JAKARTA, KOMPAS.com — Industri kelapa sawit Indonesia mencatat kinerja positif pada Februari 2026, ditandai dengan peningkatan produksi, konsumsi domestik, dan ekspor. Kondisi ini berbanding terbalik dengan stok minyak sawit nasional yang justru mengalami penurunan, mengindikasikan penyerapan pasar yang tinggi.
Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang dirilis Rabu (22/4/2026), produksi minyak sawit mentah (CPO) pada Februari 2026 mencapai 5,015 juta ton. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 4,778 juta ton.
Bersamaan dengan itu, produksi minyak inti sawit (PKO) juga mengalami kenaikan. Total produksi CPO dan PKO pada Februari 2026 mencapai 5,495 juta ton, naik dari 5,232 juta ton pada Januari 2026. Kenaikan produksi ini menjadi salah satu penopang utama kinerja industri sawit di awal tahun.
Konsumsi Domestik Meningkat
Di pasar domestik, permintaan minyak sawit juga menunjukkan tren pertumbuhan. Pada Februari 2026, konsumsi domestik tercatat sebesar 2,305 juta ton, meningkat dari 2,105 juta ton pada Januari 2026. Peningkatan ini merata di berbagai sektor, dengan sektor pangan menjadi kontributor utama.
Konsumsi untuk biodiesel juga mengalami kenaikan, mencerminkan kuatnya kebutuhan energi berbasis sawit di dalam negeri. Sementara itu, konsumsi untuk sektor oleokimia relatif stabil.
Peningkatan konsumsi domestik menjadi salah satu pilar penting yang menopang industri sawit nasional.
Ekspor Tumbuh di Berbagai Produk
Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada Februari 2026 juga menunjukkan peningkatan signifikan. Total ekspor tercatat sebesar 3,297 juta ton, naik dari 3,081 juta ton pada Januari 2026. Kenaikan ini terjadi pada hampir seluruh jenis produk sawit, termasuk CPO, produk olahan minyak sawit, produk oleokimia, dan olahan minyak inti sawit.
GAPKI mencatat, kenaikan ekspor terjadi secara merata di berbagai kategori produk, mengindikasikan permintaan global yang masih kuat terhadap produk sawit Indonesia.
Secara kumulatif, ekspor minyak sawit Indonesia pada Januari hingga Februari 2026 mencapai 6,378 juta ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi nilai, ekspor produk sawit pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,69 miliar dollar AS, naik 9,70 persen dari Januari yang sebesar 3,36 miliar dollar AS.
Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono menjelaskan, kenaikan nilai ekspor tidak hanya disebabkan oleh volume, tetapi juga oleh faktor harga. “Harga rata-rata Januari–Februari 2026 mencapai 1.306 dollar AS per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 1.218 dollar AS per ton,” ujarnya.
Secara kumulatif, nilai ekspor pada Januari hingga Februari 2026 mencapai 7,05 miliar dollar AS, juga mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Distribusi Pasar Ekspor
Peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia pada Februari 2026 didorong oleh permintaan dari berbagai negara tujuan utama. Pasar seperti China, India, dan Eropa mencatat peningkatan permintaan. Kawasan Timur Tengah dan Amerika Serikat juga memberikan kontribusi positif.
Meskipun beberapa pasar mengalami penurunan impor, peningkatan permintaan dari pasar utama mampu mengimbangi, sehingga total ekspor tetap mencatat pertumbuhan.
Stok Menurun
Di tengah peningkatan produksi dan ekspor, stok minyak sawit nasional justru mengalami penurunan. Pada akhir Februari 2026, stok tercatat sebesar 2,026 juta ton, lebih rendah dibandingkan stok akhir Januari 2026 yang sebesar 2,068 juta ton.
Penurunan stok ini terjadi setelah memperhitungkan total produksi (10,737 juta ton), konsumsi domestik (4,409 juta ton), dan ekspor (6,378 juta ton) selama periode Januari hingga Februari 2026. Kondisi ini menunjukkan penyerapan minyak sawit yang cukup tinggi di pasar domestik maupun internasional.
Dinamika Awal Tahun
Kinerja industri sawit pada Februari 2026 mencerminkan dinamika awal tahun yang cenderung positif. Produksi mulai meningkat, sementara permintaan domestik dan global tetap terjaga.
Kenaikan konsumsi domestik menunjukkan kuatnya kebutuhan dalam negeri, terutama untuk sektor pangan dan energi. Peningkatan ekspor mengindikasikan daya saing produk sawit Indonesia di pasar global.
Namun, peningkatan permintaan yang lebih besar dibandingkan pasokan menyebabkan stok mengalami penurunan. Hal ini menjadi indikator penting keseimbangan antara produksi dan konsumsi di industri sawit.
Keterkaitan Antar Indikator
Data GAPKI menunjukkan adanya keterkaitan erat antar indikator kinerja industri sawit. Peningkatan produksi membuka ruang bagi kenaikan konsumsi domestik dan ekspor. Namun, ketika pertumbuhan permintaan lebih tinggi dari pasokan, stok akan tertekan.
Pada Februari 2026, kenaikan produksi belum sepenuhnya mampu mengimbangi peningkatan konsumsi dan ekspor, yang berujung pada penurunan stok akhir bulan. Kondisi ini mencerminkan tingginya aktivitas perdagangan dan konsumsi minyak sawit dalam periode tersebut.
Tren Berlanjut
Dengan capaian pada Februari 2026, industri sawit Indonesia memasuki tahun 2026 dengan tren aktivitas yang cenderung positif. Produksi, konsumsi, dan ekspor yang meningkat menunjukkan pergerakan industri yang aktif.
Penurunan stok menjadi bagian dari dinamika yang terjadi seiring tingginya permintaan. Data ini memberikan gambaran kondisi industri sawit Indonesia pada awal tahun 2026, di mana berbagai faktor saling memengaruhi kinerja sektor tersebut.






