Global

Belum Sehari Gencatan Senjata Diperpanjang, Iran Tembaki Kapal di Dekat Selat Hormuz

Advertisement

TEHERAN – Hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, sebuah kapal kontainer dilaporkan ditembaki oleh Iran di dekat Selat Hormuz pada Rabu (22/4/2026) pagi. Insiden ini menambah ketegangan di jalur pelayaran vital tersebut, sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan adanya kemajuan dalam upaya diplomasi.

Organisasi Lalu Lintas Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan kejadian tersebut, menggarisbawahi situasi yang masih rapuh di kawasan Teluk Persia. Peristiwa ini terjadi di tengah upaya internasional untuk meredakan konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Dugaan Penembakan dan Saling Tuduh

Menurut laporan UKMTO, tidak ada peringatan yang diberikan oleh pihak Iran sebelum penembakan terhadap kapal kontainer tersebut. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada anjungan kapal, meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Namun, narasi berbeda disampaikan oleh pihak Iran. Pasukan paramiliter Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa tembakan dilepaskan setelah kapal tersebut “mengabaikan peringatan dari angkatan bersenjata Iran.” Media Iran, Nour News, melaporkan hal serupa, sementara kantor berita semi-resmi Fars menyebut tindakan tersebut sebagai upaya Iran “menegakkan kontrolnya secara sah” atas Selat Hormuz.

Pihak Iran juga mengaitkan insiden ini dengan tindakan Amerika Serikat yang sebelumnya menyita kapal kontainer Iran dan menaiki kapal tanker yang terkait dengan perdagangan minyak Iran di Samudra Hindia. Presiden Trump sendiri menegaskan bahwa AS akan tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan Iran, sebuah langkah yang oleh Teheran disebut sebagai tindakan “tidak dapat diterima” dan menjadi salah satu alasan Iran belum bersedia berpartisipasi dalam perundingan di Islamabad.

Garda Revolusi Iran sendiri telah mengeluarkan peringatan sebelumnya, menyatakan akan “memberikan pukulan telak di luar imajinasi musuh terhadap aset mereka yang tersisa di kawasan.”

Dampak Global dan Upaya Diplomasi

Selat Hormuz memegang peranan krusial bagi pasokan energi global, dilalui oleh sekitar 20 persen minyak dan gas dunia. Sejak pecahnya perang pada 28 Februari, Iran telah memperketat lalu lintas di jalur ini, yang berdampak pada lonjakan harga energi internasional. Harga minyak mentah Brent dilaporkan mendekati 98 dollar AS per barel pada perdagangan awal Rabu, menunjukkan kenaikan lebih dari 30 persen sejak konflik dimulai.

Advertisement

Di tengah ketegangan yang terus memuncak, upaya diplomasi terus berjalan dengan Pakistan sebagai mediator. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyambut baik keputusan Presiden Trump untuk memperpanjang gencatan senjata. “Dengan kepercayaan yang diberikan kepada kami, Pakistan akan melanjutkan upaya sungguh-sungguh untuk mencapai penyelesaian konflik melalui negosisasi,” tulis Sharif di platform X.

Meskipun demikian, Iran belum memberikan komitmen pasti untuk kembali ke meja perundingan. Putaran pertama pembicaraan yang diadakan pada 11-12 April lalu berakhir tanpa kesepakatan, dengan perbedaan pandangan yang tajam mengenai program nuklir Iran, jaringan proksi regional, dan status Selat Hormuz.

Di tingkat global, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyuarakan harapan bahwa perpanjangan gencatan senjata ini dapat membuka “ruang krusial bagi diplomasi dan pembangunan kepercayaan antara Iran dan Amerika Serikat.”

Konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari ini dilaporkan telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Otoritas Iran mencatat sedikitnya 3.375 orang tewas, sementara lebih dari 2.290 orang meninggal di Lebanon, 23 di Israel, dan belasan lainnya di berbagai negara Teluk. Selain itu, dilaporkan pula 15 tentara Israel dan 13 personel militer AS tewas di kawasan tersebut.

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2026/04/22/151018870/belum-sehari-gencatan-senjata-diperpanjang-iran-tembaki-kapal-di-dekat

Advertisement