SURABAYA, KOMPAS.com – Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng (RA) Kartini terus menemukan relevansinya dalam kehidupan perempuan masa kini. Nilai-nilai yang dulu diperjuangkan tidak lagi sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan hadir sebagai pijakan nyata dalam perjalanan hidup banyak perempuan, termasuk Direktur RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha M.L. Siahaan., S.H, MARS, M.H.Kes.
Dalam momentum peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April, refleksi itu terasa semakin kuat. Bagi Martha, gagasan Kartini bukan hanya inspirasi, tetapi juga pengingat tentang keberanian berpikir jauh melampaui zamannya, bahkan sejak lebih dari satu abad lalu.
“Jadi saya kebayang kira kira 125 tahun yang lalu ya Ibu Kartini sudah menggagas dan mengeluarkan ide-idenya. Lebih dari seabad lalu, dia ingin perempuan Indonesia itu sekolah, pinter, independen, dan mandiri bisa memegang keputusan,” ujar Martha kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Ia menambahkan, “Saya tidak kebayang saat ini, Rembang di tahun 2026 saja masih jauh dari hiruk pikuk, bagaimana 125 tahun lalu ibu Kartini sudah memiliki gagasan seperti itu.”
Martha meyakini bahwa kekuatan Kartini tidak hanya terletak pada kecerdasannya, tetapi juga pada ketulusan yang terpancar kuat. Ia mengamati sorot mata Kartini dalam foto-foto yang ada.
“Karena mata mempunyai susunan syaraf otonom ya. Jadi, kalau saya suka memperhatikan fotonya itu perempuan Jawa yang ayu dan sorot matanya teduh dan tulus, tetapi menurut saya mempunyai gagasan yang radikal untuk jaman itu,” kata Martha, yang memiliki keahlian di bidang medis, hukum, dan administrasi.
Ketulusan, menurut Martha, menjadi dasar utama dalam setiap perjuangan. Tanpa itu, sebuah usaha tidak akan bertahan lama atau meninggalkan jejak berarti.
“Ya memang kalau kita memulai sesuatu menjalani harus bermula dari etikat dan niat baik serta tulus, tantangan itu harus dilalui. Kalau semua sudah dimulai dengan niat baik dan ketulusan, apa pun pasti kita akan jalan terus gitu, tidak akan menyerah,” ujar Martha.
Ia melanjutkan, “Tapi, kalau niatnya macam-macam tantangan sedikit sudah baper dan kena mental, tapi kalau sudah niat baik dan penuh dengan ketulusan jungkir balik terus bangun jatuh ya bangun lagi terus begitu.”
Perempuan, Kepemimpinan, dan Keteguhan
Prinsip tersebut pula yang dibawa Martha dalam perjalanan kariernya, termasuk saat memimpin RS Kemenkes Surabaya dengan kondisi yang penuh tantangan.
“Ya saya perempuan sendiri ternyata, saya baru nyadari sekarang. Selama ini, saya jalani dengan modal awal niat baik dulu. Kalau untuk perasaan, menurut saya, itu kelebihan seorang perempuan kalau jadi leader termasuk di dalam mengambil keputusan itu juga menaruh rasa,” ujar mantan CEO RS Premier Bintaro tersebut.
Ia menyadari bahwa empati bisa menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Namun, ia memilih untuk tetap fokus pada tujuan besar yang diemban.
“Akhirnya itu tadi saya berfikir fokus pada tujuan saya adalah mengingat pesan Pak Kemenkes, ‘bikin rumah sakit itu menjadi hope kebanggaan Indonesia timur dan Indonesia sebagai rumah sakit bertaraf internasional’,” ujarnya.
Perjalanan tersebut pun tidak selalu mudah, tetapi Martha menjalaninya dengan konsistensi. Ketika jatuh, ia bangkit dan terus melangkah tanpa henti.
Mengelola Tekanan dengan Cara Sederhana, Menjalani Peran dengan Fleksibel
Di balik peran besar sebagai pemimpin di rumah sakit yang berada di Jalan Indrakila Surabaya, Martha juga menghadapi tekanan yang sama seperti banyak orang lainnya. Ia tidak menampik bahwa stres adalah bagian dari hidup.
“Saya tetap ada stres, namanya manusia masa enggak stres kan bohong banget ya, tapi saya tidak tahu karena cinta pada pekerjaan saya stres, susah dan ya nangis juga cuma saya tidak bilang sama orang-orang kan ya malu kalau tahu,” ujar dokter yang menyelesaikan Magister Hukum Kesehatan (MHKes) di Universitas Soegijapranata Semarang itu sambil tertawa.
Namun, ia memiliki cara mengelola stres secara sederhana, yaitu dengan beristirahat dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih.
“Terus saya senang di pijat. Jadi, kalau kena mental, kalau anak sekarang bilang saya pergi saja ke tukang pijat dan tidur setelah itu fresh kembali. Jadi maksud saya itu stres tidak perlu dipelihara kita manage saja dan stres itu dianggap saja kembang kehidupan,” katanya.
Terlebih, dalam kesehariannya sebagai seorang perempuan, Martha menjalani berbagai peran sekaligus. Jika di tempat kerja ia sebagai pemimpin, saat kembali ke rumah ia berperan sebagai istri dan ibu. Kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar semuanya tetap berjalan seimbang.
“Ya kita tidak tahu ya itu otomatis saja saat berada di tempat kerja kita jadi leader ketika kita keluar kantor dan kebetulan tim saya teman juga ya jadi teman kembali jalan bareng,” ujar Martha.
“Itu sudah seperti ganti baju saja kali ya bisa menempatkan diri tinggal balik lagi jabatan itu jangan dianggap jadi milik abadi kali ya sehingga kita tahu kapan ganti bajunya,” imbuhnya.
Pesan untuk Perempuan Masa Kini
Di akhir refleksinya, Martha menyampaikan pesan bagi generasi perempuan muda agar tetap kuat dan bijak menghadapi tantangan zaman, terutama di era digital yang serba cepat.
“Ya saya sih lebih melihat Kartini di jaman now ini untuk perempuan-perempuan yang usianya lebih muda dari saya jangan mudah baper nomor satu. Dunia ini bisa jadi makin kejam ya apalagi di era sosial media, orang itu gampang banget menilai orang bagus dan jelek ditulis,” katanya.
“Jadi, kalau saya bilang kita jangan playing is a god, ya jangan mudah menghakimi orang dan jangan mudah memepreteli orang dengan tulisan kita. Jangan lupa kita semua ini manusia yang mudah melakukan kesalahan,” ujar Martha lagi.
Untuk itu, ia juga mengingatkan pentingnya ketahanan diri dalam menghadapi tekanan hidup, termasuk memahami bahwa stres merupakan bagian dari proses bertumbuh.
“Jadi nikmati saja ada filmnya kan badai pasti berlalu, tapi setelah badai berlalu harus ingat juga akan datang lagi badai itu, jadi lebih siap menghadapi ke depan,” pungkas Martha.






