

Target Audiens yang Cermat

Kampanye ini tidak menyasar khalayak secara acak. Video-video tersebut dibuat dalam bahasa Inggris dengan referensi budaya populer Amerika yang kental, mulai dari skandal politik hingga serial televisi. Hal ini menunjukkan bahwa audiens Barat menjadi target utama serangan narasi tersebut. Cendekiawan Nancy Snow menyebut fenomena ini sebagai penggunaan budaya populer melawan negara asalnya sendiri. Di sisi lain, format video pendek sangat sesuai dengan kebiasaan konsumsi media generasi muda yang mungkin tidak secara aktif mencari berita politik.

Data dari Cyabra menunjukkan bahwa video AI pro-Iran ini mampu meraup 145 juta penayangan hanya dalam beberapa minggu pertama konflik. Analisis tersebut menemukan tanda-tanda jelas aktivitas terkoordinasi melalui puluhan ribu akun dengan pola unggahan yang sinkron. Lego, sebagai sebuah tanda, diubah maknanya dari simbol kepolosan menjadi alat sindiran politik yang tajam. Ini adalah contoh bagaimana objek budaya dapat direbut dan diberi makna baru guna memanipulasi keterlibatan emosional audiens tanpa mereka sadari sepenuhnya.

Eksperimen Explosive Media ini berusaha membentuk agenda publik dan mengalihkan perhatian dari narasi pihak lawan. Para ahli komunikasi menyebutnya sebagai subversive play, yakni penggunaan simbol “aman” untuk menyerang balik sistem kekuasaan yang ada. Video animasi Lego pro-Iran adalah propaganda yang memadukan teknologi AI, budaya meme, dan strategi psikologis.

Formatnya yang unik membuatnya sangat mudah dibagikan (shareable), melampaui jangkauan media pemerintah tradisional yang cenderung kaku. Para pembuatnya tidak lagi hanya bertahan, tetapi aktif menyerang dengan konten yang lebih menarik secara visual daripada propaganda konvensional. Penggunaan elemen populer membantu video ini masuk ke dalam algoritma rekomendasi media sosial yang biasanya menyaring konten politik eksplisit.

Advertisement

Fenomena ini menggarisbawahi pergeseran signifikan dalam strategi propaganda global di mana kreativitas digital menjadi kunci memproyeksikan kekuatan. Bagi Iran, Lego kini menjadi senjata ampuh dalam perang narasi melawan hegemoni Amerika Serikat di panggung dunia.

Pelajaran Berharga bagi Indonesia

Kondisi ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Sebagai negara dengan penetrasi media sosial yang sangat tinggi, Indonesia berada di persimpangan jalan, menjadi pasar besar bagi konten semacam ini sekaligus negara yang belum sepenuhnya siap merespons. Selama ini, Indonesia cenderung menjadi konsumen narasi yang diproduksi oleh pihak lain.

Padahal, Indonesia memiliki modal kedaulatan narasi yang besar, mulai dari kekayaan budaya otentik, posisi geopolitik strategis, hingga generasi muda yang melek digital. Diplomasi publik Indonesia saat ini dinilai masih terlalu bergantung pada forum resmi, sementara perang narasi sesungguhnya sudah berpindah ke platform seperti TikTok dan X.

Kasus Iran mengajarkan bahwa negara dengan sumber daya terbatas pun bisa menantang kekuatan besar asalkan kreatif. Ini bukan ajakan untuk memproduksi propaganda, melainkan dorongan untuk membangun soft power yang lebih cerdas. Indonesia memiliki bahan baku yang melimpah seperti wayang, batik, kuliner, hingga nilai Islam moderat yang demokratis.

Dibutuhkan investasi serius pada industri kreatif digital yang mampu mengemas nilai-nilai tersebut dalam format yang relevan bagi audiens global. Jika Iran mampu membuat dunia membicarakan narasinya lewat Lego, Indonesia seharusnya lebih mampu memperkenalkan narasinya sendiri ke kancah dunia.

Sumber: http://www.kompas.com/global/read/2026/04/22/134500070/diplomasi-lego–saat-mainan-menjadi-senjata-perang-narasi

Advertisement