Global

Komandan Iran Disebut Pimpin Pasukan di Irak, Bisa Serang Tanpa Izin Pusat

Advertisement

Iran dikabarkan memberikan otonomi lebih besar kepada para komandan militernya di Irak, memungkinkan beberapa kelompok milisi beroperasi tanpa persetujuan langsung dari Teheran. Perubahan kebijakan ini, menurut tiga anggota milisi dan dua pejabat lainnya yang berbicara kepada Associated Press, didorong oleh tekanan perang yang semakin meningkat.

Langkah ini menimbulkan kekhawatiran baru, terutama mengingat banyak milisi yang didukung Iran kini didanai melalui anggaran negara Irak dan bahkan menjadi bagian dari aparat keamanan resmi. Kondisi ini telah memicu kritik dari Amerika Serikat dan negara-negara lain yang merasa menjadi korban serangan milisi tersebut. Mereka menilai Baghdad belum mengambil sikap yang cukup tegas untuk membendung atau mencegah aksi kelompok-kelompok ini.

Otonomi untuk Komandan Lapangan

Lima pejabat, yang meminta anonimitas demi kebebasan berbicara mengenai isu sensitif ini, mengungkapkan bahwa faksi-faksi garis keras kini beroperasi di bawah arahan penasihat Iran dengan struktur komando yang terdesentralisasi. “Berbagai pasukan telah diberikan wewenang untuk beroperasi sesuai dengan penilaian lapangan mereka sendiri tanpa merujuk kembali ke komando pusat,” ujar seorang pejabat milisi, mengutip Associated Press.

Pergeseran menuju kendali terdesentralisasi ini dianggap sebagai langkah penting bagi milisi yang didukung Iran di Irak. Beberapa hari setelah pecahnya perang Iran pada 28 Februari 2026, delegasi Iran dilaporkan mendatangi wilayah Kurdi Irak dengan pesan tegas. Jika serangan milisi meningkat dan menyasar pangkalan militer AS, kepentingan komersial, atau misi diplomatik, otoritas Kurdi Irak tidak perlu lagi mendatangi Teheran untuk mengajukan keluhan, karena Iran tidak dapat berbuat banyak.

“Mereka mengatakan telah mendelegasikan wewenang kepada para komandan regional Iran,” ungkap seorang pejabat senior pemerintah Kurdi Irak yang juga memilih tidak disebutkan namanya karena sensitivitas masalah tersebut.

Advertisement

Pelajaran dari Perang Juni

Sebelumnya, para pemimpin Kurdi di Irak lazimnya menghubungi pejabat Iran untuk menanyakan alasan di balik penargetan wilayah mereka pasca-serangan. Perubahan pendekatan ini, menurut pejabat Kurdi tersebut, mencerminkan pelajaran yang dipetik dari perang 12 hari pada bulan Juni sebelumnya.

Para pejabat milisi pun menguatkan klaim tersebut. Selama perang 12 hari, operasi milisi masih sangat terpusat. Namun, pasca-perang tersebut, otonomi yang lebih besar mulai diberikan kepada komandan di lapangan.

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2026/04/22/161920970/komandan-iran-disebut-pimpin-pasukan-di-irak-bisa-serang-tanpa-izin

Advertisement