Sebuah fosil tanaman ganja (Cannabis) berusia 56 juta tahun yang ditemukan di Jerman mengguncang dunia botani dan mengubah pemahaman tentang asal-usul tanaman tersebut. Temuan ini, yang berasal dari periode Eosen Awal, jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya dan menunjukkan bahwa genus Cannabis mungkin tidak hanya berasal dari dataran tinggi Asia.
Sebelumnya, para peneliti meyakini bahwa tanaman ganja pertama kali muncul di Dataran Tinggi Tibet, China bagian barat, sekitar 20 juta tahun lalu. Namun, identifikasi fosil daun purba yang ditemukan di wilayah Saxony-Anhalt, Jerman, membantah teori tersebut. Fosil yang terawetkan dalam lapisan lumpur prasejarah ini diperkirakan berusia antara 56 hingga 48 juta tahun.
Penemuan ini secara signifikan memperpanjang usia genus Cannabis, melampaui perkiraan sebelumnya yang menyebutkan evolusi genus tersebut terjadi sekitar 28 juta tahun silam.
Kemiripan Mencolok dengan Ganja Modern
Ludwig Luthardt dari Museum Sejarah Alam di Berlin mengungkapkan kekagumannya atas kesamaan fosil tersebut dengan tanaman ganja masa kini. “Kemiripan morfologis dengan daun ganja modern sangat mencolok,” ujar Luthardt kepada IFLScience. “Tidak hanya morfologi keseluruhan atau garis luar daunnya yang hampir identik, tetapi juga pola pertulangan daunnya.”
Meskipun secara visual fosil ini hampir tidak berbeda dengan spesies ganja modern seperti Cannabis sativa atau Cannabis indica, fosil ini mewakili kerabat purba yang telah lama punah. Perlu dicatat bahwa tanaman ganja yang dikenal saat ini merupakan hasil dari seleksi buatan manusia selama ribuan tahun sejak Zaman Batu.
Misteri Kandungan Psikoaktif
Salah satu pertanyaan krusial yang muncul dari temuan ini adalah mengenai keberadaan senyawa psikoaktif seperti THC pada tanaman purba tersebut. Pada tanaman ganja modern, THC terkandung dalam struktur kecil mirip rambut yang disebut trikoma. Namun, struktur ini tidak terlihat pada fosil yang ditemukan.
“Kami tidak dapat mengesampingkan bahwa trikoma tersebut awalnya ada, tetapi struktur epidermal daun telah hilang dalam fosil,” jelas Luthardt. Ketiadaan bukti visual trikoma pada fosil ini menyisakan misteri apakah tanaman purba ini memiliki efek psikoaktif yang sama dengan ganja modern.
Menantang Teori Asal-usul di Himalaya
Selain usia, lokasi penemuan fosil di Jerman juga menantang teori bahwa ganja berevolusi di pegunungan Himalaya. Temuan ini mengindikasikan bahwa genus Cannabis memiliki spektrum adaptasi ekologis yang jauh lebih luas dan mungkin tidak terbatas pada lingkungan pegunungan saja.
Luthardt menambahkan bahwa mengingat keluarga Cannabaceae, yang merupakan kerabat ganja, sudah ada sejak periode Kapur (sekitar 90 juta tahun lalu), para peneliti berpotensi menemukan fosil yang lebih tua di masa depan. “Kapan dan di mana genus Cannabis berasal masih belum diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan besar tanaman ini bukan eksklusif tanaman pegunungan, melainkan memiliki spektrum adaptasi ekologis yang lebih luas,” pungkas Luthardt.
Penemuan fosil ganja tertua di dunia ini menjadi bukti nyata bahwa sejarah botani Bumi masih menyimpan banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap melalui ketelitian ilmiah dan kemajuan teknologi.






