Money

Nilai Bisnis Sayuran RI Diperkirakan Capai Rp120 Triliun, Sistem Pangan Jadi Tantangan Utama

Advertisement

Potensi bisnis sektor sayuran di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 120 triliun per tahun. Namun, nilai ekonomi yang besar ini dihadapkan pada tantangan kompleks dalam pengelolaan sistem pangan yang berbeda dari komoditas lain, terutama terkait sifat produk segar yang tidak tahan lama.

Pakar pertanian Bayu Krisnamurthi menyampaikan hal tersebut di Jakarta pada Rabu (22/4/2026). Ia menyoroti bahwa kebutuhan sayuran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) saja secara teoritis membutuhkan anggaran sekitar Rp 10 triliun hanya untuk pengadaan sayurnya.

Menurut Bayu, karakteristik unik sayuran yang tidak dapat disimpan dalam jangka waktu lama menuntut ketersediaan harian yang konsisten. “Sayuran itu tidak bisa disimpan lama. Harus tersedia segar setiap hari. Artinya produksi, logistik, sampai ritel harus berjalan setiap hari juga,” jelasnya.

Tiga Komponen Kunci Sistem Pangan Sayuran

Keberhasilan sistem pangan sayuran, menurut Bayu, bergantung pada tiga komponen utama. Pertama adalah ketersediaan bibit berkualitas yang menjadi dasar budidaya. Kedua adalah penguatan kapasitas petani agar mampu beradaptasi dengan teknologi dan praktik terbaik. Ketiga adalah pengembangan sistem pascapanen yang modern untuk menjaga stabilitas pasokan dan kesegaran produk hingga sampai ke tangan konsumen.

Tantangan yang Membayangi Sektor Sayuran

Meskipun memiliki potensi besar, sektor sayuran Indonesia menghadapi berbagai tantangan signifikan. Perubahan iklim menjadi salah satu faktor paling mengkhawatirkan, dengan pola cuaca yang semakin tidak menentu dapat merusak tanaman. “Perubahan iklim makin tidak pasti, hujan bisa datang tidak sesuai prediksi dan itu bisa merusak tanaman,” ungkap Bayu.

Advertisement

Selain itu, kenaikan harga input produksi seperti pupuk dan bahan kemasan juga menjadi beban. Keterbatasan lahan pertanian, terutama di perkotaan, turut memperumit upaya peningkatan produksi. Persoalan limbah sayuran yang belum terkelola dengan baik juga menambah kompleksitas tantangan di lapangan.

Solusi Melalui Teknologi dan Urban Farming

Bayu Krisnamurthi menekankan pentingnya penerapan teknologi sebagai solusi strategis dalam menghadapi tantangan tersebut. Inovasi teknologi diperlukan untuk pengembangan bibit yang lebih tahan terhadap perubahan iklim ekstrem. Pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming, seperti hidroponik dan aeroponik, juga dinilai sebagai alternatif yang menjanjikan.

“Urban farming, hidroponik, aeroponik itu menjadi alternatif-alternatif yang bisa kita lakukan dan sebagai andalan menghadapi tantangan ke depan,” tegasnya. Solusi ini diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan sayuran segar dan berkualitas di tengah berbagai kendala yang ada.

Sumber: http://money.kompas.com/read/2026/04/22/170211726/nilai-bisnis-sayuran-ri-diperkirakan-capai-rp120-triliun-sistem-pangan-jadi

Advertisement