Money

Wall Street Melemah: Konflik Iran Bayangi Data Positif Ekonomi AS

Advertisement

Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, berbalik arah dan ditutup melemah pada perdagangan Selasa (21/4/2026) waktu setempat, memupus penguatan di awal sesi. Ketidakpastian yang dipicu oleh perkembangan konflik Iran membayangi data ekonomi AS yang positif dan ekspektasi kinerja keuangan perusahaan.

Mengutip Reuters pada Rabu (22/4/2026), Dow Jones Industrial Average tercatat turun 293,18 poin atau 0,59 persen ke level 49.149,38. Indeks S&P 500 melemah 45,13 poin atau 0,63 persen ke 7.064,01, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 144,43 poin atau 0,59 persen menjadi 24.259,96.

Sebelumnya, indeks S&P 500 sempat mencatatkan penguatan hingga 0,4 persen dalam sesi yang sama. Namun, kekhawatiran investor memuncak setelah muncul sinyal ketidakpastian baru terkait konflik Iran. Seorang pejabat tinggi Iran menyatakan Teheran membuka peluang untuk menghadiri pembicaraan dengan AS di Pakistan, namun dengan syarat Washington menghentikan kebijakan tekanan dan ancamannya. Iran juga menegaskan tidak akan terlibat dalam negosiasi yang mengarah pada bentuk penyerahan.

Tekanan di pasar saham semakin dalam setelah laporan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan kunjungannya ke Pakistan yang sedianya untuk agenda pembicaraan damai. Padahal, dalam beberapa pekan terakhir, pasar sempat menunjukkan reli yang didorong oleh harapan adanya kesepakatan damai dalam konflik tersebut.

“Pasar saat ini dihadapkan pada dua faktor, yakni bagaimana arah penyelesaian konflik Iran, dan di sisi lain ekspektasi kinerja keuangan yang cukup kuat. Perusahaan-perusahaan sejauh ini melaporkan hasil yang baik dan ekonomi juga masih solid,” ujar Thomas Martin, senior portfolio manager di GLOBALT Investments, Atlanta.

Menurut Martin, faktor utama yang masih sulit diprediksi adalah perkembangan konflik Iran. “Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana hasilnya, dan cukup membingungkan jika ada yang menganggap situasi ini akan baik-baik saja,” katanya.

Data Ekonomi AS Tunjukkan Kekuatan

Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan kinerja yang cukup kuat. Departemen Perdagangan AS melaporkan penjualan ritel meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Maret. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga bahan bakar akibat konflik dengan Iran, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan di stasiun pengisian bahan bakar.

Penjualan ritel tercatat naik 1,7 persen pada Maret, menandai kenaikan terbesar sejak Maret 2025. Angka ini melanjutkan tren positif setelah sebelumnya direvisi naik 0,7 persen pada Februari. Angka tersebut juga melampaui proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan sebesar 1,4 persen.

Optimisme investor juga masih ditopang oleh prospek kecerdasan buatan (AI) dan kinerja laba perusahaan. Data LSEG menunjukkan ekspektasi pertumbuhan laba kuartal pertama berada di kisaran 14 persen. JPMorgan Chase bahkan telah menaikkan target akhir tahun untuk indeks S&P 500, dengan alasan dorongan dari sektor teknologi dan AI.

Advertisement

Sementara itu, Amazon mengumumkan rencana investasi hingga 25 miliar dollar AS ke perusahaan AI Anthropic, menandakan perusahaan besar masih agresif dalam berinvestasi di sektor tersebut. Saham Amazon ditutup naik 0,66 persen.

Sektor Energi Menguat, Teknologi Terdampak

Sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang menguat di indeks S&P 500, dengan kenaikan 1,31 persen. Penguatan ini didorong oleh kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah.

Dari sisi emiten, UnitedHealth Group melonjak 7 persen setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba tahunan dan melampaui ekspektasi pasar untuk kuartal pertama. Kinerja positif UnitedHealth Group menjadi kontributor terbesar penguatan indeks Dow.

Sebaliknya, saham Apple turun 2,52 persen setelah perusahaan mengumumkan bahwa CEO Tim Cook akan menyerahkan kepemimpinan kepada kepala divisi perangkat keras, John Ternus. Perubahan kepemimpinan ini tampaknya memberikan sentimen negatif bagi saham perusahaan teknologi raksasa tersebut.

Kebijakan Moneter Menjadi Sorotan

Di sisi kebijakan moneter, investor juga mencermati proses konfirmasi Kevin Warsh sebagai kandidat pimpinan bank sentral AS. Dalam sidang di Senat, Warsh menegaskan tidak memberikan janji kepada Presiden Donald Trump terkait penurunan suku bunga, serta menekankan independensi dalam menjalankan kebijakan moneter.

Namun, proses konfirmasi ini menghadapi hambatan setelah Senator Partai Republik Thom Tillis menyatakan akan menahan persetujuan hingga penyelidikan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell dihentikan. Kebuntuan ini berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter, terlebih Trump sebelumnya menyatakan akan memberhentikan Powell jika tidak mengundurkan diri saat masa jabatannya berakhir pada Mei.

Secara keseluruhan, saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat. Di Bursa Efek New York (NYSE), rasio saham yang melemah berbanding menguat adalah 2,67 banding 1, sementara di Nasdaq rasionya adalah 2,53 banding 1. Meski demikian, indeks S&P 500 masih mencatat 50 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu, sementara Nasdaq mencatat 144 saham dengan rekor tertinggi baru.

Sumber: http://money.kompas.com/read/2026/04/22/081736326/wall-street-melemah-konflik-iran-bayangi-data-positif-ekonomi-as

Advertisement