Makna “Kartini modern” kini telah bergeser dari sekadar penekanan pada pendidikan dasar menjadi kemampuan yang lebih mendalam untuk memahami diri dan mengelola emosi. Perempuan masa kini dihadapkan pada berbagai tekanan baru, mulai dari standar sosial yang kian meninggi hingga pengaruh media sosial yang kian dominan.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menjelaskan bahwa membentuk perempuan yang tangguh membutuhkan pendekatan yang lebih dalam secara psikologis. Hal ini disampaikannya dalam wawancara dengan Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).
Kartini Modern sebagai Manifestasi Resiliensi
Danti memaparkan bahwa dalam dunia psikologi, ketangguhan dikenal dengan istilah resiliensi. Ia menekankan bahwa resiliensi bukanlah berarti seorang anak perempuan harus selalu terlihat kuat atau dilarang mengekspresikan kesedihan.
“Seorang anak perempuan yang tangguh memiliki tiga pilar utama, yaitu efikasi diri, regulasi emosi, dan otonomi,” ujar Danti. Efikasi diri merujuk pada keyakinan anak bahwa ia mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah. Sementara itu, regulasi emosi membekali anak dengan kemampuan untuk memahami dan mengelola perasaan negatif tanpa terperosok terlalu lama. Otonomi, di sisi lain, membantu anak mengembangkan pemikiran yang mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya.
[video.1]Bahaya Pola Asuh yang Menuntut Kepatuhan Mutlak
[img.2]
Danti mengingatkan bahwa pola asuh yang menuntut kepatuhan tanpa pertanyaan dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang signifikan. Anak perempuan yang terbiasa “patuh tanpa bertanya” berisiko memiliki pola pikir yang kaku.
Mereka cenderung menganggap otoritas sebagai satu-satunya sumber kebenaran, sebuah kondisi yang dapat memicu kesulitan dalam proses pengambilan keputusan saat dewasa. “Mereka bisa takut mengambil risiko dan sulit berkata tidak, bahkan berisiko terjebak dalam hubungan yang tidak sehat,” jelas Danti. Lebih lanjut, harga diri anak juga dapat menjadi bergantung pada penilaian orang lain.
Membangun Percaya Diri Tanpa Bergantung pada Validasi Eksternal
Menurut Danti, kunci untuk membentuk karakter Kartini modern adalah dengan mengalihkan fokus orang tua dari sekadar hasil akhir menjadi proses yang dilalui anak. Orang tua disarankan untuk lebih mengapresiasi usaha yang telah dilakukan anak, bukan hanya pencapaiannya.
“Alih-alih mengatakan ‘kamu pintar’, lebih baik mengatakan bahwa kita bangga pada usaha yang dia lakukan,” ujarnya. Pendekatan ini bertujuan untuk membantu anak mengembangkan pola pikir berkembang atau growth mindset. Danti juga menekankan pentingnya menormalisasi kegagalan sebagai bagian inheren dari proses belajar. Anak perlu diajak untuk melihat kesalahan sebagai peluang untuk belajar, bukan sebagai sebuah kegagalan total.
Tanda-tanda Anak Mulai Kehilangan Kepercayaan Diri
Orang tua dituntut untuk peka terhadap perubahan perilaku pada anak, yang sering kali muncul secara halus. Salah satu indikasi yang dapat diamati adalah kecenderungan anak untuk menyenangkan orang lain secara berlebihan. Anak juga bisa menunjukkan perfeksionisme yang ekstrem dan rasa takut untuk mencoba hal-hal baru.
Bahasa tubuh yang menunjukkan sikap menarik diri, seperti menghindari kontak mata atau berbicara dengan suara pelan, juga merupakan sinyal penting. Selain itu, anak mungkin terus-menerus memikirkan kesalahan kecil yang pernah terjadi di masa lalu. Menurut Danti, tanda-tanda ini tidak boleh diabaikan karena berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis anak dalam jangka panjang.
Melatih Keberanian Sejak Dini Melalui Langkah Sederhana di Rumah
Danti menegaskan bahwa keberanian bukanlah sebuah sifat bawaan, melainkan sebuah kemampuan yang dapat dilatih. Orang tua dapat memulai dari hal-hal sederhana, seperti memberikan anak pilihan dalam keputusan sehari-hari.
Anak juga perlu dilibatkan dalam diskusi keluarga agar terbiasa menyampaikan pendapat mereka. Memberikan tanggung jawab kecil juga dapat membantu anak untuk belajar mandiri. “Ketika anak berani berkata tidak pada hal personal, penting bagi orangtua untuk menghargai batasan tersebut,” kata Danti. Langkah ini menjadi dasar penting agar anak mampu menetapkan batasan diri di masa depan.
Kartini Modern Membutuhkan Kompas, Bukan Sekadar Sayap
Danti menegaskan bahwa mendidik anak perempuan di era modern tidak hanya sebatas memberikan kebebasan. Anak juga perlu dibekali dengan nilai-nilai dan arah yang jelas agar mampu mengambil keputusan dengan bijak.
“Mendidik Kartini modern berarti memberi mereka sayap untuk terbang, tetapi juga kompas agar tahu ke mana harus melangkah,” ujarnya. Pendekatan ini dinilai krusial agar perempuan masa kini tidak hanya menjadi pribadi yang kuat, tetapi juga memiliki kesadaran diri yang mendalam. Konsep Kartini modern menekankan pentingnya keseimbangan antara keberanian, kemandirian, dan kesadaran diri.
Peran orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk anak perempuan yang tidak hanya tangguh, tetapi juga percaya diri. Dengan menerapkan pendekatan yang tepat, semangat Kartini dapat terus relevan dan hidup dalam menghadapi tantangan zaman modern.






