Megapolitan

Diam-diam Mendominasi, Ikan Sapu-sapu Disebut “Bersarang” di Kali Bekasi

Advertisement

BEKASI, KOMPAS.com — Pemerintah Kota Bekasi tengah memantau ketat peningkatan populasi ikan sapu-sapu yang kini disebut telah “bersarang” di Kali Bekasi. Spesies invasif ini dikhawatirkan mengancam keseimbangan ekosistem perairan setempat dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat jika dikonsumsi. Langkah pembasmian massal rencananya akan dilakukan pada pertengahan tahun ketika debit air sungai menurun.

Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies yang agresif dan mampu berkembang biak dengan cepat, sehingga kerap mendominasi populasi ikan asli. Kondisi ini berpotensi mengganggu rantai makanan dan ekosistem sungai secara keseluruhan, termasuk di wilayah Bekasi.

Kali Bekasi Disebut ‘Sarang’ Ikan Sapu-sapu

Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, secara tegas menyatakan bahwa Kali Bekasi merupakan salah satu habitat utama bagi ikan sapu-sapu. Pernyataan ini disampaikan saat dirinya mengikuti kegiatan susur sungai di Delta Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan, pada Selasa (21/4/2026).

“Kali Bekasi termasuk sarangnya ikan sapu-sapu. Tapi karena ketinggian kali cukup bagus, jadi ikannya tidak muncul ke permukaan,” ujar Harris saat ditemui awak media.

Selain ancaman terhadap lingkungan, keberadaan ikan sapu-sapu juga menimbulkan kekhawatiran serius dari sisi kesehatan. Hal ini diperparah dengan maraknya temuan ikan tersebut diperjualbelikan dan berpotensi diolah menjadi konsumsi masyarakat.

Padahal, ikan sapu-sapu sama sekali tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh manusia. Harris menekankan bahaya mengonsumsi ikan ini.

“Ini sangat berbahaya karena itu mengandung racun jika dikonsumsi. Apalagi dikhawatirkan diolah menjadi makanan seperti cilok, bakso, atau siomay,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk tidak menjadikan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku olahan makanan mereka.

Advertisement

Pembasmian Massal Disiapkan Juli

Meskipun belum sebesar di Jakarta, populasi ikan sapu-sapu di Bekasi dilaporkan terus meningkat dan mulai menunjukkan dampak negatif terhadap ekosistem sungai. Menyadari hal ini, pemerintah daerah kini tengah mempersiapkan strategi penanganan yang komprehensif.

Salah satu langkah yang akan diambil adalah pembasmian massal ketika debit air sungai sedang surut. Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C), Puarman, menjelaskan bahwa periode tersebut merupakan waktu yang paling efektif untuk melakukan penangkapan.

“Ketika nanti Juni air surut, itu kesempatan terbaik untuk mengangkat ikan sapu-sapu, ditangkap dan dimusnahkan,” kata Puarman.

Menurut Puarman, metode penangkapan manual menggunakan jaring dinilai sebagai cara paling efektif untuk mengendalikan populasi ikan invasif tersebut di aliran sungai. Namun, metode pembasmian ikan sapu-sapu juga masih menjadi perhatian khusus.

Hal ini menyusul pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya yang menyatakan bahwa pembasmian ikan sapu-sapu dengan cara menimbun secara massal tidak diperbolehkan. “Nanti masih kami pikirkan bagaimana cara membasminya,” pungkas Puarman.

Sebagai perbandingan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah lebih dulu menggelar operasi penangkapan ikan sapu-sapu secara besar-besaran di lima wilayah kota administrasinya pada Jumat (17/4/2026). Operasi serentak ini berhasil menangkap lebih dari satu ton ikan sapu-sapu dalam upaya menekan populasi spesies invasif tersebut.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2026/04/22/06345261/diam-diam-mendominasi-ikan-sapu-sapu-disebut-bersarang-di-kali-bekasi

Advertisement