JAKARTA – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan potensi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2026 mendatang. Ia memprediksi ancaman karhutla tahun ini akan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh prediksi kemarau yang diperkirakan datang lebih awal dan berakhir lebih lambat.
“Artinya dibandingkan tahun lalu, kemungkinan terjadinya karhutla tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu,” ujar Raja Juli dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).
Raja Juli menekankan bahwa tahun 2026 ini harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi potensi peningkatan karhutla.
Antisipasi Berbasis Data BMKG
Prediksi peningkatan risiko karhutla ini merujuk pada data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memperkirakan fenomena El Nino berpotensi muncul lebih cepat pada semester kedua tahun ini, sekitar bulan Juni atau Juli.
Data BMKG mengindikasikan El Nino yang diperkirakan muncul dengan intensitas lemah hingga moderat ini akan menyebabkan musim kemarau datang lebih awal dan terasa lebih kering dari biasanya.
“Saya sering sampaikan ini adalah tahun kita latihan tahun kita belajar untuk mengantisipasi apa yang akan kita hadapi,” ucap Raja Juli, menggarisbawahi pentingnya kesiapan.
Penurunan Karhutla dan Momentum Penandatanganan MoU
Meski memprediksi peningkatan risiko, Raja Juli juga menyoroti kemampuan Indonesia dalam menekan angka karhutla. Ia mencontohkan penurunan luas lahan yang terbakar dari sekitar 2,6 juta hektar pada tahun 2015 menjadi 1,6 juta hektar pada tahun 2019. Angka ini terus menunjukkan tren menurun, dengan sekitar 1,1 juta hektar pada tahun 2023, dan kembali turun drastis menjadi sekitar 350.000 hektar pada tahun 2025.
Untuk memperkuat upaya pencegahan potensi karhutla tahun ini, Kementerian Kehutanan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan BMKG. Penandatanganan dilakukan di Kantor BMKG, Jakarta, antara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Sinergi Data dan Teknologi untuk Pencegahan
Kerja sama yang terjalin mencakup berbagai aspek krusial dalam penanganan karhutla. Meliputi integrasi data dan informasi meteorologi, klimatologi, dan kehutanan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pelaksanaan modifikasi cuaca serta analisis risiko berbasis sains.
Raja Juli menekankan peran vital BMKG dalam penurunan angka karhutla, terutama melalui prediksi cuaca yang presisi dan pemanfaatan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Ia memastikan koordinasi pencegahan karhutla akan terus ditingkatkan, termasuk dengan pemantauan tinggi muka air tanah. “OMC yang dilakukan jauh-jauh hari sebelum apinya menyala. Sekarang sedang berkoordinasi dengan berbagai instansi, tinggi muka air tanah kita pantau ketika nanti di bawah 40 cm kita adalah OMC untuk menambah permukaan air tanah, terutama di daerah-daerah gambut kalau sudah menyala sulit padam, kalau cadangan airnya cukup insya Allah kita tidak akan terjadi kebakaran,” jelasnya.






