SURABAYA, Jurnalisme Indonesia – Praktik joki dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 mulai terkuak di sejumlah perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa (21/4/2026). Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT) melaporkan temuan modus kecurangan yang serupa, mulai dari pemalsuan dokumen hingga penggunaan identitas ganda.
Unesa Berhasil Mengamankan Terduga Joki
Di Unesa, tim panitia berhasil mengamankan satu orang yang diduga sebagai joki saat pelaksanaan ujian sesi pertama, yang berlangsung dari pukul 06.45 hingga 10.30 WIB. Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Martadi, menyatakan bahwa identifikasi dan penindakan dilakukan tanpa mengganggu kelancaran ujian peserta lain.
“Melalui sistem berlapis, panitia menemukan indikasi adanya praktik perjokian yang melibatkan pemalsuan dokumen. Peserta yang bersangkutan tetap mengikuti ujian hingga selesai sebelum kemudian diamankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Martadi, Selasa, dilansir dari Kompas.com.
Pemeriksaan awal mengungkap dugaan pemalsuan dokumen kependudukan dan ijazah. Verifikasi ke sekolah asal peserta menunjukkan bahwa ijazah yang digunakan tidak asli dan dokumen kependudukan diduga palsu. Kasus ini dilaporkan melibatkan peserta yang mendaftar pada program studi kedokteran, yang dikenal memiliki persaingan sangat tinggi.
“Kami sudah berkoordinasi dengan panitia pusat dan aparat kepolisian untuk menindaklanjuti temuan tersebut,” tegas Martadi.
UPNVJT dan Unair Deteksi Modus Serupa
Dugaan praktik perjokian juga terungkap di UPNVJT. Pengawas ujian mencurigai gelagat tidak biasa dari seorang peserta di Gedung Research Center. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan ketidaksesuaian antara identitas yang tertera di data resmi dengan peserta yang hadir, meskipun foto pada data resmi tampak sama.
“Sementara kecurangan itu kami catat dalam berita acara dan sudah kami laporkan ke pusat. Saat ini masih kami proses secara internal,” kata Staf Humas UPNVJT, Nizwan Amin, Selasa, dilansir dari Antara. Peserta yang diamankan di UPNVJT diketahui memilih program studi kedokteran di Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Jember, yang juga memiliki tingkat persaingan tinggi.
Sementara itu, panitia pusat UTBK 2026 menginformasikan adanya keterkaitan data peserta dengan lokasi ujian di Unair. Namun, pihak Unair mengklarifikasi bahwa peserta yang dimaksud tidak hadir di lokasi mereka.
“Fotonya terindikasi sama dengan peserta tahun 2025, sehingga sudah kami waspadai. Namun, yang bersangkutan tidak hadir di lokasi ujian di Unair,” ujar Ketua Pusat Hubungan Masyarakat dan Protokol (PHMP) Unair, Pulung Siswantara.
Pulung menambahkan bahwa pelaksanaan UTBK di Unair secara umum berjalan lancar tanpa temuan pelanggaran lain. “Secara keseluruhan berjalan lancar sesuai aturan. Tidak ada pelanggaran lain, hanya yang kami waspadai dari data panitia pusat tersebut,” tambahnya.
Unair Identifikasi 79 Peserta Anomali
Dalam pelaksanaan UTBK 2026 di hari pertama, Selasa, Unair juga mendeteksi 79 nama peserta yang dianggap anomali atau mencurigakan.
Koordinator Pelaksana UTBK Unair 2026, I Made Narsa, menjelaskan bahwa Unair memiliki data historis peserta UTBK dari tahun-tahun sebelumnya, yang memudahkan deteksi nama-nama mencurigakan.
Pada hari dan sesi pertama UTBK di Unair, sebanyak 843 peserta mengikuti ujian di kampus A, B, dan C, sementara 37 lainnya tidak hadir. Made Narsa memastikan bahwa meskipun ada kecurigaan, pelaksanaan ujian berjalan lancar.
“Daftar nama yang dicurigai di Unair 79 peserta (anomali data) dialokasikan di hari ini semua. Beberapa tidak datang tetapi mayoritas hadir. Hasil pantauan di lapangan aman,” kata Made, Selasa, dilansir dari Kompas.com.
Made Narsa memaparkan modus umum yang digunakan joki adalah dengan menggunakan identitas lain, lalu di tahun berikutnya kembali mendaftar dengan nama berbeda namun menggunakan foto diri mereka sendiri. Mengenai 79 peserta anomali, ia menjelaskan bahwa data mereka terlihat tidak biasa.
“Misalnya ada peserta domisili dari Indonesia Barat. Lalu dia memilih universitas di Jawa Tengah. Tetapi dia ikut tes di luar Jawa. Kan gini, tingkat ketetapan kualitas pengawasan di masing-masing pusat UTBK kan beda-beda,” jelasnya.
Ia menambahkan, hal tersebut bisa menimbulkan kecurigaan, karena peserta mungkin beranggapan bahwa pengawasan di pusat ujian yang dipilihnya lebih longgar. “Dari segi data itu kan aneh,” pungkasnya.






