LONDON, Kompas.com – Para perencana militer dari lebih dari 30 negara berkumpul di London, Inggris, pada Rabu (22/4/2026) untuk menyusun strategi pengamanan Selat Hormuz. Pertemuan dua hari ini menjadi forum penting untuk mematangkan rencana misi yang dipimpin bersama oleh Inggris dan Prancis, dengan fokus utama menjamin kebebasan navigasi di jalur pelayaran vital tersebut.
Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk “memajukan perencanaan terperinci” terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, seiring dengan kemajuan yang dicapai dalam pembicaraan diplomatik di Paris pekan lalu. Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menekankan urgensi untuk mengkonversi konsensus diplomatik menjadi langkah konkret di lapangan.
“Tugas hari ini dan esok adalah menerjemahkan konsensus diplomatik menjadi rencana bersama untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat dan mendukung gencatan senjata yang langgeng,” ujar Healey dalam pernyataan resminya. Ia juga menyampaikan optimisme bahwa pertemuan ini akan menghasilkan kemajuan yang signifikan.
Tindak Lanjut dari Paris
Konferensi di London merupakan kelanjutan dari pertemuan internasional yang digelar di Paris pada Jumat (17/4/2026). Dalam pertemuan tersebut, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron memimpin diskusi yang dihadiri oleh lebih dari 40 negara. Inggris dan Prancis menegaskan bahwa pembentukan kekuatan militer ini bersifat defensif sepenuhnya dan hanya akan dikerahkan setelah tercapainya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan tersebut.
Situasi AS dan Iran
Meskipun dihadiri oleh puluhan negara, Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang merupakan pihak utama dalam ketegangan di Selat Hormuz, tidak terlibat langsung dalam pertemuan di London ini. Situasi di kawasan tersebut dilaporkan masih bergejolak. Gencatan senjata selama dua minggu antara AS dan Iran, yang seharusnya berakhir pada Selasa (21/4/2026) pukul 24.00 GMT, diperpanjang sesaat sebelum tenggat waktu oleh Presiden AS Donald Trump.
Perpanjangan gencatan senjata ini dimaksudkan untuk memberikan ruang lebih bagi proses negosiasi. Namun, Trump menegaskan bahwa AS tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kedua belah pihak juga saling melontarkan tuduhan mengenai pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibuat.






